Berita Bohong Tentang Bencana Alam Berseliweran, Ini Tips BMKG Cara Kenali Berita Hoaks

Masyarakat diminta untuk mudah percaya dengan berita bohong atau hoaks ketika terjadi bencana alam.

Aplikasi Pesan WhatsApp
Beredar foto dan video yang menampilkan dahsyatnya letusan Gunung Soputan melalui aplikasi pesan WhatsApp pada Rabu (3/10/2018) 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika ( BMKG) Daryono meminta masyarakat untuk tidak termakan berita bohong atau hoaks ketika terjadi bencana alam.

Ia juga meminta masyarakat dapat mengenali ciri-ciri berita bohong agar tidak mudah percaya.

"Ciri-ciri itu, pertama, dia meramalkan akan ada terjadi gempa besar, akan ada tsunami, tanda itu berita bohong, tidak boleh diteruskan," kata Daryono dalam sebuah diskusi di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (4/10/2018).

Selain itu, untuk mengetahui sebuah informasi sebagai berita benar atau bohong, masyarakat bisa mengecek institusi atau lembaga yang bertanggung jawab dalam informasi tersebut.

Baca: Gunung Gamalama di Ternate Meletus, Status Level II Waspada

Baca: Gunung Soputan Meletus, Simak 4 Fakta Dibaliknya. Semburkan Abu Vulkanik hingga Kabar Hoaks

Baca: Video Warga Sekupang Minta Maaf di Polda Kepri Setelah Sebar Info Hoaks Terkait Gempa di Facebook

"Apakah ada nomor kontaknya atau tidak. Kalau enggak ada, itu jelas hoaks," ujarnya.

Masyarakat diminta untuk berhati-hati, karena bisa jadi setelah menerima berita bohong dan menyebarkan, maka pihak yang ikut menyebarkan hoaks itu disebut sebagai agen penyebar hoaks.

Ia meminta masyarakat untuk memutus penyebaran rantai berita bohong, namun tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang muncul dalam penanganan sebuah bencana.

"Mohon jadi agen pemutus hoaks karena amat meresahkan. Waspada tetap dijaga," tuturnya.

Sejak gempa bermagnitudo 7,4 dan tsunami melanda Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018), banyak berita bohong yang beredar seputar gempa dan tsunami.

Akibat bencana tersebut, tercatat 1.424 orang meninggal dunia.

Selain itu, terdapat 2.549 korban luka berat sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit, baik di Palu maupun di luar Palu.

Adapun korban hilang mencapai 113 orang. Sutopo mengatakan, proses evakuasi dan pencarian masih terus dilakukan.

Bantuan juga terus disalurkan untuk 70.821 pengungsi yang tersebar di 141 titik. (*)

*Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BMKG: Mohon Jadi Agen Pemutus Hoaks Bencana",

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved