Warga Bali Tumpah Ruah, Ribuan Lilin Buat Ahok Benderang. Ini Kehebohannya!

Warga Bali Tumpah Ruah, Ribuan Lilin Buat Ahok Benderang. Ini Kehebohannya!

Warga Bali Tumpah Ruah, Ribuan Lilin Buat Ahok Benderang. Ini Kehebohannya!
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Ribuan warga mengenakan pakaian hitam berkumpul dan menyalakan lilin di Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Kamis (11/5/2017) malam. Warga melakukan aksi solidaritas untuk Ahok yang dipenjara dua tahun karena divonis menista agama. 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Tidak seperti biasanya, bagian timur Lapangan Renon tadi malam terlihat begitu bercahaya.

Bukan karena sedang bulan Purnama, melainkan dari ribuan lilin yang memancarkan cahayanya.

Baca: Mengharukan! Kisah Bule Cantik Jadi Mualaf Sebelum Nikahi Pemuda Ini, Bagaimana Keluarga di Italia?

Baca: Terungkap! Kisah 5 Pedangdut Koplo Jadi Artis Termahal, Pernah Dibayar Rp 100 Ribu per 12 Jam

Itulah cahaya lilin yang dikirimkan rakyat Bali dalam aksi solidaritas kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang divonis dua tahun penjara.

Ribuan lilin dibawa oleh rakyat Bali dari berbagai golongan.

Mulai dari anak muda, dewasa, hingga orangtua yang menghangatkan hembusan angin malam di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Shandi, Renon, Denpasar.

Teriakan bebaskan Ahok pun menggema lantang.

Rakyat Bali tumpah ruah dan menyalakan lilin untuk menyuarakan sikapnya terkait putusan hakim yang dianggap kontroversial.

“Bebaskan Ahok, bebaskan Ahok, bebaskan Ahok. Bubarkan FPI, bubarkan FPI, bubarkan FPI,” teriak peserta aksi solidaritas "Lilin untuk Ahok".

Dengan memakai baju berwarna hitam, seorang relawan Ahok, Made Yunita (24) mengatakan, pakaian hitam mencerminkan telah matinya hukum di Indonesia.

Hakim dinilai telah memutuskan hukuman yang keliru bagi Ahok.

Ia pun terlihat menjaga lilinnya dengan menutupinnya dengan tangan.

Menurutnya, dengan api lilin yang selalu hidup maka akan selalu ada harapan buat Ahok.

“Saya ga mau api lilin saya mati, ga mau nanti semangat dari Pak Ahok mati. Kita semua dukung Pak Ahok dan pasti selalu ada cahaya dalam kegelapan Pak Ahok,” ujarnya.

Seorang relawan Ahok lainnya, Dian Lestari (38) mengatakan, ikut aksi untuk mendukung Ahok secara moril dan aksi agar kebhinekaan terjaga.

“Kasihan Pak Ahok, kita berdoa agar Pak Ahok segera dibebaskan,” ujarnya.

Ribuan lilin menyala, aksi solidaritas itu pun dimulai dengan memanjatkan doa, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ribuan warga yang tetap memertahankan lilinnya agar tetap menyala, ikut bernyanyi.

Meski angin sesekali berhembus kencang, ribuan warga itu berusaha berusaha terus mempertahankan nyala api pada lilin dengan mendekatkan jemari tangan mereka.

Suasana sedih dan duka terasa begitu kuat saat lilin menyala di antara lantunan lagu Gugur Bunga.

Sebagaimana aksi solidaritas serupa yang digelar di sejumlah daerah di luar Bali, lagu Gugur Bunga dan ribuan lilin yang menyala itu terasa betul sebuah keprihatinan warga atas "matinya" keadilan di Tanah Air.

"Kita di sini ingin mengajak teman-teman di Bali, untuk mengingat Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika, supaya rasa berbangsa, dan bersahabat kita semakin kuat," kata salah satu koordinator acara, Aylin Kanginnadhi, kepada awak media.

Terlihat berbagai macam atribut dibawa oleh peserta aksi. Antara lain spanduk bertuliskan "Save Ahok", "Ini bukan Politik,
Ini Solidaritas atas Kematian Keadilan dan Kemenangan Sikap Intoleran", dan berbagai macam atribut berisikan tulisan dukungan kepada Ahok, dan kecaman terhadap pihak-pihak intoleran.

Aksi ini juga diisi dengan pembacaan sebuah puisi oleh Wimpie Pangkahila, seorang aktivis.

Puisi berjudul "Kepada Ahok", itu seakan mengajak semua pemimpin-pemimpin agar mencontoh ketauladanan cara kepemimpinan
Ahok, baik dalam melayani warganya, dan dalam memberantas korupsi, dan para preman perusak negeri.

"Siapakah kau sebenarnya? Aku tak pernah mengenalmu siapa. Yang aku tahu kau adalah Gubernur Jakarta, yang setiap pagi menerima warga dengan segala masalahnya. Yang sangat menentang korupsi, dan segala bentuk kejahatan, ketidakadilan, dan ketidakjujuran. Yang berusaha menyingkirkan semua preman, yang membuat warga takut karena pemerasan," ucap Wimpie saat membacakan puisinya.

Menariknya, meski aksi sudah dinyatakan bubar oleh panitia, namun ribuan warga yang masih membawa lilin, dan berbagai atribut masih tampak berkumpul di areal timur Lapangan Renon.

Mereka masih berteriak dan bernyanyi, menyuarakan hati nuarani mereka tehadap matinya keadilan di Indonesia.

"Saya datang jauh-jauh dari Jimbaran untuk bela Ahok. Pemimpin seperti Ahok harus jadi contoh. Saya prihatin dengan keadaan indonesia sekarang. Makanya saya tidak ingin hanya sebentar," kata Made Asih, seorang warga Jimbaran yang datang bersama rekan-rekannya. (*)

Editor:
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved