Selasa, 19 Mei 2026

Barelang Bridge Marathon 2017

Kenapa Pelari Kenya Kuasai Ajang Marathon Dunia? Ternyata Ini Rahasianya

Bukan kebetulan. Tapi mungkin sudah takdir, banyak pelari-pelari jarak menengah dan jauh kelas dunia berasal dari Kenya dan Ethiopia

Tayang:
Editor: Mairi Nandarson
TRIBUNBATAM/MONA
Pelari asal Kenya, Valentine, juara Barelang Bridge International Marathon 10 kilometer tahun 2016 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Bukan kebetulan. Tapi mungkin sudah takdir, banyak pelari-pelari jarak menengah dan jauh kelas dunia berasal dari Kenya dan Ethiopia.

Para pelari dari dua negara ini merajai banyak event marathon di sejumlah negara di dunia.

Setiap tahun, mereka hadir dari satu event ke event lain untuk mengikuti lomba marathon.

Baca: Di Statusnya Ada Bahasa Indonesia, Atlet Cantik Uni Emirat Arab Dicari Netizen

Baca: Tak Terima Disebut Rebut Suami Orang, Via Vallen Somasi Asisten Ayu Ting Ting

Baca: Gemulai Tari Tradisi Kekinian Mahasiswi Universitas Universal Pukau Pengunjung DC Mall Batam

Termasuk di event BP Batam Barelang Bridge International Marathon 2017 yang berlangsung di Batam, Minggu, 10 Desember 2017.

Bagaimana mereka bisa merajai lomba-lomba lari marathon?

Seperti dilansir Kompas.com, pelari yang tampil BII Maynbak Maraton Bali tahun 2013 silam, mengatakan, rahasia mereka adalah berlatih secara serius.

Baca: Bagaimana Persiapan Akhir Barelang Marathon 2017? Ini Paparan Bambang Setelah Tinjau Lokasi

”Rahasianya adalah berlatih serius. Tidak ada hal lain yang dilakukan pelari Kenya kecuali berlatih dan berlatih,” ujar Ngare Joseph.

”Kami bangun pagi, lalu latihan lari. Pukul 10.00, kami berlatih lagi. Sore latihan lari. Tiga kali sehari. Begitu seterusnya setiap hari, setiap hari, hingga kami menjadi pelari-pelari tangguh.”

Joseph mengatakan, porsi jarak tempuh yang disetel di tiga sesi latihan itu, pelari Kenya rata-rata berlatih lari menempuh jarak sekitar 50 kilometer per hari.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam Yusfa Hendri berfoto bersama dengan Julius Seurei dari Kenya, Juara I Barelang Bridge Marathon kategori 42 KM di Jembatan Barelang, Batam, Minggu (11/12/2016)
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam Yusfa Hendri berfoto bersama dengan Julius Seurei dari Kenya, Juara I Barelang Bridge Marathon kategori 42 KM di Jembatan Barelang, Batam, Minggu (11/12/2016) (TRIBUNBATAM/ANDRIANI MONA)

Lari marathon sejauh 42,195 kilometer ibarat sudah menjadi makanan sehari-hari mereka.

Joseph menyebutkan, ada lima kamp pemusatan latihan lari yang terkenal di Kenya: Iten, Ngong, Nyahururu, Embu, dan Nanyuki.

Kelima kamp itu memiliki karakteristik dan kegunaan khusus.

Iten, Ngong, dan Nyahururu yang berada di daerah ketinggian, misalnya, cocok untuk menempa kemampuan lari di jalan raya (road race).

Embu dan Nanyuki di lokasi dataran lebih rendah pas untuk memoles kegesitan berlari di jalur trek.

”Banyak pelari Jepang berlatih di Nyahururu. Kira-kira ada ratusan,” kata Joseph.

Dari kelima kamp tersebut, Iten kerap disebut media massa internasional.
Daerah itu berada di ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut.

”Iten tempat sangat bagus untuk berlatih. Lokasinya di daerah ketinggian. Begitu banyak atlet top level berlatih di sana dan tampil sangat bagus,” kata Wilson Kipsang Kiprotich, pelari Kenya, seperti dikutip situs berita New York Times, pada Mei 2012 lalu.

Kipsang pelari yang menorehkan catatan waktu maraton terbaik kedua dunia (2 jam, 3 menit, 42 detik).

Ia meraih perunggu Olimpiade London 2012 dan 10 ajang maraton kelas dunia, termasuk Maraton London 2012.

Berdasarkan laporan sejumlah media, tidak ada fasilitas istimewa di Iten dan kamp-kamp pelatihan lari di Kenya.

Lintasan lari untuk latihan berupa tanah berdebu.

Jika disiram hujan, lintasan itu langsung tergenang.

Meski begitu, dari sanalah lahir pelari-pelari top dunia.

Mo Farah, pelari Inggris juara 5.000 dan 10.000 meter Olimpiade London 2012, melihat faktor yang lebih rasional di balik rahasia ketangguhan pelari Kenya.

Dia adalah salah satu pelari papan atas dunia yang sering berlatih di Kenya ketika menghadapi ajang penting.

”Yang membuka mata saya adalah betapa disiplin mereka dan betapa kerasnya mereka berlatih,” ujar Mo, seperti dikutip situs resmi Seri Utama Maraton Dunia (World Marathon Majors).

”Jika ingin bersaing melawan pelari-pelari seperti itu, saya harus melakukan apa yang juga mereka lakukan.”

Latihan keras dan disiplin mereka ditunjang dengan tersedianya wadah kompetisi.

Joseph menuturkan, di Kenya mulai dari SD hingga perguruan tinggi ada kompetisi lari di tingkat daerah hingga tingkat nasional.

”Dari situlah, Asosiasi Atletik Kenya menjaring bibit-bibit pelari terbaik,” katanya.(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved