Pemain Timnas Gabung Klub Malaysia, Kok Ketua Umum PSSI Marah?
Edy Rahmayadi khawatir kepindahan Evan Dimas dan Ilham Udin akan terbaca oleh pemain-pemain Malaysia yang memperkuat timnasnya
TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Ketua Umum PSSI Eddy Rahmayadi geram mengetahui beberapa pemain Indonesia berlabuh ke klub Malaysia.
Namun, netizen justru berkata lain, mendukung keputusan para pemain untuk berlabuh ke negeri jiran.
BolaSport.com mencatat sejauh ini baru Evan Dimas dan Ilham Udin Armayin resmi berseragam Selangor FA.
Baca: Janji Mundur Lionel Messi, Jika Argentina Gagal Raih Piala Dunia 2018 di Rusia
Baca: SELAMAT! Cristiano Ronaldo Raih Penghargaan Ballon dOr 2017. Kalahkan Messi dan Neymar
Baca: Hasil Lengkap Liga Europa. Milan dan Napoli Gigit Jari, Everton dan Arsenal Benasib Mujur
Selain Evan Dimas dan Ilham Udin, dikabarkan ada beberapa pemain Indonesia yang membela klub-klub di Malaysia, salah satunya Terens Puhiri.
"Siapa mereka? Seenaknya saja mengontrak-ngontrak," kata Edy di Kantor Makostrad, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (6/12/2017) dikutip dari BolaSport.com.
Edy khawatir kepindahan Evan Dimas dan Ilham Udin akan terbaca oleh pemain-pemain Malaysia yang memperkuat timnasnya.
Terlebih, Evan Dimas dan Ilham Udin merupakan dua pilar penting bagi timnas U-23 Indonesia untuk berlaga di Asian Games 2018.
Dalam Asian Games 2018, PSSI menargetkan timnas U-23 Indonesia lolos ke semifinal.
Akan tetapi, tawaran gaji yang dikabarkan lebih besar dari Selangor FA membuat Bhayangkara FC merelakan dua putra terbaik Indonesia itu hengkang.
Media di Malaysia juga menyebutkan bahwa Evan Dimas menjadi salah satu pemain termahal di Negeri Jiran.
"Kalau mata duitan, ya repot juga kita. Gak ada jiwa nasionalisme. Nanti akan saya kumpulkan segera," kata Edy.
Nah, soal duit, netizen menganggap kepindahan pilar timnas ke negeri Jiran Malaysia adalah hal wajar dan cukup beralasan.
"Pak jendral... Jangan geram apalagi marah... Nilai kontrak di Malaysia itu lebih menjanjikan di banding d Indonesia..., jgn katakan tdk nasionalisme..., mereka cuma bermain d team swasta ko', bkn negara Malaysia...." tulis Kohen Maccis di kolom komentar Facebook Tribunnews.com, Kamis (7/12/2017).
Netizen Hadi Maryono menilai kepindahan para pemain ke Malaysia tidak ada hubungan pada jiwa nasionalisme.
Kecuali, katanya, jbila pemain timnas tidak mau membela timnas Indonesia.
"Bukan masalah jiwa nasionalismen jendral, positive thingking aja keles. Wajar mereka main di luar,dari segi pendapatan mereka mantap dan buat pengalam jg, di saat mereka membela timnas baru mereka pulang, kalu gak mau membela timnas baru di namakan gak ada jiwa nasionalisme," tulis Hadi Maryono.
Netizen lain menilai kompetisi Malaysia memiliki kualitas, sistem, dan sarana yang bagus hingga hal ini mungkin melandasi kepergian para pemain.
Mengenai taktik yang bisa dibaca para pemain Malaysia, netizen Asep Saefullah memberi contoh Eden Hazard, pemain Chelsea di Liga Inggris.
Menurutnya, media Belgia tidak kuatir timnas Inggris akan membaca permainan Hazard.
Begitu juga dengan Cristiano Ronaldo yang bermain di Liga Spanyol, Mohammad Salah di Liga Inggris.
Bagi netizen Zul Fiqo ini merupakan profesionalisme, bukan nasionalisme.
"Gagal paham ini terlepas dr duit atau bukan harus di akui secara kualitas, sistem, sarana mereka lebih baik dan akui itu. Jika tdk ingin talenta maen di negeri lain ya benahi kualitas liga, sistem dan aturan, mentalitas pemain dan suporter, sarana stadion, lapangan, tim medis, bertahap..as sample eden hazard maen di chelsea nggak ada media belgia yg takut permainan hazard dibaca timnas inggris," tulis akun Asep Saefullah.
"Biasa kali pak itu dimana2... Christiano ronaldo org portugal main di spanyol, mohammad salah org mesir main di inggris dll.. Ini mslh profesionalismne pak, nasionalisme ga ada hubungannya dgn profesionalisme.. Aneh bgt sih," tulis akun Zul Fiqo.
(Tribunnews.com/Efrem Limsan Siregar)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilham-udin-evan-dimas-dan-ketua-umum-pssi-edy-rahmayadi_20171208_073436.jpg)