Kabar Baik. Ada Obat Kanker Diproduksi di Indonesia. Harganya Ramah dan Masuk BPJS

Obat ini akan masuk formularium nasional atau ditanggung Jaminan Kesehatan nasional (BPJS Kesehatan) sekitar April atau Mei 2018

Kabar Baik. Ada Obat Kanker Diproduksi di Indonesia. Harganya Ramah dan Masuk BPJS
Istimewa/Dexa Medica
Obat kanker limfoma kini diproduksi di Indonesia sehingga harganya lebih terjangkau dan lebih mudah didapatkan 

Baca: Limbad Kondisi Kritis. Netizen Justru Salfok Lihat Putrinya yang Bening. Klepek-klepek Deh

Baca: Kabarnya Prabowo Deklarasi Capres 5 April. Cawapresnya yang Terkuat Ternyata Sosok Ini

Apabila seseorang sudah mengalami gejala-gejala tersebut, disarankan untuk segera berkonsultasi kepada dokter agar mendapatkan perawatan dan diagnosis yang tepat. Pada tahap ini, dokter akan melakukan tes biopsi kelenjar getah bening untuk mengetahui tipe kanker limfoma yang diderita.

 Tipe kanker limfoma sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni limfoma hodgkin (LH) dan limfoma non-hodgkin (LNH). Faktanya, 90 persen dari penderita kanker limfoma merupakan penderita limfoma non-hodgkin.
 
Sulit dan mahalnya pengobatan kanker limfoma

Pada dasarnya, beberapa kasus limfoma dapat disembuhkan. Meski demikian, harga obat yang mahal dan jumlah terbatas karena sebagian masih diimpor menjadi kendala pengobatan kanker limfoma.

Terkait tingginya harga obat kanker ini, jurnal US National Library of Medicine-National Institutes of Health (www.ncbi.nlm.nih.gov) menunjukkan hasil studi tentang perbandingan harga obat-obatan kanker di seluruh dunia.

Baca: Tidak Bisa Sembarangan. Begini Teknik Memasak Mi Instan Agar Lebih Sehat

Baca: Lucinta Luna Buka-bukaan. Dari Nama Asli, Operasi, Video Mesra Mike Lewis sampai Transgender

Hasil studi tersebut menggambarkan, pasien yang menggunakan obat-obatan dari Amerika Serikat harus merogoh kocek sebesar 8.694 dollar Amerika atau sekitar Rp 118 juta untuk satu orang per bulannya.

Sama halnya dengan harga obat kanker di Jerman. Prof Bernhard W?rmann, seorang ahli onkologi melalui jurnal ilmiahnya menjelaskan bahwa pasien kanker yang dirawat di sana menghabiskan rata-rata 8.000 euro atau setara Rp 141 juta per bulannya.

Halaman
1234
Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved