Breaking News

Cerita Raja Ariza, Sempat Alami Agresi Militer Belanda di Tanjungpinang

Mantan Penjabat Walikota Tanjungpinang, Raja Ariza mengaku ia masih sempat mengalami peristiwa tersebut.

TRIBUNBATAM/M IKHWAN
mantan Pejabat Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza 

TRIBUNBINTAN.COM, BINTAN - Tahukah Anda, situasi agresi militer Belanda II pada 1949 di masa lalu tak hanya dirasakan di Pulau Jawa. Di Kepri, terkhusus di Tanjungpinang pun dirasakan.

Mantan Penjabat Walikota Tanjungpinang, Raja Ariza mengaku ia masih sempat mengalami peristiwa tersebut.

Ia terbilang masih kecil waktu itu. Namun beberapa peristiwa masih berbekas di ingatannya.

Agresi militer Belanda II tak hanya melibatkan Belanda sebagai lawan. Namun juga beberapa negara hingga sekutu. Tentara sekutu masuk ke Indonesia termasuk di Tanjungpinang.

"Di Tanjungpinang itu, di depan kantor Danyon Marinir, itu disemayam pantai kapal kapal sekutu sampai jaman 1970-an masih ada.

Kapal besi, kapal perang tentara sekutu masih ada. Disitulah bukti bahwa agresi ke II mereka (Belanda dan sekutu) ingin menguasai Indonesia. Tapi pada waktu itu dapat kita atasi merebut kembali Indonesia,"kata Ariza.

Cerita tentang agresi militer Belanda II dan situasi pasca kemerdekaan Tanjungpinang di masa 1940an diungkapkan Ariza di acara Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepri di Bhadra Resort, Jalan Wisata Bahari, Km 25 Toapaya, Bintan.

Hadir dalam acara FKPT Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun.

Ariza lalu menggambarkan pengalamannya merasakan situasi perpolitikan nasional di era 1960-an di Tanjungpinang. Berbagai paham muncul.

Termasuk situasi konfrontasi Indonesia dengan negara tetangga tahun. Hingga sampai dengan peristiwa yang kemudian disebut Gerakan 30 September 1965 pun terasa.

"Saya waktu masih berumur sekitaran empat-lima tahunan. Waktu itu kami diperintahkan untuk menggali lobang. Yang lahir di atas 65 mungkin tidak rasakan. Tapi kami yang lahir sekitaran tahun itu merasakan. Tahun 1964-196 masing masing rumah diperintahkan untuk membuat lobang sebagai tempat pelarian sembunyi. Karena kawasan kita daerahnya banyak pohon sagu, dinding lobang dibuat dari pelepah sagu. Di dalam disusun bikin kamar, bikin tempat tidur, macam macam, tahun 1964-1965"kata Ariza.

Ia bercerita, banyak sekali kejadian di rentang waktu 1964-1965. Ada peristiwa Gerakan 30 September PKI. Puncaknya putusnya hubungan Indonesia dengan negara tetangga.

"Puncaknya kita putus hubungan dengan Malaysia dan Singapura pada waktu itu. Terus terang saja, di Kepri ini pada waktu itu gak ada beras. Kita gak makan nasi di Kepri. Yang menyelamatkan masyarakat Kepri adalah sagu,"kata Ariza. (Min).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved