Penulis Cerpen Hamsad Rangkuti Meninggal Dunia

Penulis cerpen "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu" ini meninggal dunia di usia 75 tahun

Penulis Cerpen Hamsad Rangkuti Meninggal Dunia
FOTO DOK KOMPAS.com/NET
Hamsad Rangkuti 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Penulis novel dan cerpen Indonesia, Hasyim Muhammad Rangkuti atau lebih dikenal nama Hamsad Rangkuti meninggal dunia, Minggu (26/8/2018).

Informasi meninggalnya Hamsad Rangkuti diketahui dari postingan akun twitter @BadanBahasa yang memosting kabar meninggalnya penulis yang tidak hanya dikenal dari novel, tapi juga cerpen-cerpennya.

"Turut berduka cita atas wafatnya Hasyim Muhammad Rangkuti (Hamsad Rangkuti), semoga amal dan ibadah almarhum diterima oleh Allah Swt. #KabarDuka #SahabatBahasa #SahabatDikbud #CintaSastraIndonesia" demikian tulis @badanbahasa.

Hamsad Rangkuti adalah penulis kelahiran Titi Kuning, Medan Johor, Medan, Sumatera Utara pada 7 Mei 1943.

Penulis cerpen  "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu" ini meninggal dunia di usia 75 tahun.

Sebelum meninggal dunia, Hamsad Rangkuti diketahui mengalami sakit stroke dan itu sudah berlangsung sejak empat tahun terakhir.

Semasa hidupnya, Hamsad Rangkuti sudah meraih banyak penghargaan. Berikut beberapa penghargaan yang pernah ia raih:

  • Hadiah Harapan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (1981) untuk Ketika Lampu Berwarna Merah
  • Penghargaan Insan Seni Indonesia Mal Taman Anggrek & Musicafe (1999)
  • Penghargaan Sastra Pemerintah DKI (2000)
  • Penghargaan Khusus Kompas atas kesetiaan dalam penulisan cerpen (2001)
  • Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001)
  • Khatulistiwa Literary Award 2003 untuk Bibir dalam Pispot
  • Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka (2001) untuk "Umur Panjang untuk Tuan Joyokoroyo" dan Senyum "Seorang Jenderal pada 17 Agustus"
  • SEA Write Award (2008)
  • Penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi (2014)

Seperti dilansir wikipedia, Hamsad termasuk seniman penandatangan Manifes Kebudayaan pada 1964, pernyataan para seniman yang menolak politik sebagai panglima.

Presiden Soekarno melarang kelompok itu karena dinilai menyeleweng dan ingin menyaingi Manifesto Politik yang ia tetapkan. (sn)

Penulis: nandrson
Editor: nandrson
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved