BATAM TERKINI

Kejari Tangkap Terpidana Penipuan di ASDP Punggur, Herman Bantah Jadi DPO

Herman (45) terpidana penipuan, ditangkap Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam di Pelabuhan ASDP Punggur Kota Batam, Kamis (13/12/2018) sekitar puku

Kejari Tangkap Terpidana Penipuan di ASDP Punggur, Herman Bantah Jadi DPO
TRIBUNBATAM.id/FILEMON HALAWA
Herman terpidana perkara penipuan saat berada di kantor Kejari Batam setelah diamankan di pelabuhan ASDP Punggur, Kamis (13/12/2018) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Herman (45) terpidana penipuan, ditangkap Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam di Pelabuhan ASDP Punggur Kota Batam, Kamis (13/12/2018) sekitar pukul 14.15 WIB saat hendak menyebrang ke Tanjungpinang.

"Jadi pada saat mau nyebrang di situ tim kami langsung lakukan penangkapan di pelabuhan Punggur," kata Kasi Intel Kejari Batam Robi Harianto di Kantor Kejari Batam, Kamis (13/12/2018) sore.

Dijelaskan Robi, Herman merupakan terpidana atas putusan hukum berkekuatan hukum tetap (incrach) dari Mahkamah Agung RI. Herman terbukti sah dan meyakinkan melanggar pasal 378 KUHP jo pasal 55 ayat (1) atau pasal 372 jo pasal 55 ayat (1).

"Jadi sudah berkekuatan hukum tetap," katanya.

Herman sendiri yang ditemui di Kejari Batam mengakui ada firasat kalau akan dieksekusi oleh Jaksa. Hanya saja, Herman tetap santai saja. Dia beranggapan sejak awal perkara ini bergulir di PN Batam dan tidak ditahan. Karena kooperatif.

Baca: Korupsi Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar, Basaria Pandjaitan: Dana Sekolah Dipotong

Baca: Promo Akhir Tahun 2018, Banjir Diskon di Showroom Event Honda

Baca: Cara Memastikan Akun Fake dan Hemat Kuota di Instagram

Baca: Cara Membersihkan Sepatu dengan Benar Agar Awet, dari White Sneakers hingga Running Shoes

"Saya tahu, saya tidak merasa DPO. Karena bulan dua ini (Februari 2018) saya akan menyerahkan diri ke kejaksaan. Karena masih menunggu kerjaan yang masih ada di Manado Sulawesi Utara.Tapi itu (kebetulan ditangkap)," kata Herman.

Herman pun legowo ditangkap sebelum menyerahkan diri. Ia rela mempertanggung jawabkan perbuatannya di muka hukum.

"Saya ikhlas. Saya juga menjadi korban dalam kasus ini," kata dia.

Seperti diketahui, kasus yang menimpa dirinya itu dilaporkan oleh korban Denly Rianto ke Polresta Barelang pada akhir tahun 2016. Denly Rianto melaporkan Herman dan Andre Roberto Sitanggang.

Denly Rianto menyerahkan duit sebesar sekitar Rp 295.500.000 kepada Herman dan Andre Roberto Sitanggang untuk tujuan mengurus surat tanah milik Denly Rianto. Belakang diketahui, setelah penyerahan duit itu, surat-surat tak kunjung diurus. Sementara duitnya sudah dipakai.

Dalam perjalanan kasus itu., kepolisian metapkan Herman sebagai eersangka. Sementara Andre Roberto Sitanggang melarikan diri dan hingga kini masuk DPO di Polresta Barelang.

Saat persidangan, JPU menuntut Herman 2 tahun 6 bulan penjara. Namun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam yang memeriksa perkara bernomor 332/Pid.B/2017/PN.BTM dalam amar putusannya, memvonis Herman 5 bulan penjara.

Oleh JPU dalam perkara ini banding ke Pengadilan Tinggi Pekanbaru Riau. Di Pengadilan Tinggi Pekanbaru memvonis Herman 1 tahun penjara. Artinya, lebih berat dari vonis sebelumnya.

Kemudian, JPU dalam perkara ini lagi-lagi melakukan kasasi ke Mahkamah Agung RI. Oleh Mahkamah Agung menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru, yakni 1 tahun penjara. Putusan Mahkamah Agung dicatat dengan nomor 193k/PID/2018 tertanggal 28 Maret 2018.(leo)

Penulis: Leo Halawa
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved