Dituduh Sebarkan Percakapan Asusila, Baiq Nuril : Pak Presiden, Saya Minta Keadilan, Saya Korban

Nuril yang sempat divonis bebas atas kasus pelanggaran UU ITE pada 2017 lalu oleh PN Mataram, harus kembali masuk penjara.

KOMPAS.com/FITRI
Baiq Nuril Maknun menghapus air matanya saat ditemui di rumahnya di perumahan BTN Harapan Permai, Labuapi, Lombok Barat, Senin (12/11/2018). Nuril kecewa atas keputusan MA yang mengabulkan kasasi Kejaksaan Tinggi NTB, atas kasus pelanggaran UU ITE. 

TRIBUNBATAM.id, LOMBOK BARAT - Baiq Nuril Maknun, pegawai honorer bagian Tata Usaha (TU) SMU 7 Mataram, harus menerima kenyataan pahit.

Nuril yang sempat divonis bebas atas kasus pelanggaran UU ITE pada 2017 lalu oleh PN Mataram, harus kembali masuk penjara karena Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi Kejaksaan Tinggi NTB dengan vonis 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta rupiah.

Seperti diketahui, pada 26 Juli 2017 silam Baiq Nuril divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mataram.

Keputusan majelis hakim menyatakan Nuril tidak terbukti menyebarkan percakapan asusila sang Kepala Sekolah SMU 7 Mataram yang bernama Muslim.

Baca: INFO CPNS 2018 - 1.322 Peserta CPNS 2018 Anambas Bakal Jalani Seleksi SKD. Begini Persiapan Panitia

Baca: 5 Anak ABG Tertabrak Mobil saat Masuk Tol Naik Motor Tak Pakai Helm dan Melawan Arus

Baca: Kenalan di Facebook, Gadis Ini Dicabuli 2 Pria Bergiliran dan Ditinggal Begitu Saja

Baca: INFO CPNS 2018 - Banyak Formasi Kosong, Kementerian PAN-RB Siapkan 2 Opsi Bagi Peserta Tak Lolos SKD

Ditemui di rumahnya di perumahan BTN Harapan Permai, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, Nuril hanya bisa menangis meratapi nasibnya.

“Untuk pak Presiden, saya cuma minta keadilan, karena saya di sini cuma korban. Apa saya salah kalau saya mencoba membela diri saya dengan cara-cara saya sendiri? Saya minta keadilan,” kata Nuril sambil terisak, Senin (12/11/2018).

Nuril yang mengenakan jilbab biru, berkali kali menghapus air matanya yang tumpah.

Dia sangat tidak percaya akan keputusan Mahkamah Agung yang justru menyatakannya bersalah.

"Seandainya keputusan MA itu yang paling tinggi, apa keputusan itu tidak bisa dibatalkan oleh keputusan yang lebih tinggi dari seorang seperti Presiden, saya cuma minta keadilan,” lanjutnya sembari makin terisak.

Nuril menuturkan, pada Jumat sore (9/11/2018) dia menerima kabar terkait keputusan MA atas kasusnya.

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved