BATAM TERKINI

Dukung Industri Rokok Elektrik Lokal, NCIG Indonesia Hadir Sebagai POD Pertama yang Bercukai

Produk perdana dari PT NCIG INDONESIA MANDIRI yakni device closed system atau biasa disebut POD telah memasang target ekspor di Asia Tenggara.

Dukung Industri Rokok Elektrik Lokal, NCIG Indonesia Hadir Sebagai POD Pertama yang Bercukai
ISTIMEWA
Kiri-kanan Ketua Asosiasi Vapers Indonesia (AVI) Johan Sumantri bersama Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Garindra Kartasasmita, Komisaris Utama PT YNOT Kreasi Indonesia Harry Dwijaya, Kepala Seksi Tarif Cukai dan Harga Dasar 2 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI Agus Wibowo, CEO NCIG International Shariffuddin Bujang serta CEO NCIG Indonesia Roy Lefrans sesaat setelah Press Conference "Dukung Industri Rokok Elektrik Lokal, NCIG Indonesia Hadir sebagai POD Pertama yang Bercukai” pada Jumat, 22 Maret 2019 di Balai Kartini, Jakarta Selatan. 

“NCIG adalah produk full closed system yang praktis, pengguna bisa langsung pakai tanpa perlu repot mengisi liquidataupun mengganti kapas. Demi kenyamanan, cartridge NCIG (NPOD) dapat langsung diganti ketika liquid-nya sudah habis. NCIG hadir sebagai representasi cara merokok di masa depan dan memberikan alternatif rokok elektronik yang aman serta berkualitas bagi pengguna di Indonesia,” ucap Roy.

Lebih lanjut, Roy menjelaskan bahwa target produksi NCIG sampai akhir tahun 2019 sebesar 1 juta starter kit, dengan harapan device ini dapat diterima dan menjadi solusi terapi yang aman dan efektif.

Produk NCIG merupakan satu-satunya produk closed system yang diluncurkan resmi di Indonesia yang sudah memenuhi standar internasional, diantaranya dari Food and Drug Administration(FDA) Amerika Serikat, Tobacco Products Directive (TPD) Eropa dan Canadian Counselling and Psychotherapy Association(CCPA) Kanada.

Pembina Asosiasi Vaper Indonesia (AVI), Dimasz Jeremia yang juga mantan perokok aktif menceritakan bagaimana sulitnya berhenti merokok dan rokok elektrik merupakan solusi yang efektif dan aman.

“Banyak orang yang tidak menyadari bahwa berhenti merokok bukan hanyalah soal tantangan psikologis, namun juga fisik. Berdasarkan survei internal AVI kepada para vapers, rokok elektrik merupakan alternatif yang mampu menyerupai pengalaman mengonsumsi rokok konvensional dan secara efektif bisa menggantikan posisi rokok tembakau dengan produk alternatif yang lebih tidak berbahaya.  Sayangnya masih ada stigma dan pemahaman yang kurang tepat di masyarakat mengenai rokok elektrik. Padahal di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris telah mengeluarkan izin untuk pemanfaatan rokok elektrik sebagai alat mengurangi konsumsi tembakau dan terbukti di ketiga negara tersebut telah mengalami penurunan angka prevalensi merokok” tutur Dimasz.

Menurut data APVI per 2018, industri rokok elektrik telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja di Indonesia. Jumlah produsen liquid di seluruh Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 300, produsen alat dan eksesoris lainnya lebih dari 100, distributor atau importir lebih dari 150, pengecer lebih dari 5.000 dan kategori pengusaha rokok elektrik lainnya mencapai lebih dari 50.

Ketua APVI, Aryo Andrianto memberikan dukungan kepada NCIG untuk turut memberikan kontribusi positif bagi industri rokok elektrik.

“Kami antusias dengan akan diluncurkannya produk perdana NCIG Indonesia yang menghadirkan ragam pilihan device bagi para vapers di Indonesia. Dengan adanya payung hukum dari pemerintah, kami semakin yakin industri rokok elektrik lokal akan terus berkembang. Kami sebagai pelaku di industri rokok elektrik juga akan terus melakukan inovasi dengan mengutamakan perlindungan kepada konsumen. Serta kami bersama-sama melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meluruskan pemahaman yang kurang tepat selama ini mengenai rokok elektrik," tuturnya. (*/tribunbatam.id/anne maria)

Penulis: Anne Maria
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved