Sekitar 3.000 Anak Indonesia Pernah Diadopsi Warga Eropa, Begini Prosedur Mencari 'Anak Hilang' Itu

Dikutip dari BBC Indonesia, setidaknya ada sekitar 3.000 anak Indonesia yang diadopsi warga Eropa, terutama Belanda di era 1970-an akhir-1980-an awal.

Sekitar 3.000 Anak Indonesia Pernah Diadopsi Warga Eropa, Begini Prosedur Mencari 'Anak Hilang' Itu
BBC Indonesia
Adre Kuik dan ibunya, Kartini saat bertemu di kampung halamannya, Lampung. 

Kendala dalam pencarian keluarga yang hilang

Andre Kuik merupakan salah satu dari 24 anak adopsi warga Belanda yang berhasil kembali bertemu dengan keluarga mereka melalui bantuan Yayasan Mijn Roots, yayasan yang didirikan oleh Christine Verhaagen dan Ana van Keulen tiga tahun lalu untuk membantu anak-anak adopsi menemukan orang tua kandung mereka.

"Ada yang sudah terlambat tidak menemukan orang tua mereka, namun berhasil bertemu dengan kakak atau adiknya, tapi masih banyak yang belum berhasil juga," kata Eko Murwantoro, tim pencari orang tua kandung dari Yayasan Mijn Roots.

Mencari orang tua kandung tidak mudah. Tahap awal yang biasanya dilakukan oleh Eko adalah mengumpulkan semua data.

Data yang lengkap tak menjamin kesuksesan karena data juga sering dipalsukan.

"Misalnya, orang tua dari kampung, pengadopsian di Jakarta padahal mereka bukan penduduk Jakarta, jadi alamat yang tercantum tidak benar. Setelah dilacak, alamatnya tidak ada," kata Eko.

Eko menceritakan kasus di Pasuruan, di mana dulu ada ratusan bayi yang diadopsi dari anak-anak yang dilahirkan oleh wanita tuna susila.

"Ibunya sudah tidak terlacak, dan pengadopsian memakai nama ibu-ibu lain," kata dia.

Untuk menelusuri keberadaan orang tua kandung, Mijn Root juga harus menelusuri dokumen kependudukan ke Kelurahan maupun Kantor Catatan Sipil.

Sayang, usaha ini sering terhambat karena petugas yang tidak kooperatif.

Mencari data dari notaris pun menjadi kesulitan tersendiri. "Notarisnya juga ada yang sudah meninggal. Penggantinya sering tidak kooperatif dan selalu minta uang," kata Eko.

Menurut Eko, akses pada data sangat penting dan sangat membantu pencarian.

Misalnya, pengetahuan bahwa ibu kandung lahir di daerah tertentu, apalagi dengan tanggal dan tempat lahir, data tersebut dapat digunakan untuk melacak melalaui Dinas Kependudukan.

"Kalau saya didukung pemerintah, saya akan lebih bisa menemukan anak dengan orang tuanya," kata dia.

Setelah melewati proses panjang tersebut dan orang tua kandung akhirnya ditemukan keberadaannya, mereka harus mencocokkan identitas, cerita, dan kemiripan anak dan kedua orang tuanya.

Jika sudah yakin, barulah tes DNA dilakukan.

Bahkan dengan data-data yang sudah lengkap, tes DNA tak selalu berakhir positif. Beberapa pengalaman Mijn Root, saat tes dilakukan, hasilnya negatif, yang artinya, tidak ada hubungan ibu dan anak.

"Begitu kompleksnya masalah ini, saya berharap pemerintah mau ikut berpartisipasi dan membantu kami yang selama ini bergerak sendiri," kata Eko. (bbc indonesia)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved