Hangout
Menguak Kisah di Balik Rumah Betak Suku Dayak
Desa Rantau Malam terletak paling ujung di salah satu hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat.
RUMAH Betang di Desa Rantau Malam, tampak usang. Warna rumah yang dibangun dari kayu itu terlihat kelabu. Namun, dibalik warnanya yang kusam tersebut, tersimpan cerita kebahagiaan kehidupan Suku Dayak Udamun, Kalimantan Barat.
Bagaimana kisah di balik Rumah Betang yang menjadi rumah tertua Suku Dayak Udamun tersebut? Seorang Travel Blogger dari Kepri, Bambang Saputra atau yang akrab disapa Bams Nektar, menyajikan reportasenya untuk Anda.
Desa Rantau Malam terletak paling ujung di salah satu hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat. Desa ini adalah desa terakhir yang biasanya digunakan oleh para pendaki gunung untuk mempersiapkan pendakian mereka ke Bukit Raya yang tingginya sekita 2.278 meter di atas permukaan laut (mdpl) Bukit Raya merupakan dataran tertinggi di tanah Borneo dalam wilayah Republik Indonesia.
Butuh tantangan dan waktu panjang untuk mencapai Desa Rantau Malam ini. Untuk sampai ke Desa Rantau Malam, dari Kota Pontianak harus naik bus Damri selama satu malam menuju Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi.
Kemudian, dari Nanga Pinoh, lanjut naik speedboat berukuran kecil dengan kapasitas enam orang menuju Nanga Serawai, sebuah kota kecamatan yang berada di tanjung daratan. Daratan ini dibentuk oleh kelokan Sungai Melawi, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Lama perjalanan sekitar 5-6 jam dengan jarak tempuh sekitar 200 km. Selama perjalanan, speedboat akan berhenti sekali di daerah Nanga Nua untuk makan siang. Asyiknya makan di sini, suasananya yang berbeda karena rumah makannya terapung di tepian Sungai Melawi.
Sesampainya di Nanga Serawai, kita harus bermalam dahulu di sini, karena tidak ada kelotok (perahu) yang berlayar sore atau malam hari ke Desa Rantau Malam. Keesokan paginya, dengan menggunakan kelotok berkapasitas 10-20 orang, perjalanan dilanjutkan ke Desa Rantau Malam.
Kelotok menyusuri aliran sungai bahkan tidak jarang harus menentang arus dengan medan berkelok-kelok. Perjalanan ini berlangsung kurang lebih 4-5 jam.
Desa Rantau Malam tepat terletak di pinggiran sungai dan didiami oleh Suku Dayak Udamun. Di desa ini terdapat sebuah rumah adat khas Suku Dayak Kalimantan yang disebut Rumah Betang. Rumah ini merupakan salah satu rumah adat Dayak tertua yang dihuni oleh suku Dayak Udamun.
Rumah Betang di Dusun Rantau Malam sudah berusia lebih dari 100 tahun. Tiang-tiang utamanya menggunakan kayu ulin, atau disebut juga dengan kayu bulian atau kayu besi (Eusiderroxylon zwageri).
Ini merupakan jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Karena kekuatan kayu ini sudah tidak diragukan lagi, kayu ulin ini dijadikan tiang utama Rumah Betang oleh suku Dayak Udamun.
Di depan Rumah Betang terdapat sebuah bangunan kecil terbuat dari kayu setinggi 1,5 meter dengan penyangga empat tiang. Bangunan ini dikenal dengan nama “Sandung”, tempat Suku Dayak Udamun menyimpan abu dari tulang-belulang nenek moyang mereka dan menjadi tempat peristirahatan terakhir.
Rumah Betang ini berbentuk panggung dengan ketinggian lantai sekitar kurang lebih dua meter. Untuk menaiki Rumah Betang, kita harus melalui tangga khas suku dayak yang terbuat dari sebatang pohon kayu. Batang ini kemudian dibentuk dengan pahatan menjadi sebatang tangga.
Di rumah ini, terbentang sebuah beranda memanjang dengan lebar sekitar 3 meter. Di sampingnya berjejer pintu-pintu kamar yang memanjang.
Menurut seorang tetua Suku Dayak Udamun, E. D. Otong, dahulunya Rumah Betang ini mempunyai 32 kamar. Orang tua kadangkala tidak rela anak-anak mereka pindah keluar dari Rumah Betang. Sebab, orang tua mengasihi dan menyayangi anak-anak serta cucu-cucu mereka.
Para orang tua ingin selalu berdekatan dengan mereka anak cucu mereka. Bahkan saat mendapatkan hewan hasil buruan dari hutan pun, daging hewan buruan itu selalu dibagi rata ke masing-masing pintu kamar dimana anak-anak mereka berdiam. (*)
Terus Ditinggalkan Penghuninya
SEIRING berjalannya waktu, kondisi Rumah Betang tidaklah berfungsi seperti sedia kala. Satu persatu penghuni kamar di Rumah Betang ini yang sudah hidup mandiri. Mereka mulai pindah keluar dari Rumah Betang.
Mereka membangun rumah baru lagi untuk keluarga masing-masing. Alhasil, dari 32 kamar yang ada, saat ini hanya 11 kamar yang masih utuh dan ditempati.
Menurut E.D. Otong, bisa jadi, di kemudian hari nanti, dari 11 kamar tersebut berkurang menjadi 7, lalu menjadi 3, dan menyusut lagi menjadi satu kamar, dan kemudian hilang. Ini terjadi siring berpulangnya orang tua yang mengasihi anak-anak mereka yang pernah tinggal dan mendapatkan pembagian daging hasil buruan di Rumah Betang.
Rumah Betang adalah wujud kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Tempat mereka mendidik menyiapkan anak-anak sebelum mereka mandiri dan siap untuk membangun dan tinggal di rumah mereka sendiri. (*)
Penulis:
Bambang Saputra
Pekerjaan
Pegawai dan Travel Blogger
Blog
bamsnektar.blogspot.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/hangout_20170907_112057.jpg)