Permohonan Tahanan Kota Ratna Sarumpaet Ditolak Polisi

Polisi menolak permohonan yang dilayangkan tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet, untuk menjadi tahanan kota.

Permohonan Tahanan Kota Ratna Sarumpaet Ditolak Polisi
Tribunnews.com/Vincentius Jystha
Tersangka kasus penyebaran berita bohong, Ratna Sarumpaet saat tiba di Polda Metro Jaya 

TRIBUNBATAM.id - Polda Metro Jaya menolak permohonan yang dilayangkan tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet, untuk menjadi tahanan kota.

"Permohonan tersebut belum dapat dikabulkan," ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jumat (12/10/2018).

Baca: BERITA PERSIB - Bermarkas Sementara di Papua, Begini Cara Pemain Persib Bandung Pompa Semangat

Baca: BERITA PERSIB - Bermarkas Sementara di Papua, Begini Cara Pemain Persib Bandung Pompa Semangat

Baca: Samsung A7 2018 Dilengkapi 3 Kamera Belakang dengan Fungsi Beda. Cek Harga dan Spesifikasinya

Argo mengungkapkan keputusan itu keluar setelah penyidik melakukan evaluasi atas permohonan yang diajukan pihak Ratna.

 Hasil evaluasi menyebut permohonan belum dapat dikabulkan.

"Jadi permohonan sudah diterima penyidik dan kemudian dianalisis dan evaluasi," jelas Argo.

Sebelumnya, kuasa hukum Ratna Sarumpaet, Insank Nasruddin beralasan kalau pengajuan permohonan tahanan kota dilakukan, karena Ratna telah berusia cukup tua dan mengidap penyakit sehingga harus sering rutin melakukan kontrol ke Rumah Sakit.

Baca: Masuk Daerah Rawan Likuifaksi, Para Pakar Sebut 10 Kecamatan Ini Berpotensi Amblas saat Ada Gempa

Baca: Live Streaming Bhayangkara FC vs Sriwijaya FC di TV One Jumat Sore Ini. Kick Off Jam 15.30 WIB

Baca: Akibat Ulahnya, 2 Suporter Bola Ini Dilarang Masuk Stadion di Seluruh Indonesia Seumur Hidup

Seperti diketahui, polisi menetapkan Ratna Sarumpaet tersangka menyebarkan berita bohong alias hoaks soal penganiayaan.

Dirinya ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (4/10/2018) malam. Dia diciduk sebelum naik pesawat meninggalkan Indonesia.

Ratna disangkakan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 jo Pasal 45 Undang-Undang ITE terkait penyebaran hoaks penganiayaan.

Atas kasus tersebut, Ratna terancam 10 tahun penjara. Ratna juga terancam pasal 14 UU nomor 1 tahun 1946. Pasal ini menyangkut kebohongan Ratna yang menciptakan keonaran.

Editor: Rio Batubara
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved