Nekaaaaaaat! Kesal Diremehkan Gara-gara Utang Rokok, Pria Ini Teror Bom ke Warung!

Nekaaaaaaat! Kesal Diremehkan Gara-gara Utang Rokok, Pria Ini Teror Bom ke Warung!

Nekaaaaaaat! Kesal Diremehkan Gara-gara Utang Rokok, Pria Ini Teror Bom ke Warung!
Tribunnewsbatam.com/Net
Ilustrasi

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, MALANG-Tim Gabungan Polda Jatim dan Polres Malang berhasil meringkus pelaku penyebar teror bom di desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Sabtu (10/6/2017).

Baca: Mengharukan! Ririn Ekawati Gendong Bayinya Saat Tabur Bunga di Makam Suami

Baca: Terungkap! Inilah 3 Keinginan Terakhir Julia Perez Sebelum Meninggal Dunia

Pelakunya, ternyata adalah MS (24), buruh tani yang juga tinggal di daerah yang sama.

Saat ditangkap, MS sama sekali tidak membela diri atau memberikan perlawanan kepada polisi.

Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung menjelaskan, tersangka pelaku teror bom di rumah Arwan Sarafitoto (54) pemilik toko sembako di desa Ganjaran kecamatan Gondanglegi kabupaten Malang dijerat dengan pasal berlapis.

Yakni tindak pidana terorisme pasal 7 UU nomor 15 tahun 2003 dan Pasal 368 KUHP tentang pemerasan.

"Pelaku untuk ancaman pidana UU terorisme bisa hukuman mati, dan untuk pemerasan terancam sembilan tahun penjara," kata Yade Setiawan Ujung, Minggu (11/6/2017).

Dijelaskan Yade Setiawan Ujung, dari hasil pemeriksaan MS mengakui telah mengirimkan sms yang isinya melakukan teror kepada korban.
MS juga mengakui telah meletakkan benda yg menyerupai bom di depan rumah korban.

"Semua teror itu diakui oleh pelaku yang telah kami tangkap tersebut dengan barang bukti Handphone Nokia Music Xpres 5130," ucap Yade Setiawan Ujung.

Lebih lanjut dikatakan Yade Setiawan Ujung, aksi teror yang dilakukan kepada korban dilandasi oleh rasa dendam. Dimana saat pelaku membeli rokok di warung atau toko sembako milik korban, pelaku kurang uang untuk membayar barang yang dibelinya sebesar Rp 5.000.

Korban pun terus menagih kekurangan uang pembayaran rokok tersebut. Bahkan, setiap ketemu dengan korban, pelaku merasa seolah-olah diremehkan gara-gara kejadian kekurangan uang pembelian barang tersebut.

"Jadi, teror tersebut tidak ada kaitan apapun dengan kegiatan terorisme. Tapi karena persoalan sepele dan berujung pada aksi teror yang membuat kegaduhan ditengah masyarakat pada bulan Ramadhan," tutur Yade Setiawan Ujung.(*)

Editor:
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved