Terpaksa Subuh-subuh Engkol Mesin Genset, Listrik 24 Jam Menyala Isapan Jempol

Terpaksa Subuh-subuh Engkol Mesin Genset, Listrik 24 Jam Menyala Isapan Jempol

Terpaksa Subuh-subuh Engkol Mesin Genset, Listrik 24 Jam Menyala Isapan Jempol
TRIBUNBATAM/AMINNUDIN
Ilustrasi 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS-‎Realisasi listrik 24 jam di Palmatak menjadi sorotan masyarakat. Optimalisasi listrik 24 jam yang sebelumnya turut dihadiri oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas, Abdul Haris akhir bulan Mei 2017 sebelum bulan Ramadan itu menjadi sorotan karenya nyatanya pemadaman bergilir masih terjadi di sana.

Baca: Heboh! Bocah 6 Tahun Tewas Dibakar! Polsek Selidiki Gara-gara Luka Bakarnya Begini!

Baca: Mengerikan! Mobil Bupati Tabrakan dengan Motor, Satu Orang Tewas. Begini Kejadiannya!

Jasril JML, anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas ‎dapil Palmatak yang dihubungi Tribun mengatakan, pemadaman bergilir yang terjadi dikarenakan adanya kerusakan pada mesin pembangkit listrik di sana. Padamnya listrik ini pun, diakui politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga berimbas hingga ke rumahnya di Desa Payaklaman, Kecamatan Palmatak.

Tidak jarang, ia terpaksa harus menghidupkan mesin genset pada subuh hari untuk mendapatkan listrik ketika listrik dari PLN padam di rumahnya, terlebih saat bulan Ramadan ini.

"Terpaksa pakai genset. Kalau pas giliran padam, subuh-subuh engkol mesin sendiri. ‎Terkadang pakai lampu cangkok (lampu minyak tanah,red) sampai listrik PLN kembali menyala. Begitu juga dengan masyarakat yang tidak memiliki mesin genset. Masyarakat memang banyak yang lagi komplain. Mereka mengatakan, sudah diresmikan 24 jam, tetapi masih bergilir juga padamnya," ujarnya Selasa (6/6/2017).

‎Ia menjelaskan, padamnya listrik PLN di rumahnya biasa terjadi selama enam jam lamanya dari pukul enam petang hingga pukul 12 malam. Jasril pun sempat menanyakan dan mengkoordinasikan hal ini kepada PLN. Dari koordinasi tersebut, pihak PLN berkomitmen agar kerusakan pada komponen di mesin pembangkit akan selesai diperbaiki pada dua minggu ke depan.

"Itu saya tanyakan dua minggu sebelumnya, sebelum puasa. Tapi sekarang masih seperti ini kondisinya. Kalau di rumah saya, polanya dua malam hidup 24 jam, baru mati dari pukul enam hingga pukul 12 malam. Harapannya, kalau memang belum siap ya jangan dipaksakan. ‎Di satu sisi ini memang kebutuhan dasar masyarakat. Program yang lain-lain, mungkin bisa dikesampingkn terlebih dahulu lah," bebernya. (*)

Berita terkait baca Harian Tribun Batam edisi Rabu (7/6/2017)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved