Teror Bom di Masjid Mesir
SADIS! Setelah Bom Meledak, Pelaku Teror Menembaki Jemaah yang Berlarian Dari Dalam Masjid
Selain meledakkan bom dan menembaki para jemaah, pelaku juga membakar sejumlah kendaraan di jalanan untuk memblokade kemungkinan ada serangan balasan.
TRIBUNBATAM.id, EL-ARISH - Aksi teror yang menyerang sebuah masjid saat ratusan umat sedang menyelanggarakan Salat Jumat di wilayah Sinai Utara, Mesir, menewaskan 235 jemaah.
Saat peristiwa itu terjadi, para jemaah sedang mendengar khutbah di masjid Al-Rawdah di Bir al-Abed,, dekat Kota El-Arish, Sinai Utara.
Sontak, suasana berubah menjadi panik dan kacau.
Ratusan orang lainnya kemudian berhamburan ke luar masjid.
Namun, teror untuk mnereka belum cukup karena di luar, segerombolan orang menggunakan empat mobil, menyambut para jemaah yang berlarian dengan tembakan.
Suasana semakin kacau. Dalam sebuah video amatir terlihat para jemaah berusaha menyelamatkan diri dari berondongan tembakan yang tidak diketahui datangnya.
Baca: MASYA ALLAH! Bom Meledak di Masjid Mesir Saat Salat Jumat, Ratusan Jemaah Meninggal
Baca: Heboh! BPJS Kesehatan Tak Tanggung Semua Biaya Pengobatan 8 Penyakit Ini! Mengejutkan Alasannya!
Baca: Tentara Korea Utara yang Membelot ke Korsel Ternyata Penggemar Berat K-Pop. Ini Artis Favoritnya
Pemilik kendaraan roda dua dan empat yang parkir di halaman masjid terlihat langsung tancap gas dan hampir bertabrakan satu sama lain.
Selain meledakkan bom dan menembaki para jemaah, pelaku juga membakar sejumlah kendaraan di jalanan untuk memblokade kemungkinan ada serangan balasan.
Sekitar 20 menit menembaki para jemaah, pelaku kemudian kabur dengan kendaraan mereka.
Suasana di masjid yang mulai tengang berubah menjadi tangis dan teriakan para warga yang marah.
Ratusan mayat bergelimpangan dan ruangan utama masjid digenangi oleh darah segar.
Warga menutup para korban tewas dengan penutup kepala atau sorban, sementara korban luka-luka diangkat ke luar masjid.
Tak lama kemudian, wilayah itu penuh dengan raungan sirine ambulans, membawa para korban ke rumah sakit.
Aksi teror itu dilaporkan menewaskan setidaknya 235 jemaah dan 125 lainnya luka-luka.
Ini adalah aksi teror terburuk di Mesir sejak negara itu menyatakan perang terhadap terorisme tahun 2014.
Hingga saat ini belum ada pihak yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut, apakah kelompok ISIS atau kelompok lainnya, karena pertikaian faksi di Mesir termasuk kompleks.
Wilayah Sinai utara sendiri, mayoritas penduduknya adalah Muslim sufi dan minoritas Kristen.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa bom modifikasi jenis IED tersebut diluncurkan dari area sekolah taman kanak-kanak di samping masjid.
Namun, ada yang menyebutkan bahwa teror tersebut adalah bom bunuh diri. Para pelaku menggunakan rompi yang dipenuhi bom dan bergabung bersama jemaah.

Hanya saja, hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi terkait hal ini.
"Mereka menembaki orang-orang saat mereka meninggalkan masjid. Mereka juga menembaki ambulans,” kata seorang warga seperti dilansir TRIBUNBATAM.id dari Associated Press, Kamis (24/11/2017).
Para saksi meyakini, para pelaku yang berjumlah belasan orang itu adalah para kelompok ISIS karena mereka mengenakan seragam militer dan memegang bendera hitam.
Sembari kabur, mereka juga memblokade jalan raya dengan meledakkan mobil-mobil di sepanjang jalur pelaria.
Laporan lain mengklaim bahwa teroris yang mengenakan rompi bunuh diri menyembunyikan diri di antara orang-orang di masjid tersebut sebelum meledakkan bom tersebut.
Dugaan bahwa serangan itu didalangi ISIS diperkuat oleh pernyataan pemimpin suku dan kepala milisi Badui yang memerangi ISIS.
Ia mengatakan bahwa masjid tersebut dikenal sebagai tempat berkumpulnya para sufi.
Kelompok ISIS menilai para sufi sebagai orang sesat karena mencari syafaat orang-orang kudus.
Bulan lalu, kelompok ISIS ini menculik dan memancung seorang pemimpin sufi tua, menuduhnya melakukan sihir yang dilarang oleh Islam.
Mereka juga menculik para praktisi sufi kemudian dibebaskan setelah “bertobat”.
Tak hanya kelompok sufi, ISIS juga Ktelah membunuh lebih dari 100 orang Kristen dalam pemboman gereja dan penembakan di Sinai sehingga dmemaksa banyak orang melarikan diri dari semenanjung tersebut.
Pemerintah Mesir langsung mengumumkan masa berkabun nasional selama tiga hari terkait serangan tersebut.
Presiden Abdel-Fattah el-Sissi langsung mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan pejabat keamanan.

Para militer juga langsung melakukan tindakan pengamanan tingkat tinggi di sejumlah wilayah Mesir.
Bandara internasional Kairo juga meningkatkan keamanan setelah serangan tersebut.
Banyak tentara dan polisi terlihat berpatroli di aula penumpang, melakukan pencarian dan melakukan pemeriksaan pos pemeriksaan di bandara.
Kelompok ISIS di wilayah itu awalnya menyerang tentara dan polisi di semenanjung yang berbatasan dengan Israel dan Jalur Gaza.
Namun, sejak Kairo memperketat wilayah strategis tersebut, serangan kemudian dialihkan ke rakyat sipil.
Mereka tidak hanya menyerang kelompok sufi dan Kristen, tetapi juga penduduk Badui Sinai yang dituduh bekerja sama dengan militer.
Selain ISIS, Mesir juga masih menghadapi ancaman teror dari kelompok eks al-Qaeda yang saat ini masih membuat gerakan di di negara tetangga Libya.
Sebuah kelompok yang menamakan dirinya Ansar al-Islam mengklaim sebuah penyergapan bulan Oktober laslu di Gurun Barat Mesir yang menewaskan setidaknya 16 polisi.
Militer Mesir langsung melakukan pembalasan dengan serangan udara dan menewaskan pimpinan mereka, Emad al-Din Abdel Hamid yang berafiliasi dengan Al Qaeda di markas militan Libya, Derna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/bom-mesir_20171125_000022.jpg)