Jangan Salah Kaprah Soal Sunah Rasul pada Malam Jumat. Begini Penjelasannya

Sering terdengar guyonan-guyonan mengenai sunah Rasul pada Kamis malam yang mengarah ke hubungan suami istri

Jangan Salah Kaprah Soal Sunah Rasul pada Malam Jumat. Begini Penjelasannya
istimewa/ssyoutube
Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.ID - Sering terdengar guyonan-guyonan mengenai sunah Rasul pada  Kamis malam. "Sudah hari Kamis, saatnya sunah Rasul" dan "Malam Jumatan, sunah Rasul dulu" merupakan beberapa kalimat yang sering dilihat di media sosial saat Kamis malam atau malam Jumat tiba.

Kalimat-kalimat tersebut kerap diartikan sebagai aktivitas hubungan suami-istri. Dilansir dari nu.or.id, canda atau guyon tersebut sebenarnya tidak masalah dalam agama.

Hanya saja kalau mau tahu kedudukan hukum agama sebenarnya, kita perlu mendapat penjelasan ahli hukum Islam terkait hubungan sunah rasul, malam Jumat, dan hubungan intim suami-istri.

Baca: Biasakan Wudhu Sebelum Tidur. Banyak Sekali Manfaat Tidak Terduga yang Bakal Diperoleh

Baca: Perbanyak Istighfar di Bulan Rajab. Ini Doa Istighfar Rajab dalam Bahasa Arab, Latin dan Artinya

وليس في السنة استحباب الجماع في ليال معينة كالاثنين أو الجمعة، ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة.

Artinya, “Di dalam sunah tidak ada anjuran berhubungan seksual suami-istri di malam-malam tertentu, antara lain malam Senin atau malam Jumat. Tetapi ada segelintir ulama menyatakan anjuran hubungan seksual di malam Jumat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz 3 halaman 556).

Keterangan Syekh Wahbah Az-Zuhayli ini menyebutkan bahwa sunah Rasulullah tidak menganjurkan hubungan suami-istri secara khusus di malam Jumat.

Kalau pun ada anjuran, itu datang dari segelintir ulama yang didasarkan pada hadits Rasulullah SAW, "Siapa saja yang mandi di hari Jumat, maka..." Dari sini kemudian sebagian ulama itu menafsirkan kesunahan hubungan badan suami-istri malam Jumat. Tetapi sekali lagi kesunahan itu didasarkan pada tafsiran/interpretasi, bukan ini anjuran Rasulullah secara verbal.

Meski demikian, Syekh Wahbah sendiri tidak menyangkal bahwa hubungan intim suami-istri mengandung pahala. Hanya saja tidak ada kesunahan melakukannya secara prioritas di malam Jumat.

Artinya, hubungan intim itu boleh dilakukan di hari apa saja tanpa mengistimewakan hari atau waktu-waktu tertentu.

Masih menurut nu.or.id, penjelasan kedudukan hukum ini menjadi penting agar tidak ada reduksi pada sunah rasul yang begitu luas itu.

Karena banyak anjuran lain yang baiknya dikerjakan di malam Jumat seperti memperbanyak shalawat nabi, membaca surat Yasin, Al-Jumuah, Al-Kahfi, Al-Waqiah, istighfar, dan mendoakan orang-orang beriman yang telah wafat.

Kalaupun sekadar guyon, baiknya istilah-istilah ini cukup terbatas dikalangan orang dewasa saja. (*)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved