Kisah WA Group Rahasia Khusus Melayani Wanita yang Ingin Aborsi Anak

Ini adalah kisah seorang wanita yang memilih membuka layanan WhatsApp rahasia untuk membantu ratusan perempuan menggugurkan kandungan mereka.

Kisah WA Group Rahasia Khusus Melayani Wanita yang Ingin Aborsi Anak
bbc indonesia
Ilustrasi WA Group khusus untuk aborsi 

Tetapi di kantor polisi yang menangani kejahatan terhadap perempuan, para penyelidik membuatnya untuk tidak melaporkan pelanggaran hukum tersebut.

Baca: Fakta-Fakta Mengejutkan tentang Janin yang Diaborsi 15 Tahun Lalu tapi Masih Membatu di Rahim Ibunya

Baca: 15 Tahun Lalu Aborsi, Perut Wanita Ini Masih Sakit. Saat Diperiksa, Dokter Kaget Lihat Penyebabnya

"Saya disuruh keluar. Ketika saya mendatangi kantor polisi perempuan, saya terluka dan masih harus menghadapi berbagai bentuk tindakan yang memalukan," katanya.

"Ketika saya mengatakan kepada komandan polisi nama pria yang memperkosa saya, dia mengatakan dirinya tidak bisa membantu saya."

Tiga bulan kemudian, Abigail menemukan dirinya hamil.

"Setelah saya diperkosa, saya depresi. Saya beberapa kali berusaha membunuh diri. Tetapi kemudian saya berpikir, paling tidak saya masih hidup. Saya akan mengejar mimpi dan semua hal akan menjadi lebih baik."

"Kemudian saya menyadari diri saya hamil, dan sepertinya kehidupan sudah berakhir."

Tidak ada pilihan

Begitu menggabungkan diri ke kelompok ini, mereka dapat membeli obat aborsi yang kemudian dikirim lewat pos.

Dia ingin mengakhiri kehamilannya dan meminta bantuan rumah sakit.

Hukum Brasil mengizinkan aborsi karena perkosaan, janin dengan kelainan otak atau karena kehamilan berisiko terhadap kehidupan ibu.

Hukum tersebut mewajibkan perempuan untuk melaporkan kejahatan kepada polisi, tetapi banyak rumah sakit juga mewajibkan laporan polisi sebelum mereka setuju melakukan aborsi.

"Mereka meminta laporan polisi dan saya tidak memilikinya," kata Abigail.

Dia mengatakan saat itu dia tidak banyak mengetahui hak-haknya.

"Saya dalam keadaan rapuh. Saya tidak memiliki cukup kekuatan untuk mempertanyakan apa yang mereka katakan."

Anak laki-lakinya dilahirkan dan sekarang telah berumur empat tahun. Abigail mengatakan sebagai "ibu tidak menikah" dia masih didiskriminasi.

"Kebanyakan orang tidak mengetahui (perkosaan yang saya alami) sehingga mereka berpikir saya tidak mengetahui siapa ayah anakku."

"Saya mencintai anak laki-laki saya. Tetapi kehamilan bukanlah hal yang saya inginkan. Menjadi ibu bukanlah sesuatu yang saya maui. Ini sama sekali mengubah kehidupan saya."

"Sebelumnya saya merasa memiliki seluruh kehidupan masa depan dan hal itu direnggut dari saya."

Sadar ini kejahatan

Ilustrasi kehamilan. FOto: KAKO ABRAHAM/BBC

Kelompok ini, kata Abigail, adalah cara untuk membantu perempuan yang tidak memiliki pilihan untuk mendapatkan aborsi aman di rumah sakit karena ketatnya hukum aborsi Brasil.

Dia mengatakan dirinya menginginkan para perempuan tidak mencari klinik aborsi gelap, yang kadang-kadang ceroboh, atau melakukan aborsi sendiri.

"Saya pikir tidaklah adil bagi perempuan untuk dipaksa melakukan ini, apapun alasannya mereka tidak menginginkan anaknya."

Jika dirinya dan teman-temannya tertangkap, mereka dapat dipenjara maksimal lima tahun karena membantu aborsi meskipun dengan persetujuan perempuan hamil.

"Akan muncul sejumlah dakwaan lain terkait dengan penjualan tablet gelap dan pembentukan kelompok penjahat.

"Kemungkinan suatu hari nanti mereka (polisi) akan menciduk saya," katanya.

"Saya berharap diperlukan waktu yang lama. Saya berharap itu tidak akan pernah terjadi. Sayangnya jika itu memang terjadi, saya kemungkinan tidak akan begitu senang dipenjara." (BBC Indonesia)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved