Pelabuhan Roro Rawan Penyeludupan, Bea dan Cukai Ungkap 5 Kasus di Pelabuhan Roro Tanjunguban

ada 8 kasus tahun ini kita lakukan proses penyidikan. Ada dua kasus yang sudah vonis. Ada lima yang sudah kita kirimkan SPDP ke Kejari Bintan.

Pelabuhan Roro Rawan Penyeludupan, Bea dan Cukai Ungkap 5 Kasus di Pelabuhan Roro Tanjunguban
TRIBUNBATAM.id/WAHIB WAFA
Agus Yulianto Kepala DJBC Kepri 

TRIBUN.BATAM.id, TANJUNGPINANG - Pelabuhan Roro Tanjunguban menjadi pintu resmi yang rawan penyelundupan barang. Hal itu dibuktikan dengan adanya 5 kasus penyeludupan terakhir yang diungkap Bea dan Cukai (BC) Tanjungpingpinang.

Penyelundupan tersebut melalui kendaraan darat ke kapal Roro. Atas kasus tersebut pihak BC Tanjungpinang telah mengirimkan Surat Pemberian Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejari Bintan.

Sodikin Kepala BC Tanjungpinang membenarkan bahwa pengungkapan proses penyidikan sudah dilakukan dan telah menetapkan para tersangka.

"Kan ada 8 kasus tahun ini kita lakukan proses penyidikan. Ada dua kasus yang sudah vonis. Ada lima yang sudah kita kirimkan SPDP ke Kejari Bintan. Sudah ada tersangka cuman saya lupa datanya siapa saja," kata Sodikin dikonfirmasi, Kamis (20/12/2018).

Dia membenarkan beberapa kasus yang diungkap belum lama ini berada di area Pelabuhan Tanjunguban atau Pelabuhan Roro. Informasi yang beredar salah satu tersangka bernama Ahi pengusaha di Tanjungpinang. Namun Sodikin tidak bersedia menyebutkan nama dengan alasan etika.

Baca: Bawaslu Karimun Sesalkan Pernyataan Ketua Partai Perindo Kepri. Nurhidayat: Sangat Tidak Berdasar!

Baca: Inneke Koesherawati Dicecar Hakim soal Bilik Cinta: Saya Risih Ditanya Hubungan Biologis

Baca: Selama Natal dan Tahun Baru, Dishub Kota Batam Derek Mobil Parkir Sembarang di Tiga Pelabuhan Ini

Baca: Target Desember 2018 Seleksi Selesai, 12 Orang Calon Kepala Dinas Lanjut Tes Assessment 

"Saya tak bisa menyebutkan salah satu nama karena secara etika nggak bisa. Nanti saya cari namanya kalau inisial tidak apa-apa. Ini betul penindakan yang kita lakukan di wilayah pabean pelabuhan Roro," tuturnya.

Rawanya penyelundupan melalui pelabuhan Roro ini merupakan barang yang semestinya masuk wilayah FTZ Batam yang tidak bisa keluar tanpa izin.

"Ada kawasan Batam FTZ yang memang masuk tidak kena bayar dan tetap ada ketentuan yang berlaku. Ketika barang itu dikeluarkan ada aturan yang harus dipenuhi dibayar dipenuhi aturan yang berlaku. Kita memang kategorikan (Pelabuhan Roro Tanjunguban) menjadi salah satu pintu masuk yang rawan," tambah Agus Yulianto Kepala DJBC Kepri.

Sementara itu Haza Putra Kasipidsus Kejari Bintan menyebutkan bahwa telah menerima SPDP namun belum ada tindak lanjut pengiriman Berkas penyidikan lanjut ke Kejari Bintan alias masih SPDP.

"Belum ada," kata Haza singkat.(wfa)

Penulis:
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved