MENGEJUTKAN! Dolar Singapura Menguat Terhadap Dolar AS, Pertanda Ekonomi AS Goyah?

Dolar Singapura menguat terhadap dolar AS. Bahkan, penguatannya mencapai level tertinggi selama tiga tahun terakhir.

MENGEJUTKAN! Dolar Singapura Menguat Terhadap Dolar AS, Pertanda Ekonomi AS Goyah?
istimewa
Dolar Singapura 

TRIBUNBATAM.ID- Dolar Singapura menguat terhadap dolar AS. Bahkan, penguatannya mencapai level tertinggi selama tiga tahun terakhir.

Hari ini Kamis (25/1/2018) sekitar pukul 11.09 waktu Singapura, dolar setempat diperdagangkan 1,306 per dolar AS-nya.

Dilansir dari Channel NewsAsia, angka ini merupakan tertinggi dibandingkan nilai terakhir 28 November lalu 1,3044 per dolar AS.

Penguatan dolar Singapura ini terjadi telah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan pekan ini merupakan pekan pelemahan.

Kata-kata Mnuchin tersebut membuat dolar AS terguncang dan menyebabkan kekhawatiran bahwa Presiden AS Donald Trump akan membuat kebijakan yang menyerang Cina dan mitra dagangnya yang lain demi mewujudkan agenda 'America First;-nya.

Pernyataan Menteri Keuangan AS dilihat oleh pasar sebagai penghentian kebijakan moneter tradisional AS.

Di Forum Ekonomi Dunia di Davos, kebijakan AS dilihat pemimpin dunia sebagai upaya proteksionisme AS.

"Jelas dolar yang lebih lemah bagus untuk kita karena berkaitan dengan perdagangan dan peluang," kata Mnuchin dalam sebuah konferensi pers.

Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross kemudian mengatakan bahwa rekannya "tidak berharap dolar yang lebih lemah", namun dia juga mendapat respon yang agresif, demikian dilansir CNBC.

Ketika ditanya apakah pelemahan AS akan memicu perang dagang, Ross mengatakan: "Perang perdagangan telah berlangsung cukup lama, bedanya adalah tentara AS sekarang ikut ke benteng tersebut."

Menekankan ucapan Mnuchin, juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan pada  harian di Washington: "Kami percaya pada mata uang yang mengambang bebas. Presiden selalu percaya akan hal itu."

"Kami memiliki ... dolar yang sangat stabil, sebagian besar karena kuatnya ekonomi AS yang berjalan sekarang," tambahnya. (*)

Penulis:
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved