Inspirasi
Hormati Mualaf Tionghoa, Masjid Ini Dinamakan Andre Al Hikmah. Kisahnya Mengharukan!
Benar-benar menginspirasi! Hormati Mualaf Tionghoa, Masjid Ini Dinamakan Andre Al Hikmah. Kisahnya Mengharukan!
BATAM. TRIBUNNEWS.COM-Umumnya nama masjid diambil dari bahasa Arab. Namun, sebuah masjid di Desa Wlahar Kulon, Patikraja, Kabupaten Banyumas lain dari biasa.
Baca: Terungkap! Inilah Jawaban di Balik Misteri Kebiasaan Presiden Soekarno Pakai Peci Miring!
Baca: Sangat Membantu! Inilah Tips Memesan Tiket Pesawat Mudik Last Minute. Pergi Rombongan Coba No. 5!
Masjid itu dinamakan unik, Andre Al Hikmah yang merupakan gabungan dua kata dari bahasa berbeda. Nama itu rupanya punya sisi sejarah, juga pesan mendalam bagi umat.
Penggagas masjid Andre Al Hikmah Yusuf Gunawan Santoso (62) mengatakan, nama tersebut adalah pemberian pengurus yayasan serta warga setempat yang berjuang membangun masjid itu. "Andre adalah nama seorang pemuda dari Semarang yang pernah belajar agama di sini," kata pria bernama asli Khoe Ting Ay tersebut, Kamis (8/6).
Diceritakan Gunawan, pada tahun 1997, Andre, seorang pemuda Tionghoa yang masih berumur 16 tahun datang ke Desa Wlahar Kulon untuk belajar agama Islam. Gunawan yang lebih dulu menjadi mualaf serta warga sekitar menyambut positif kedatangan Andre.
Andre memutuskan beberapa waktu tinggal di desa tersebut. Ia melebur dengan warga untuk mengikuti kegiatan zikir serta aktivitas keagamaan lain yang dipimpin Gunawan di Desa Wlahar Kulon.
Keyakinannya terhadap Islam semakin kuat. Andre akhirnya memantapkan diri untuk memeluk Islam dengan membaca dua kalimat sahadat. "Setelah belajar di sini, dia pulang ke Semarang untuk melanjutkan sekolah," katanya.
Baru sebulan Andre menjalankan syariat Islam, ia ditimpa petaka. Andre menjemput ajal dalam sebuah peristiwa kecelakaan lalu lintas.
Beberapa waktu kemudian, Gunawan bersama warga sedang menginisiasi pembangunan masjid di Desa Wlahar. Pembangunan dilaksanakan bertahap karena keterbatasan dana. Gunawan terkejut tetiba dihubungi seorang dari Kota Semarang, Gautama.
Gautama ternyata ayah kandung Andre yang saat itu masih beragama Budha.
Gautama mengaku sebelumnya ditemui mendiang putranya, Andre melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Andre berwasiat kepada ayahnya untuk membantu Gunawan.
"Setelah Pak Gautama tahu saya sedang berjuang untuk membangun masjid, dia kemudian membantu membiayai pembangunan masjid," katanya.
Gunawan menyebut, keluarga Gautama adalah penyumbang perorangan terbesar untuk pembangunan masjid itu. Keluarga Gautama pada akhirnya mengikuti jejak putra mereka untuk memeluk Islam dan berangkat haji ke Baitullah.
Setelah pembangunan masjid rampung pada tahun 2002, akhirnya tempat ibadah itu dinamakan Andre Al Hikmah atas kesepakatan segenap pengurus masjid dan masyarakat.
"Nama masjid ini untuk mengenang Andre sang pemuda mualaf yang pernah belajar agama Islam di sini dan menginspirasi umat," katanya.
Bangunan khas
Selain memiliki nama dan sejarah unik, masjid Andre Al Hikmah memiliki bentuk bangunan khas. Bangunan masjid bercat hijau itu memadukan arsitektur Jawa dan Tionghoa. Atap masjid berbentuk limas piramida terdiri dari tiga susun. Arsitektur itu sekilas mirip masjid Agung peninggalan Walisongo di Demak.
Bedanya, ujung atap pelana masjid itu dibuat melengkung ke atas menyerupai atap bangunan Tionghoa atau Kelenteng.
Menurut Gunawan, sentuhan arsitektur China pada masjid itu membawa pesan kerukunan dan toleransi terhadap kebinekaan ras atau suku dalam tubuh umat Islam. Ciri bangunan itu juga untuk mempermudah proses syiar Islam, terutama terhadap umat Tionghoa yang masih memegang tradisi bangunan.
"Jika masjidnya dibuat seperti umumnya, mungkin orang-orang Tionghoa nonmuslim enggan masuk. Dengan dibuat seperti ini, mereka akan tertarik mendekat dan mencari tahu soal Islam," katanya. (khoirul muzakki)