TEROR BOM DI SURABAYA
Dalam Tiga Hari, Densus 88 Sudah Tangkap 18 Terduga Teroris di Jatim, Empat Tewas Ditembak
Sedikitnya 18 orang terduga teroris sudah ditangkap di sejumlah tempat di wilayah Jatim, lima di antaranya tewas tertembak.
TRIBUNBATAM.id, SURABAYA - Setelah rangkaian teror bom yang terjadi di Surabaya sejak Minggu (13/5/2018), Densus 88 Antiteror terus melakukan perburuan.
Aksi bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Surabaya, Minggu, serta Polrestabes Surabaya, Senin.
Selain itu, juga terjadi ledakan bom di rusunawa di Sidoarjo.
Jajaran kepolisian pun terus memburu rantai jaringan pelaku teror yang ditengarai dari kelompok JAD dan JAT tersebut.
Baca: Terduga Teroris yang Diamankan di Dukuh Pakis Surabaya Suami Istri dan Dua Anak
Baca: Terduga Teroris yang Disergap di Manukan Kulon, Surabaya, Adalah Pasangan Suami Istri
Baca: Penangkapan Sejumlah Terduga Teroris di Tanjung Balai Berlangsung Sejak Pagi. Begini Kronologinya
Sedikitnya 18 orang terduga teroris sudah ditangkap di sejumlah tempat di wilayah Jatim, lima di antaranya tewas tertembak.
Data yang dikumpulkan Surya.co.id di Polda Jatim menyebutkan, dari 17 terduga teroris hasil penindakan selama tiga hari, mulai Minggu (13/5/2018) malam hingga Selasa (15/5/2018) malam.
"Terakhir penindakan di Manukan, Surabaya. Pelaku tewas ditembak," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Selasa (15/5/2018) malam di RS Bhayangkara Polda Jatim Surabaya.
Berikut rincian 17 orang terduga teroris yang ditindak Tim Densus 88 Anti Teror di Jatim:
- Penindakan di Surabaya dan Sidoarjo, Senin (14/5/2018) : 13 orang, 9 ditangkap hidup dan 4 tewas ditembak mati di Sidoarjo
- Penindakan Selasa (15/5/2018) : Malang 2 orang.
Mereka ditangkap dalam keadaan hidup di Karangploso dan Singosasi, Kabupaten Malang.
- Pasuruan 1 orang. terduga ditangkap hidup
- Surabaya 2 orang; 1 tewas di Jl Sikatan dan 1 hidup di Dukuh Pakis 2.
Penangkapan pertama di Jl Sikatan, Manukan, Surabaya. Densus 88 Anti Teror menembak mati setelah terjadi baku tembak.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri juga menangkap Fauzan di daerah Dukuh Pakis 2 nomor 15, Surabaya.
Teguh tewas di Jl Sikatan, sementara istrinya Yanti, saat ini masih diperiksa kepolisian.
Penangkapan lainnya dilakukan sekitar pukul 20:00 WIB, Fauzan bersama istri dan dua anak dibawa pihak kepolisian.
Belum ada keterangan, apakah dua istri Teguh dan Fauzan terlibat.
Dalang Teroris Surabaya
Belum diketahui apakah terduga teroris yang ditangkap termasuk aktor intelektual bom gereja dan Polrestabes Surabaya.
Kapolri dan Kapolda Jatim mengatakan sedang memburu seseorang bernama Abu Bakar.
Dia adalah guru dari Dita Supriyanto, pelaku bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno, Minggu lalu.
Menurut Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin, selain guru Dita Supriyanto, Abu Bakar juga guru Anton Ferdiantono, pemilik bom yang meledak di Rusun Wonocolo Sidoarjo, Minggu malam.
"Kedua orang itu sering mengaji pada Abu Bakar di Surabaya, tepatnya di wilayah Kecamatan Rungkut," kata Kapolda di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5/2018).
Saat menggelar kajian agama, para murid termasuk dua orang itu membawa keluarganya.
"Di pengajian itu juga sering diputar film-film tentang aksi bom teroris," jelas dia.
Dita Supriyanto adalah bapak dari keluarga yang meledakkan 3 gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018).
Selain Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno, 2 gereja yang diledakkan adalah Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan Gereja gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya Surabaya.
Lima anggota keluarga Dita tewas dalam aksi bom bunuh diri tersebut.
Selain Dita, istrinya Puji Kuswati isterinya, 2 anak perempuannya, yaitu Fadilah Sari (12) dan Pamela Riskika (9) tewas di sebuah gereja.
Sedangkan dua putra Dita yang bernama Yusuf Fadil berusia (18) dan Firman Halim (16) juga tewas dalam aksi bunuh diri di gereja lainnya.
Sementara Anton Febrianto adalah pemilik bom yang meledak di Rusun Wonocolo, Kecamatan Taman Sidoarjo.
Dalam ledakan itu, Puspitasari, istrinya, dan anak pertamanya Hilta Aulia Rahman, tewas.
Tiga anak Anton lainnya selamat dan menderita luka.
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan bahwa polisi tengah memburu satu keluarga yang baru saja dideportasi dari Turki setelah tragedi ledakan bom tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018).
Tito mengatakan hal ini bersamaan dengan koreksi keterangan sebelumnya yang benyebutkan Dita dan keluarganya baru saja pulang dari Suriah.
"Saya koreksi yang kemarin bahwa yang keluarga Dita yang saya maksud ini, terkait dengan satu keluarga (lainnya) yang sedang kami cari," tuturnya.
"Satu keluarga ini adalah salah satu ideolog kelompok ini. Satu keluarga yang baru pulang itu ditangkap oleh Turki kemudian dideportasi ke Indonesia," tambahnya.
Pimpinan keluarga ini ditangkap oleh aparat Turki karena hendak menyeberang ke Suriah.
"Dialah yang menjadi ideolog utama kelompok ini, sedangkan keluarga (Dita) yang meninggal tidak ke Suriah. Ini setelah saya konfirmasi kembali dengan tim Densus yang menangani, dikroscek kembali," ungkap Tito.
Sebelumnya, Kapolri menyebutkan ada sejumlah kelompok yang diwaspadai polisi terkait ISIS di Indonesia.
Pertama adalah kelompok Jamaah Anshar Daulah-Jamaah Ansharut Tauhid (JAT-JAD) yang memiliki sejumlah sel.
Kedua, mereka yang baru kembali dari Suriah. Beberapa di antara mereka tertangkap oleh otoritas di Turki dan Yordania sebelum kembali ke Indonesia.
"Mereka yang kembali dari Suriah ada 500 orang, termasuk di antaranya keluarga ini (Dita)," kata Tito di Surabaya, Minggu (13/5/2018).(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/teroris_20180515_195937.jpg)