Bantah Tidak Hormati Persidangan, Penasihat Hukum Edyson Sebut Tidak Terima Surat Panggilan Jaksa

Mario W Tanasale, Penasiah Hukum, Edyson Tatulu caleg Perindo membantah bila tak hormati persidangan, seperti yang diberitakan sebelumnya

Bantah Tidak Hormati Persidangan, Penasihat Hukum Edyson Sebut Tidak Terima Surat Panggilan Jaksa
TRIBUNBATAM.id/ISTIMEWA
Mario W Tanasale 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Mario W Tanasale, Penasiah Hukum, Edyson Tatulus caleg Perindo membantah bila tak hormati persidangan, seperti yang diberitakan sebelumnya.

"Kami sangat kaget atas pemberitaan itu. Perlu kami tegaskan disini bahwa, ketidakhadiran klien Kami dalam setiap persidangan yang digelar PN Tanjung Balai Karimun bukan karena dirinya tidak menghormati persidangan sebagaimana disebut Majelis Hakim," kata Mario, Senin (24/12/2018).

"Akan tetapi ketidakhadiran klien Kami dalam setiap persidangan disebabkan karena surat panggilan untuk sidang sebagai terdakwa dari jaksa tidak pernah diterima oleh klien kami," jelas Mario.

Disampaikannya, bahwa kliennya tersebut merasa tidak pernah diperiksa sebagai tersangka dalam kasus ini, dan surat panggilan untuk sidang sebagai terdakwa dari jaksa juga tidak pernah diterima oleh kliennya.

Baca: Sidang Money Politic Caleg Perindo Kepri, Saksi Ahli Kuatkan Dakwaan JPU

Baca: Sidang Dugaan Money Politic Caleg Perindo Kepri - Hakim Sebut Edyson Tak Hormati Persidangan

Baca: Bawaslu Karimun Sesalkan Pernyataan Ketua Partai Perindo Kepri. Nurhidayat: Sangat Tidak Berdasar!

Baca: Hadirkan 11 Saksi Perkara Money Politic Caleg Perindo, Terdakwa Edyson Mangkir dari Sidang

"Perlu diketahui pula bahwa, dalam kasus ini sudah ada tersangka yang di SP3-kan dengan Surat Ketetapan Nomor : S.Tap / 68.b / XII / 2018 tentang penghentian penyidikan atas anama Andi Kusuma, dikeluarkan oleh Kepolisian Resor Karimun," ujarnya.

"Dimana LP dan SPDP nya menjadi satu nomor LP dengan klien kami Bapak Dr. Edyson Tatulus yaitu Laporan Polisi Nomor : LP.B / 133 / XI / 2018 / Reskrim, tanggal 14 November 2018 di Kepolisian Resor Karimun," katanya.

Seharusnya, menurut Mario, Jaksa tidak bisa menerima kasus ini atau P21, karena nomor LP dan SPDP nya menjadi satu dengan tersangka yang di SP3.

Sebagaimana diketahui bahwa apabila ada tersangka di dalam nomor LP dan SPDP yang sama sudah di SP3 kan maka seharusnya penyidik memulai kembali dengan nomor LP yang baru dengan nama tersangka yang baru.

"Jadi sekali lagi kami tegaskan, bahwa klien kami tidak pernah mangkir apalagi bermaksud untuk menghina persidangan. Ketidakhadiran dari klien kami dikarenakan tidak adanya panggilan tertulis dari pihak kejaksaan untuk menghadiri persidangan di PN Tanjung Balai Karimun sebagai terdakwa," tegasnya.

Ia pun menyampaikan, dari penjelasan ini, mengharapkan dapat diambil kesimpulan yang objektif dan berimbang serta bijaksana, sehingga terhindar dari sikap tendensius dan menghakimi tanpa tahu alasan yang sebenarnya.

"Jadi tetap menghormati hak-hak klien kami dengan mengedepankan azas praduga tak bersalah, serta persamaan hak dimuka hukum. Kami yakin uraian singkat ini bisa menjawab pertanyaan apakah klien kami bapak Edyson Tatulus yang mangkir atau jaksa yang tidak profesional," ujarnya.(dra)

Penulis: Endra Kaputra
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved