CAHAYA RAMADAN

Siap Menerima Kritikan

Tujuan kritik seharusnya untuk perbaikan dan penguatan. Untuk dapat menerima kritik kita perlu membiasakan sifat lapang dada dan luas pandangan.

TRIBUN JATENG
Mutohharun Jinan 

TIDAK mudah menyikapi kritikan yang diarahkan kepada kita. Kritik pada dasarnya menunjukkan adanya kekurangan atau kelemahan.

Tujuan kritik seharusnya untuk perbaikan dan penguatan. Untuk dapat menerima kritik kita perlu membiasakan sifat lapang dada dan luas pandangan.

Itu adalah dua frase yang saling terkait dan saling melengkapi. Lapang dada adalah istilah untuk menunjukkan sikap terbuka, sikap menampung berbagai informasi dan nasihat, sikap tidak mudah tersinggung.

Sedangkan luas pandangan, mengandung pengertian keluasan ilmu pengetahuan, penguasaan banyak persoalan, berpengalaman, dan keluasan perspektif dan wawasan.

Setiap orang menghadapi masalah dalam hidupnya, terkadang terasa berat terkadang ringan secara silih berganti.

Begitu juga, setiap orang menjumpai saat-saat membahagiakan namun dalam waktu tidak lama berubah menjadi menyedihkan dan memberatkan. Dalam situasi apapun agaknya lapang dada mampu menjadi penyeimbang sehingga seseorang tidak terjerumus dalam kesombongan pada saat sedang begembira, dan tidak putus harapan pada saat sedang dilanda kesedihan.

Sikap lapang disinyalir dapat menjadikan pemiliknya sebagai calon penghuni surga. Sebagaimana kisah seorang pemuda Anshar yang lewat ketika Nabi Muhammad SAW dan sahabat sedang dalam satu majelis.

Lalu Nabi bersabda, telah datang seorang calon penghuni surga. Perkataan ini terulang tiga kali. Abdullah bin Amru bin Ash lalu mengikuti laki-laki Anshar tersebut selama tiga hari.

Tidak terlihat amalan ibadah istimewa yang dilakukan oleh lelaki Anshar ini. Rupanya, yang menjadikannya calon penghuni surga adalah sifat lapang dada.

Kata lelaki itu, "Amalku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Namun di dalam jiwaku sama sekali tidak pernah terbetik rasa ghisy (tidak tulus) terhadap seorang muslim pun, dan aku juga tidak pernah iri kepada seorang pun atas sebuah nikmat yang Allah karuniakan kepadanya." (HR. Ahmad)

Lapang dada juga sangat manjur untuk meredam sikap amarah tatkala ada orang yang sedang mengeritik atau melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Seorang pemimpin akan tampak kewibawaannya jika mampu menunjukkan sikap lapang dan luas pandangan pada saat kritik dari masyarakat menerpanya.

Dalam Alquran istilah lapang dada, secara simbolik digunakan Allah SWT untuk menunjuk orang-orang yang kepadanya Ia berkenan memberi petunjuk atau hidayah, terutama hidayah iman dan Islam.

Allah berfirman, ''Siapa-siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit'' (QS. Al-Anfal/6: 125).

Orang yang bersih hati dan lapang dada, seperti dikemukakan di atas, tak lain adalah orang-orang yang mampu menekan secara maksimal kecenderungan-kecenderungan buruk dalam dirinya, seperti rasa benci, dengki, iri hati, dan dendam kusumat.

Sebaliknya, ia juga mampu dan berhasil mengembangkan potensi-potensi baik dalam dirinya menjadi kualitas-kualitas moral nyata dan aktual dalam kehidupannya. (*)

*Mutohharun Jinan MAg
Dosen Pacasarjana Unmuh Surakarta

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved