Desa Mangkait di Anambas, Tak Ada PAUD Banyak Warganya Jadi Polisi-PNS! Inilah Rahasianya!
Desa Mangkait di Anambas, Tak Ada PAUD Banyak Warganya Jadi Polisi-PNS! Inilah Rahasianya!
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS-Anak-anak di Desa Mengkait Kecamatan Siantan Selatan sudah terbiasa bermain pasir dan air asin di laut.
Ketiadaan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Anak-Anak, menjadikan laut menjadi taman bermain mereka.
Baca: Heboh Rahasia Tusuk Konde Bu Tien Soeharto! Benarkah Pilot TNI AU Kena Tampar Paspampres Gegara Ini?
Baca: Heboh Uang SPP di SMAN 5 Batam Lebihi Perintah Gubernur Kepri, Komite Sekolah Blak-blakan!
Baca: Terungkap! Inilah Skandal Kelam Dunia Pramugari: Bercinta dengan Penumpang hingga Kode Mesum Pilot!
Baca: Terungkap! Sakit Ginjal Parah, Ini Alasan Bung Karno Tolak Bantuan Warga Jatim dan KKO Pasca G30S!
Baca: Unik! Pengadilan Ini Wajibkan Pasutri Lulus Ujian Jika Ingin Bercerai! Soal Ujiannya Bikin Ngakak!
Lokasi pulau yang hanya mencapai empat hektare, menjadi kendala yang harus dihadapi masyarakat desa untuk merealisasikan hadirnya pendidikan PAUD dan TK di desa mereka.
"Mayoritas anak-anak menjadikan laut sebagai taman bermain mereka. Di sana, belum ada fasilitas PAUD atau TK. Dan ini yang mereka sampaikan kepada kami," ujar anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas Mulyadi Minggu (1/10/2017).
Politisi Partai Hanura yang melakukan reses ke desa itu belum lama ini juga mendapat keluhan masyarakat akan air bersih. Sekitar empat ratus Kepala Keluarga di pulau itu masih harus menyebrang ke Pulau Temiang yang dapat ditempuh menggunakan kapal pompong selama 20 menit.
"Mereka masih menampung air. Dan ini mereka lakukan semenjak Anambas belum menjadi kabupaten. Terkadang, mereka menampung air ketika hujan turun," ungkapnya. Keluhan yang disampaikan kepadanya itu pun, akan ia coba untuk direalisasikan melalui APBD tahun anggaran 2018 mendatang.
Adapun untuk pemenuhan air bersih masyarakat, pemerintah telah mempersiapkan Detail Engineering Design untuk penyambungan pipa untuk menghubungkan antar pulau khususnya dari Pulau Temiang ke Desa Mengkait.
"Sementara, untuk pembangunan PAUD, masyarakat siap menghibahkan lahannya, meskipun lahan yang ada di sana terbatas," bebernya.
Pria yang akrab disapa Kan Kan ini mengatakan, meski di desa telah terdapat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), pelajar di desa itu terpaksa harus mengenyam pendidikan
di luar desa seperti ke Tarempa bahkan Tanjungpinang. Perjuangan mereka untuk mengenyam pendidikan pun, tidak mudah terlebih ketika cuaca laut mulai ekstrem.
Untuk sampai ke Tarempa, masyarakat desa harus menempuh perjalanan selama tiga jam menggunakan kapal kayu. Lama waktu tempuh ini, bisa dipangkas bila menggunakan kapal speed hingga satu jam, tentunya dengan konsekuensi biaya yang jauh dari kata terjangkau.
"Seperti berangkat kami reses itu, sudah dua kali kami coba namun cuaca kurang mengizinkan karena ombak di laut mencapai dua meter. Namun demikian, tidak sedikit anak Desa Mengkait yang kini sudah menjadi PNS, bahkan anggota Polri," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/bunda-paud-bintan_20170924_200918.jpg)