Motion
Mendulang Prestasi di Stand Up Comedy
Komunitas ini terbentuk sejak Juni 2012 lalu dan kini anggotanya sudah puluhan baik komika maupun penggemar.
Penulis: Thom Limahekin |
STAND UP Comedy atau pelawak tunggal memang sedang menjadi trend tontongan dan aktivitas waktu luang kawula muda, termasuk di Tanjungpinang.
Mereka pun sudah membentuk komunitas tersendiri dengan nama Stand Up Comedy Tanjungpinang.
Komunitas ini terbentuk sejak Juni 2012 lalu dan kini anggotanya sudah puluhan baik komika maupun penggemar.
"Awalnya hanya sekitar 7-8 orang. Kini, jumlahnya mencapai 50 orang baik komika maupun penggemar," ungkap Wisnu Pratama, Ketua Stand Up Comedy Tanjungpinang kepada Tribun, belum lama ini.
Komunitas inipun sudah menggelar banyak kegiatan positif. Wisnu dan kawan-kawan pernah menggelar acara 'Goes to School', dengan datang ke sejumlah sekolah di Tanjungpinang.
Mereka juga selalu ambil bagian dalam kompetisi pelawak tunggal baik di Tanjungpinang, Tanjunguban, maupun Batam.
"Kami selalu tampil sebagai juara I pada kompetisi di Batam selama tiga tahun berturut-turut. Juara I kompetisi di Tanjunguban pun milik kami,"tambah Wisnu.
Semua prestasi ini lahir dari semangat untuk belajar dari komika-komika senior dengan mengundang mereka ke Tanjungpinang. Sederet komika nasional yang pernah diundang yakni Ari Kriting, G Pamungkas, Lolo dan lainnya.
Dalam waktu dekat Wisnu dan kawan-kawan akan menghadirkan komika Kompas TV di hotel Aston Tanjungpinang.
Mereka adalah Indra Frimawan, Rahmet dan Rigen, juara I, II dan III stand up comedy gelaran Kompas TV.
"Acaranya digelar pada 20 Mei nanti. Harga satu tiket Rp 50 ribu dan dua tiket Rp 60 ribu," ungkap Wisnu.
Berkat latihan dan semangat belajar, para komika jebolan Stand Up Comedy Tanjungpinang akhirnya bertalenta. Mereka pun selalu diminta untuk mengisi acara baik yang diadakan oleh Pemko Tanjungpinang, Pemprov Kepri maupun perusahaan swasta. (*)
Rehearsal, Open Mike, dan Kompetisi
Generasi milenial di Tanjungpinang begitu menggandrungi pelawak tunggal. Ini terlihat dari jumlah komika dan penggemarnya yang selalu bertambah. Kebanyakan adalah pelahar SMP hingga mahasiswa.
"Mereka adalah pelajar SMP, SMA dan mahasiswa. Jumlah sekitar 50 orang lebih," ungkap Agung Dame, wakil ketua Stand Up komedi Tanjungpinang.
Para komika dan penggemarnya ini selalu berkumpul bersama di home base Sei Jang setiap Rabu malam. Saat bertemu, ada istilah 'rehearsal' atau kegiatan diskusi bersama untuk membahas topik dan membagi pengalaman.
Lalu mereka juga mulai belajar tampil di Oasis Kafe, jalan Kuantan, setiap Jumat malam.
"Pada saat ini, setiap komika bisa memainkan 'open mike' atau ajang untuk paparkan materi yang akan kami bawa," terang Agung.
Nah, setelah itu baru setiap komika menunjukkan 'perform' atau tampil pada suatu kompetisi dan acara resmi.
"Siapa saja bisa masuk dalam komunitas Stand Up Comedy Tanjungpinang," ajak Agung.
Syarat yang ditawarkan pun begitu sederhana. Calon komika diminta datang ke home base dan melihat proses, melakukan penyesuaian dan diarahkan untuk ikut rehearsal dan open mike sebelum perform. (tom)
Jadi Corong Generasi Alai
Komunitas Stand Up Comedy Tanjungpinang tidak luput perhatian dari kepala Diskominfo Kepri, Guntur Sakti.
Bagi Guntur, anggota pelawak tunggal ini adalah generasi Y dan Z atau kumpulan anak-anak alai.
"Pemerintah tidak bisa hanya beri perhatian pada generasi X lalu jauhi anak-anak alai ini. Pemerintah harus beradaptasi dengan mereka," kata Guntur.
Atas alasan itu, Guntur pun bertekad membangun partnership dengan anggota Stand Up Comedy Tanjungpinang.
Dia yakin, komunitas ini akan menjadi corong dalam menyampaikan pesan-pesan yang bisa diterima oleh anak-anak alai lainnya.
"Anak-anak alai pasti punya android. Karena itu, kalian harus ngevlog dan buat you tube sehingga anak-anak alai lainnya bisa terima pesan kalian," ungkap Guntur kepada para komika jebolan Stand Up Comedy Tanjungpinang, belum lama ini.
Kadis Kominfo Kepri itu meyakini, anak-anak alai harus didekati pemerintah melalui cara mereka.
Selagi pemerintah selalu membuat acara yang bersifat formal maka acara itu tidak disukai oleh orang-orang alai. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/motion_20170419_113611.jpg)