TERUNGKAP! BBM Satu Harga di Papua Hanya Saat Joikowi Blusukan. Siapa yang Bermain?

Namun ternyata, program BBM satu harga ini hanyalah permainan dari oknum-oknum tertentu dan tidak pernah mendapat pengawasan.

Kompas.com
Pastor John Djonga 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Sudah setahun Presiden Joko menerapkan BBM satu harga di Papua.

Pencanangan BBM satu harga dilakukan Jokowi di Bandara Nop Goliat Dekai, Yahukimo pada 18 Oktober 2016.

Untuk menerapkan BBM satu harga ini, Pertamina membeli pesawat khusus untuk mengangkut BBM sehingga harga BBM di SPBU bisa sama dengan di Jawa.

Dalam beberapa kali kesempatan, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa BBM satu harga ini sebagai terobosan yang sukses, setelah Papua berpuluh-puluh tahun, tidak mendapatkan keadilan.

Namun ternyata, program BBM satu harga ini hanyalah permainan dari oknum-oknum tertentu dan tidak pernah mendapat pengawasan.

Adalah tokoh agama Papua, Pastor John Djonga yang membongkar praktik penipuan BBM satu harga tersebut.

Pastor John menyebutkan, harga BBM hanya sama seperti di Jawa, saat Presiden Joko Widodo melakukan blusukan di Papua.

Akan tetapi, tak lama setelah Jokowi meninggalkan Papua, harga BBM kembali melonjak.

"Beliau pulang, satu-dua minggu, harga kembali 'normal'," kata John saat berbicara dalam Seminar Nasional "Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Papua" di Auditorium LIPI, Jakarta, Senin (18/12/2017).

John mengatakan, ia memantau langsung kondisi ini di Yahukimo, Papua.

Saat Jokowi baru mencanangkan program BBM satu harga di kabupaten itu pada Oktober 2016, John mengakui bahwa harganya sama seperti di Jawa, yakni Rp 6.450 per liter untuk premium dan Rp 5.150 per liter untuk solar.

"Sekarang sudah Rp 30.000 lagi. Bahkan dalam rangka Tahun Baru dan Natal, tahun lalu kami sampai membeli Rp 100 ribu," ucap John. 

Presiden Joko Widoddo naik ke sayap pesawat pengangkut BBM, Air Traktor AT-802, di Yahukimo,Papua, Selasa (18/20/2016).
Presiden Joko Widoddo naik ke sayap pesawat pengangkut BBM, Air Traktor AT-802, di Yahukimo,Papua, Selasa (18/20/2016). (Kompas.com/Ihsanuddin)

John mengatakan, program BBM satu harga ini sebenarnya sangat baik bagi masyarakat Papua.

Sayangnya, program ini belum bisa berjalan karena tak ada pengawasan.

"Siapa yang harus monitoring dan harus menangani? Sementara pejabat di Tanah (Papua) itu, bupatinya banyak di Jayapura atau di Jakarta," kata John.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved