Benarkah Mi Instan Bikin Gemuk? Simak Ulasannya Berikut Ini

Meskipun mi instan mayoritas terdiri atas karbohidrat, namun makanan ini masih dianggap sebagai jajanan atau makanan selingan belaka.

BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Mi instan termasuk salah satu jajanan kegemaran orang Indonesia. Produk ini memang memiliki kelebihan karena cara penyajian yang praktis.

Cukup dimasak atau kadang hanya direndam air panas sekitar tiga menit, tambahkan bumbu siap pakai, mi rebus atau mi goreng pun siap dinikmati.

Meskipun mi instan mayoritas terdiri atas karbohidrat, namun makanan ini masih dianggap sebagai jajanan atau makanan selingan belaka.

"Iya, karena orang Indonesia kan kalau belum ketemu nasi ya namanya belum makan. Baru camilan saja," ujar dr Niken Puruhita, Med Sc, SpGK.

Padahal, sebungkus mi instan mengandung kalori sebesar 350 Kkal, demikian menurut dokter yang bertugas di SMC RS Telogorejo Semarang, RSUP Kariadi, serta dosen pada Fakultas Kedokteran Undip ini.

Baca: BEJAT. Bocah Ini Dicabuli Tukang Ojek di Atas Motor di Depan Ibunya

Baca: ALAMAK. Dalam Setahun Rumah Ini 48 Kali Ditabrak Mobil

Baca: Ropandi Diduga Menyayat Sendiri Lehernya, Begini Hasil Autopsinya

Sebagai perbandingan, jumlah tersebut sama dengan tujuh buah pisang ukuran sedang, atau sekitar empat lembar roti tawar kupas.

Jika dibandingkan dengan nasi, 350 kalori berarti 5-6 sendok makan nasi plus sayur dan lauknya. Tidak mengherankan jika terlalu sering mengonsumsi mi instan bisa bikin gemuk, ya kan?

Dalam satu hari, orang dewasa yang aktif bekerja rata-rata membutuhkan kalori sebanyak 1.500. Dengan demikian jika setelah mengonsumsi mi instan mereka masih makan nasi beserta lauk pauknya, belum lagi snack atau camilan lain, maka kalori pun akan menumpuk.

Dilihat dari komposisinya, penyusun utama mi instan berasal dari tepung yang sangat mudah diserap oleh tubuh. Jika kalori yang menumpuk berlebihan, selanjutnya oleh tubuh akan diproses menjadi lemak. Maka tak heran jika mi instan bisa memicu kegemukan.

Dari sisi banyaknya kalori saja, apalagi jika tidak diimbangi kegiatan fisik yang cukup, sebaiknya memang menghindari bahan makanan ini. Bagaimana pun makanan yang segar tetap lebih bagus. (*)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved