Perang Suriah

MARAH, Suriah Balikkan Legiun Kehormatan dari Perancis padahal Itu Penghargaan Napoleon Bonaparte

"Tidak ada kehormatan bagi Assad memajang penghargaan dari negara yang menjadi budak sekaligus pengikut AS yang mendukung terorisme."

MARAH, Suriah Balikkan Legiun Kehormatan dari Perancis padahal Itu Penghargaan Napoleon Bonaparte
AFP via BBC
Perwakilan Pemerintah Suriah (kiri) ketika mengembalikan penghargaan Legiun Kehormatan yang diberikan Perancis kepada Presiden Bashar al-Assad melalui Kedutaan Besar Romania di Damaskus. 

TRIBUNBATAM.id, DAMASKUS - Suriah mengumumkan mengembalikan penghargaan prestisius yang diterima Presiden Bashar al-Assad dari Perancis.

Diwartakan oleh BBC Jumat (20/4/2018), penghargaan yang dikembalikan itu adalah Legiun Kehormatan yang awalnya diberikan pertama kali oleh Napoleon Bonaparte.

Penghargaan tersebut diberikan mantan Presiden Jacques Chriac kepada Assad pada 2001.

Saat itu, Assad baru saja menggantikan sang ayah, Hafez al-Assad.

Baca: Presiden Perancis Minta Donald Trump tak Menarik Pasukan dari Suriah, Apa yang Ditakutkannya?

Baca: Tiga Target yang Digempur AS CS di Suriah Ini Luluh Lantak, Ini Penampakan Before dan Afternya

Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan, penghargaan tersebut bakal dikembalikan melalui Kedutaan Besar Romania di Damaskus.

Damaskus melanjutkan, Perancis telah melakukan "aksi agresi tiga pihak" yang terjadi pada Jumat pekan lalu (13/4/2018).

"Tidak ada kehormatan bagi Assad memajang penghargaan dari negara yang menjadi budak sekaligus pengikut Amerika Serikat ( AS) yang mendukung terorisme," sindir Kemenlu Suriah.

Keputusan Suriah mengembalikan penghargaan terjadi setelah Perancis mengumumkan bakal mencabut gelar Legiun Kehormatan itu pada Selasa (17/4/2018).

Pencabutan itu bisa dilakukan bila si penerima penghargaan melakukan tindak kriminal, atau melakukan aksi yang dianggap merendahkan Perancis.

Tiga negara; AS, Perancis, dan Inggris melakukan serangan udara ke Suriah dengan menargetkan tiga tempat yang diduga menjadi penyimpanan senjata kimia.

Dalam laporan pasukan penyelamat, senjata kimia jenis gas beracun klorin digunakan rezim Assad untuk menyerang pasukan pemberontak di Douma, Ghouta Timur (7/4/2018).

Serangan tersebut menyebabkan lebih dari 40 orang warga sipil tewas, dan 11 lainnya mengeluh mengalami masalah di pernapasannya. (kompas.com/Ardi Priyatno Utomo)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved