CAHAYA RAMADAN

Silaturahmi Otentik

Mudik pada hari besar keagamaan memiliki makna dan nuansa berbeda dengan pulang kampung pada hari libur biasa.

TRIBUN JATENG
Mutohharun Jinan 

MENJELANG Idulfitri dan hari raya keagamaan pada umumnya, di Indonesia terdapat tradisi mudik. Tradisi kembali ke udik (kampung halaman), tempat seseorang dilahirkan dan tumbuh kembang pada masa kanak-kanak.

Mudik pada hari besar keagamaan memiliki makna dan nuansa berbeda dengan pulang kampung pada hari libur biasa, seperti liburan sekolah atau liburan kantor. Tradisi mudik terkait dengan ragam dimensi kehidupan, baik sosial, ekonomi, budaya, bahkan dimensi spiritualitas masyarakat.

Dalam bahasa agama, mudik erat berkaitan dengan silaturahmi, sebagai rangkaian proses membangun kembali jalinan persahabatan, cinta kasih, dan hubungan dengan orangtua, saudara, dan teman. Dalam masyarakat kita sekarang ada silaturahmi virtual dan silaturahmi fisikal.

Silaturahmi virtual adalah komunikasi yang dilakukan tidak dalam bentuk tatap muka langsung, akan tetapi interaksi melalui pemanfaatan terknologi berjejaring. Berbagai perangkat teknologi dan media sosial seolah-olah memutus jarak dan waktu sehingga seperti tidak ada perpisahan antaranggota keluarga meski tinggal berjauhan.

Silaturahmi fisikal, komunikasi antarsesama manusia melalui pertemuan secara fisik face to face. Mudik merupakan bagian dari silaturahmi fisikal.

Mudik masih menjadi dambaan setiap orang dan tetap menyimpan pesona yang tak tergantikan. Betapapun dalam kehidupan manusia modern saat ini tersedia perangkat teknologi tingggi yang memungkinkan berkomunikasi setiap detik.

Mengapa silaturahmi secara fisikal dalam tradisi mudik tetap memiliki daya tarik atau pesona? Pertama, barang kali sebabnya silaturahmi virtual dilakukan di tengah-tengah kesibukan. Kita menelepon orangtua di kampung sambil mengendarai mobil, sambil mengawasi para pegawai, sambil makan, dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Jadi, ada semacam ketidaktulusan dalam silaturahmi virtual. Lebih dari itu, komunikasi dilakukan karena terpaksa sehingga dianggap mengganggu kegiatan yang sedang kita lakukan.

Kita semua pernah mengalami hal semcam itu. Pada saat kita sedang serius mengerjakan suatu pekerjaan tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponsel. Kemudian, kita menerimanya secara tidak tulus atau setengah hati.

Kedua, silaturahmi fisikal memang tidak hilang dari kegiatan masyarakat modern. Tetapi banyak silaturahmi fisikal dilakukan hanya sebatas sampingan saja. Misalnya pada saat kita bertugas ke daerah lain, lalu kita mampir ke rumah teman atau saudara.

Memanfaatkan waktu dan mumpung ada kesempatan silaturahmi ke rumah teman. Silaturahmi sampingan semcam itu juga tidak jauh berbeda dengan silaturahmi virtual, yaitu dilakukan di tengah waktu terbatas dan padatnya kegiatan.

Silaturahmi sampingan yang tidak terjadwal masih menyisakan kesan adanya ketidaktulusan. Agaknya, mudik merupakan budaya yang memungkinkan terwujudnya silaturahmi otentik.

Silaturahmi yang mampu menampung segenap kerinduan dan meleburkan jarak ekonomi, sosial, dan spiritual. Mudik mampu menghadirkan semangat dan memompa daya hidup untuk menjalani aktivitas setahun berikutnya.

Silaturahmi fisik dalam tradisi mudik tidak bisa digantikan oleh teknologi. Silaturahmi tidak cukup secara virtual plus hanya kegiatan sampingan. Silaturahmi perlu dijadwalkan secara terencana serta menjadi rangkaian utama dari keseluruhan aktivitas pokok dalam kehidupan kita. (*)

*Dr Mutohharun Jinan Mag

Dosen Pacasarjana Unmuh Surakarta

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved