Hangout

Merasakan Damainya Little Bali di Way Kanan

Bali Sadhar ini terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Bali Sadhar Utara, Bali Sadhar Tengah, dan Bali Sadhar Selatan.

TRIBUNBATAM/Istimewa
Hangout 

BALI memang satu pesona wisata dunia yang sudah sangat termasyur. Kini, banyak daerah yang mencoba mengangkat pariwisata mereka dengan mengadopsi nuansa Bali. Satu di antaranya adalah Bali Sadhar yang ada di Way Kanan, Lampung.

Travel blogger Batam, Dian Radiata, telah mengunjungi tempat ini pada Minggu (23/4/2017) dan berikut reportasenya.

Penjor-penjor bekas perayaan Galungan masih terlihat menghiasi ruas jalan utama, ketika mobil yang kami tumpangi memasuki Bali Sadhar, sebuah desa di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung.

Suasananya menggiring memori pada suatu tempat berjuluk Pulau Dewata. Suasana yang teramat khas. Nuansa Pulau Dewata. Nuansa ini memang langsung terasa di Desa Bali Sadhar yang dihuni para transmigran dari Bali. Mereka mengungsi ke Lampung pasca letusan Gunung Agung.

Setelah puluhan tahun, akhirnya mereka memilih untuk menetap di Lampung. Berada di sini sejenak membuat saya lupa, bahwa saya masih berada di Lampung, bukan di Bali.

Bali Sadhar ini terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Bali Sadhar Utara, Bali Sadhar Tengah, dan Bali Sadhar Selatan. Masing-masing wilayah dipimpin kepala kampung. Bali Sadhar ini bukanlah satu-satunya perkampungan Bali yang ada di Lampung, bahkan di Way Kanan. Selain Bali Sadhar, ada juga kampung Bali di Sopoyono, Kecamatan Negeri Agung, Kabupaten Way Kanan.

Ramik Ragom sepertinya bukan sekadar semboyan bagi Kabupayen Way Kanan. Berbagai suku, agama, dan budaya hidup rukun berdampingan di kabupaten ini. Salah satunya adalah komunitas Bali di Bali Sadhar ini. Tak hanya bangunan berarsitektur Bali yang bisa dilihat di sini, tapi juga kehidupan sehari-hari mereka yang masih teguh memegang adat dan budaya warisan nenek moyang.

Pura Tangkas dan Filosofi Hidup
Kami berhenti di depan sebuah pura yang berukuran cukup besar. Pura Tangkas Kori Agung namanya. Seorang lelaki paruh baya berkain sarung dan mengenakan udheng di kepalanya menyambut kami di depan pura.

I Ketut Puput, begitu beliau memperkenalkan diri. Pak Puput pun mengajak kami melihat-lihat ke dalam Pura Tangkas.

Pura Tangkas Kori Agung ini berdiri pada tanggal 10 Juli 1969. Pura ini merupakan pura keluarga yang hanya diperuntukkan sebagai tempat beribadah bagi keturunan Tangkas Kori Agung yang berpusat di Klungkung, Bali.

Halaman
123
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved