KAPAL TERBALIK DI DANAU TOBA

ROV Rekam 10 Mayat Korban KM Sinar Bangun, Basarnas Minta Ide Mengangkatnya

Tim Basarnas gabungan mulai melakukan pengangkatan jasad korban KM Sinar Bangun, Jumat (29/6/2018) pagi.

Data pasti yang belum ditemukan masih simpang siur, karena kapal tidak memiliki manifes, kepolisian mencatat 194 sesuai laporan keluarga, data Basarnas 184 dan PT Jasa Raharja (Tbk) 164 orang.

Korban selamat 24 orang dan sebelumnya ada tiga jasad yang sudah ditemukan. 

Kapal tersebut berlayar tanpa dokumen manifes penumpang dan diketahui dalam kondisi tidak memenuhi standar keselamatan, seperti ketersediaan life jacket. 

Sebelumnya, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI, Muhammad Syaugi juga mengaku masih mencari cara mengangkat jasad korban.

"Kita belum punya alat untuk mengangkat dari kedalaman 450 meter. Saya sudah tanya ke rekan-rekan saya tentang kejadian serupa, tapi objeknya kurang-lebih 100 meter di dalam air. Seperti contoh kejadian AirAsia, 40 meter bisa diselami. (KM Sinar Bangun) ini tidak bisa. Kita masih memikirkan ini," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI, Muhammad Syaugi.

Selain itu, Syaugi juga mengungkapkan pihaknya menemukan sejumlah motor, tali-tali, jasad-jasad korban, hingga kursi-kursi kapal. Ia berterima kasih atas bantuan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang memilikiremotely operated vehicle (ROV) yang mampu bergerak hingga kedalaman 1.000 meter.

"Kemarin siang Allah beri petunjuk, kami bisa melihat suspect-suspect itu. Memang kita belum melihat tulisan Sinar Bangun itu. Tetapi, indikasi itu sangat menuju ke situ ( KM Sinar Bangun)," kata dia.

"Kan, dari kemarin saya tampilkan beberapa foto yang tidak terlalu vulgar ya, saya sebetulnya banyak gambar-gambar itu. Cuma itu, kan, untuk mengurangi beban psikologi keluarga, jadi tidak ditampilkan," sambungnya.

Pada hari ini, Basarnas dan pihak-pihak terkait akan menelusuri sisi lain di sekitar lokasi penemuan tersebut. Namun, Syaugi menegaskan, proses pencarian pascapenemuan obyek dan jasad korban ini tak mudah.

Sebab, kondisi arus air di dalam danau begitu deras. Kontur danau juga tidak merata seperti danau pada umumnya. Selain itu, jarak pandang di kedalaman seperti itu sangat terbatas.

Halaman
123
Editor: Rio Batubara
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved