Kenali Penyebab & Gejala Kanker Paru-paru, yang Diderita Istri Indro Warkop Sebelum Meninggal Dunia

Lewat momen meninggalnya istri Indro, mari membesuk lagi penyakit ini dan mengetahui cara yang bisa dilakukan untuk menghindarinya

Kenali Penyebab & Gejala Kanker Paru-paru, yang Diderita Istri Indro Warkop Sebelum Meninggal Dunia
irishtimes
ilustrasi kanker paru-paru 

Seringkali kanker paru tidak menunjukkan gejala pada stadium awal sehingga sulit dideteksi.

Pada stadium menengah hingga akhir, ada beberapa gejala khas kanker paru.

Beberapa gejala itu adalah: batuk berkepanjangan, sesak nafas setelah aktivitas normal, mengalami nyeri pada dada, suara berubah, nafas yang terdengar jelas, kehilangan berat badan secara signifikan, nyeri pada tulang, dan sakit kepala.

Jika merasakan salah satunya, Anda perlu untuk konsultasi ke dokter.

Sebab, gejala yang Anda jumpai bisa saja merujuk pada penyakit lain.

Jenis-Jenisnya Secara umum, kanker paru dibagi menjadi dua jenis berdasarkan penampakan sel kanker di mikroskop, yaitu kanker paru karsinoma sel kecil (small cell lung cancer) dan kanker par karsinoma bukan sel kecil (non small cell lung cancer).

Karsinoma sel kecil bisa menyebar terbatas pada dada tetapi sulit disembuhkan.

Pada saat yang sama, bisa juga menyebar ke organ lain.

Karsinoma bukan sel kecil bisa berupa sel skuamosa, di mana perkembangan kanker dimulai dari sel epitel yang melapisi saluran udara, dan bisa juga adekarsinoma yang perkembangannya dimulai dari lendir paru-paru.

Selain itu, ada pula kanker paru karsinoma sel besar. Jenis ini biasanya dijumpai pada orang-orang yang terpapar asbes.

Bagaimana Mengobatinya? Jenis pengobatan kanker paru yang direkomendasikan dokter akan sesuai dengan tahapan kankernya.

Namun secara umum, ada 4 jenis pengobatan yaitu bedah, radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, dan terapi target.

Sita mengatakan, bedah dapat menyembuhkan pasien kanker paru. Namun, syaratnya kanker masih berada pada stadium awal, yakni stadium 1, stadium 2, dan stadium 3A.

Pengobatan radioterapi hanya menjangkau secara lokal, tetapi tidak dapat menyembuhkan.

Kemoterapi bisa efektif pada stadium mula hingga menengah. Imunoterapi memberi harapan baru, diantaranya dengan dikenalnya programmed cell death ligand (PD-L1) pada permukaan sel kanker.

“PD-L1 sebagai indikator. Kalau tinggi bisa memiliki respons yang baik terhadap imonoterapi,” kata Sita.

Prosedur pengobatan kanker paru lainnya adalah targeted therapy.

Setiap pasien akan mendapatkan pengobatan yang berbeda yang disesuaikan dengan marker molekuler.

“Kalau dulu NSCLC dan SCLC langsung diberikan kemoterapi, semuanya sama. Perbedaannya dari fenotipe kanker itu. Tapi sekarang semua terapi itu berdasarkan genotipenya karena ada perbedaan genotipe kanker paru,” kata Dalam konteks Asia, salah satu genotipe yang paling sering didapatkan adalah mutasi Epiderma Growth Factor Receptop (EGFR). EGFR berperan dalam pertumbuhan sel kanker.

Sita menuturkan, dalam konteks Indonesia, pada tahun 2013 terdapat 42 persen mutasi EGFR pada kanker paru. Apakah Punya Harapan?

Dr Aru mengatakan, kanker paru adalah jenis kanker paling mematikan.

Kematian akibatnya lebih tinggi daripada kanker usus besar, payudara, dan prostat.

Bahkan jika ketiga jenis kanker itu digabung, risiko kematian akibat kanker paru lebih tinggi.

"Pada (kanker) stadium IV, 5 year survival rate itu 1 persen. Artinya setelah lima tahun, hanya satu dari 100 pasien yang masih hidup. Sebagian besar sudah meninggal dalam dua tahun setelah diagnosis ditegakkan," jelas Aru.

Kabar baiknya, jika belum punya penyakitnya, kita bisa mencegah.

DR Aru menuturkan, dengan memodifikasi gaya hidup, sebesar 30 persen risiko kanker bisa dicegah.

Bila telah menderita, ada harapan dengan tersedianya imunoterapi di Indonesia. Imunoterapi merupakan pengobatan kanker yang bertujuan mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun dan tumor.

Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut Programmed Death-Ligand 1 (PD-L1) melumpuhkan sel T sehingga sel-sel imun tidak dapat mengenali dan membunuh sel-sel kanker.

"Sebenarnya sel imun tubuh bisa membunuh sel kanker, tetapi sel-sel kanker sangat pintar, dia bisa membuat zat-zat yang melemahkan respon imun atau dengan cepat berganti bentuk sehingga sulit dikenali sel-T.

Selain itu, sel kanker juga dapat mengelabui sel T. Melalui imunoterapi, interaksi ini dihambat sehingga sel T bisa mendeteksi dan mengenali sel kanker," kata dr Sita.

Obat anti PD-L1 Pembrolizumab merupakan pengobatan kanker paru yang memberi hasil signifikan.

Percobaan klinis menunjukkan obat tersebut meningkatkan usia harapan hidup dan memiliki aktivitas anti-kanker yang kuat pada pasien kanker paru stadium lanjut. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Membesuk Kanker Paru, Penyakit yang Merenggut Nyawa Istri Indro Warkop"
Editor: nandrson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved