Kabar Baik. Ada Obat Kanker Diproduksi di Indonesia. Harganya Ramah dan Masuk BPJS

Obat ini akan masuk formularium nasional atau ditanggung Jaminan Kesehatan nasional (BPJS Kesehatan) sekitar April atau Mei 2018

Kabar Baik. Ada Obat Kanker Diproduksi di Indonesia. Harganya Ramah dan Masuk BPJS
Istimewa/Dexa Medica
Obat kanker limfoma kini diproduksi di Indonesia sehingga harganya lebih terjangkau dan lebih mudah didapatkan 

Berkat pengobatan tersebut, kanker Rudy pun bisa dikontrol. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Selain dirinya, masih banyak masyarakat Indonesia yang menderita kanker limfoma dan mengalami kendala soal keterjangkauan obat kanker.

Terinspirasi

Rudy yang juga lulusan Pendidikan Farmasi di Institut Teknologi Bandung itu pun terinspirasi untuk memproduksi obat kanker di Indonesia.

Berangkat dari niat mulianya ini, ia mendirikan PT Fonko International Pharmaceuticals untuk memproduksi obat-obatan onkologi. Harapannya, para penderita kanker di Indonesia bisa mendapatkan terapi yang efektif dan harga yang lebih terjangkau.

Penderita kanker limfoma di Indonesia bisa sedikit terbantu dengan adanya obat buatan Indonesia yang harganya lebih terjangkau dan mudah didapatkan.

“Fasilitas Fonko ini merupakan fasilitas yang bisa dibanggakan oleh Indonesia karena akan bisa memproduksi obat kanker dengan riset dan pengembangan putra-putri Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, produk yang dihasilkan ini memiliki standar kualitas yang tinggi dengan penggunaan teknologi dan sistem produksi yang cermat dan tepat guna. Sistem yang dikembangkan ini juga mampu memadukan desain pabrik, peralatan produksi, dan laboratorium yang memadai.

Fonko juga merancang kapasitas pabriknya sehingga mampu memproduksi obat kanker sebanyak 4 juta vial (benda penampung cairan, bubuk, atau tablet farmasi) per tahun. Jumlah tersebut terdiri dari 3 juta vial domestik dan 1 juta lyophilized powder.

Empat tahun setelah peresmian, akhirnya Fonko bisa memproduksi obat kanker tersebut. Obat dengan kandungan bendamustine rituximab yang dipasarkan oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals ini akan masuk formularium nasional atau ditanggung Jaminan Kesehatan nasional (BPJS Kesehatan) sekitar April atau Mei 2018.

"Dengan harganya yang lebih terjangkau, produksi obat ini bisa membantu pasien Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada obat impor," kata Presiden Direktur PT Ferron Par Parmaceuticals, Krestijanto Pandji.

Dengan usaha tersebut, pasien kanker limfoma kini tak perlu lagi kesulitan mendapatkan obat-obatan kanker. Biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan pembelian obat impor.(*)

 Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul diproduksi di indonesia obat kanker kini lebih ramah kantong

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved