Bintan Terkini

Kepala BMKG Tanjungpinang Sebut Kepri Pernah Terjadi Tsunami. Ini Penjelasannya

Tanpa kita sadari, tsunami ternyata pernah terjadi Kepri. Diperkirakan terjadi pada Maret 2011 lalu

Kepala BMKG Tanjungpinang Sebut Kepri Pernah Terjadi Tsunami. Ini Penjelasannya
Tribun Batam/Aminudin
Petugas BMKG Tanjungpinang saat menjelaskan peta seismotektonik, Kamis (12/10/2018). 

TRIBUNBINTAN.COM, BINTAN - Tanpa kita sadari, tsunami ternyata pernah terjadi Kepri. Diperkirakan terjadi pada Maret 2011 lalu. Tsunami tersebut merupakan pengaruh dari gempa bumi Jepang berkekuatan dasyat 9 skala richter yang mengguncang kawasan Tohuku, wilayah di negera sakura waktu itu.

"Itu pernah. BMKG juga menginformasikan daerah di mana saja,"kata Kepala BMKG Stasiun Meterologi Tanjungpinang melalui Prakirawan Ardhito, Kamis (12/10/2018).

Baca: Terungkap, Tsunami di Palu Ternyata Ketinggiannya Ada yang Mencapai 11,3 Meter

Baca: Bersama Masyarakat Doakan Korban Bencana Gempa dan Tsunami

Baca: Hotman Paris Unggah Treasury Tower SCBD, Harganya Rp 350 M. Netizen : Rumah Kami Kena Tsunami

Waktu itu terjadi, masyarakat kala itu banyak yang tidak menyadari kalau di laut sebetulnya sedang tsunami. Kemungkinan karena tenaga tsunami yang terjadi kala itu kecil sehingga tidak begitu terasa.

Harus dipahami memang tsunami tidak melulu bersifat dasyat sampai masuk ke tengah permukiman dan merusak sejumlah bangunan. Dalam konteks Kepri waktu kejadian gempa bumi di Jepang 2011, kejadian tsunami tersebut terbilang dangkal sehingga nyaris tidak terasa sama sekali. Kondisi air laut juga seperti biasanya, bergelombang.

"Tsunami memang tidak selamanya besar dan tidak selamanya juga harus diawali dengan kondisi laut surut,"kata Ardhito.

Kejadian tsunami waktu itu datang dari arah Timur Laut, merembes ke laut Cina Selatan dan tiba di perairan Kepri dalam skala rendah. Tanjungpinang sendiri terbilang tidak terpengaruh signifikan karena karena terlindungi oleh Pulau Bintan. Wilayah Kepri ada di wilayah gugusan pulau secara geogfaris terlihat saling melindungi dari pengaruh tsunami.

Terkait gempa dan tsunami yang belakangan ini dilaporkan terjadi di daerah lain, BMKG Tanjungpinang menyatakan, Kepri terbilang wilayah yang masih aman dari potensi gempa bumi dan tsunami.

Dalam peta seismotektonik Indonesia (seismotectonikc map of indonesia), tergambar wilayah Kepri berada di warna hijau. Warna coklat dan orange disimbolkan sebagai wilayah menujukan menunjukan potensi gempa karena dilalui jalur sesar atau patahan gempa.

"Kalau dilihat dari peta seismositas, potensi gempa di Kepri cukup kecil sekali dan tentu juga potensi tsunami kecil juga. Tapi meski demikian, untuk bencana tidak ada salahnya kita selalu waspada terhadap ancaman bencana apa saja,"kata Ardhito.

Meski potensi gempa kecil, tapi sedikit catatan juga perlu diperhatikan dalam rangka antisipasi bencana lain semacam lahan longsor. Ini berkaitan dengan masifnya pembangunan properti seperti di Bintan dan Tanjungpinang saat ini. Bukan apa apa, secara musim, wilayah Kepri tidak memiliki musim kemarau dan lebih banyak musim hujan. Kondisi itu sedikit tidaknya berpengaruh dengan kondisi lahan yang ada.

"Secara musim, kita ini gak ada musim kemarau, lebih banyak hujannya. Ya mungkin tidak ada salahnya juga pembangunan yang ada sedikit perlu memperhatikan kondisi tata lingkungan guna mengantisipasi kondisi semacam lahan longsor,"kata Ardhito.(*)

Penulis: Aminnudin
Editor: Ucu Rahman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved