Cahaya Ramadan
Mengapa Terjadi Penyesalan?
Mengapa terjadi penyesalan dan kekecewaan? Karena tidak semua harapan, keinginan dan cita-cita tercapai.
MENGAPA terjadi penyesalan dan kekecewaan? Karena tidak semua harapan, keinginan dan cita-cita tercapai. Padahal keinginan seseorang tak pernah mati, bahkan tumbuh setiap hari.
Makanya, makin banyak dan kian besar keinginan, makin besar juga potensi kecewa dan menyesal dalam hidup seseorang, mengingat tidak semua keinginan terwujud.
Meski tidak persis, hidup memang ada unsur gambling. Untung-untungan. Adu nasib. Sekalipun seseorang sudah berusaha, sebagaimana dalam permainan sepak bola atau kompetisi pilkada, tidak jaminan target kemenangan tercapai.
Rumus matematika itu tidak bisa diterapkan dalam kaidah kehidupan. Di sana banyak blind spot.
Kekecewaan dan penyesalan jika dikelola secara baik, secara rasional, dan emosional, akan menggumpal menjadi kekuatan dahsyat yang memotivasi seseorang membuat loncatan hidup (quantum leap).
Kekecewaan itu deposito mental sebagai pijakan meraih sukses di masa depan. Berbagai cerita sukses orang besar pasti hidupnya pernah mengalami kekecewaan yang amat dalam.
Di antara mereka ada yang pernah tidak naik kelas karena dianggap idiot dan bodoh oleh gurunya. Padahal gurunya saja yang salah, tidak mampu melihat dan menggali bakat luar biasa yang terpendam.
Ketika bakat itu tersalur, dia tumbuh menjadi orang besar karena prestasinya di atas rata-rata. Makanya muncul ungkapan klasik, kegagalan itu sukses yang tertunda.
Kegagalan dan kekecewaan itu amunisi membuat loncatan jauh ke depan. Kita boleh dan wajar menyesal ketika kalah dalam suatu kompetisi akbar, tetapi jangan memenjarakan tekad untuk bangkit dan maju.
Kalau membaca ulang perjalanan hidup yang pernah kita lewati, potret dan pelajaran yang sangat menarik adalah sewaktu belajar berdiri dan berjalan. Kita pernah mengalaminya, namun lupa.
Kita bisa melihat potret diri lewat anak-anak yang masih kecil. Coba amati, berapa kali anak terjatuh ketika belajar berjalan dan berlari.
Tetapi anak kecil selalu bangkit lagi dan lagi, meskipun kaki lecet terbentur benda keras atau badan jatuh karena kaki belum kuat menahan berat tubuh. Anak kecil tidak putus asa dan tidak mengenal malu ketika jatuh.
Juga mengapa anak kecil cepat pandai ketika belajar bahasa? Karena tidak malu salah ketika salah mengucapkan.
Semangat, spontanitas dan kelugasan itu cenderung menghilang ketika dewasa atau menjadi orangtua. Makanya orangtua sulit dan lama mempelajari bahasa asing, satu sebabnya karena kehilangan spontanitas dan takut salah.
Malu dan takut salah dalam belajar itu suatu kesalahan besar. Sepanjang tidak menyalahi hukum agama dan etika sosial, kita tidak perlu malu untuk selalu belajar.
Jangan takut salah dan mengakui kesalahan. Jangan pelit minta maaf kepada teman. Orang yang mau minta dan berterima kasih itu menunjukkan kebesaran dan ketulusan jiwanya. Seseorang tak akan jatuh harga dirinya karena minta maaf. Sebaliknya, justru mengundang respek dari orang lain.
Jika diingat-ingat dan dihitung, berapa banyak kita mengalami kekecewaan hidup. Mungkin terjadi saat memilih pasangan hidup, pekerjaan, tempat tinggal, mendidik anak, bisnis, pergaulan sosial, pilihan politik, dan lain sebagainya.
Berbagai ayat kitab suci juga memberikan isyarat dunia itu penuh tipuan dan keluh kesah. Makanya sebagian penduduk bumi lari ke agama untuk mencari pegangan yang menghibur dan menenangkan jiwa.
Tetapi banyak pula yang melihat kehidupan adalah panggung persaingan dan pertempuran. Sikap sadisme dan masochisme telah melekat dalam diri manusia. Sadisme memberikan rasa puas ketika bisa menaklukkan orang lain sampai tak berdaya. Sedangkan masochisme, semakin dirinya terluka kian muncul semangat dan gairah hidup.
Dua-duanya menempatkan panggung kehidupan sebagai ajang gladiator. To kill or to be killed (Membunuh atau terbunuh). Sekejam itukah realitas hidup? Tergantung siapa yang menjawab pertanyaan ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/komarudin-hidayat_20170606_170306.jpg)