Breaking News:

Begini Cara Menghitung Suara Agar Dapat Kursi Sebagai Anggota DPR & DPRD Provinsi, Kabupaten, Kota

Bagaimana mekanisme penghitungan perolehan kursi baik di DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten atau Kota saat Pemilu 2019 kali ini? Simak di sini.

TRIBUNBINTAN.COM/ALFANDI SIMAMORA
Suasana penghitungan suara di TPS Rutan Kelas II A Batam 

TRIBUNBATAM.id - Saat ini, hasil perhitungan real count hasil Pemilu dan Pilpres 2019 sedang dalam proses oleh KPU. 

Meski orang lebih fokus pada Pilpres dibandingkan Pemilu Legislatif, tapi tak ada salahnya jika kita memahami bagaimana mekanisme penghitungan perolehan kursi baik di DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten atau Kota saat Pemilu 2019 kali ini.

Pelaksanaan Pemilu 2019 ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Begitu juga cara perhitungan jumlah suara untuk tiap kursi di DPRD kabupaten/kota, DPRD Provinsi, dan DPR RI.

Pada tahun 2014 penentuan kursi dilakukan dengan memakai metode Quote Harre atau BPP (Bilangan Pembagi Pemilih)

Sedangkan pada pemilu 2019 menggunakan teknik Sainte Lague murni untuk penentuan kursi partai.

Pemilu tahun 2014 dikenal Sistem Quote Harre dikenal dengan istilah bilangan pembagi pemilih (BPP).

BPP digunakan untuk menetapkan suara sesuai dengan jumlah suara dibagi dengan jumlah kursi yang ada di suatu dapil.

Metode ini cenderung merugikan partai besar dikarenakan hak untuk mendapat kursi secara maksimal harus terlempar pada partai bersuara kecil dikarenakan asas pembagian pemilih tersebut.

HASIL Real Count KPU Pilpres 2019 Sabtu (20/4) Jam 10.00 WIB Data Masuk 4,64 Persen, Siapa Unggul?

Beda Perolehan Suara Jokowi Saat Pilpres 2014 dan 2019, Jumlah Suara di 8 Provinsi Melonjak

Anggota Dewan Tewas Diracun Dosen Cantik, Polisi Dalami Motif Pembunuhan

Bayi 20 Bulan Dikurung Ayahnya di Kandang Anjing, Foto Anak Kemudian Dikirim ke Mantan Istri

Andi Arief Umumkan Pesan Terbuka Untuk Amien Rais Lewat Twitter: Tak Usah Sok Jago Nantang SBY

Sedangkan metode Saint League Murni, digunakan pada Pemilu 2019 ini, adalah metode penghitungan suara yang menggunakan angka pembagi untuk mengalokasikan kursi yang diperoleh setiap partai politik dalam sebuah dapil.

Angka yang digunakan untuk pembagi adalah angka ganjil (1,3,5,7,dst).

Jumlah suara yang telah dibagi oleh angka ganjil tersebut akan diperingkatkan dan menentukan siapa saja partai/caleg yang lolos.

Dalam konteks sejarah teknik ini dipopulerkan dan diperkenalkan oleh seorang matematikawan asal Prancis bernama Andre Sainte Lague pada tahun 1910.

Partai terlebih dahulu dihadapkan pada perhitungan ambang batas parlemen.

Sesudah partai memenuhi ambang batas parlemen, langkah selanjutnya adalah menggunakan metode Sainte Lague untuk mengkonversi suara menjadi kursi di DPR.

Secara regulasi itu tertera dalam Pasal 415 (2) Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu).

Yaitu setiap partai politik yang memenuhi ambang batas akan dibagi dengan bilangan pembagi 1 yang diikuti secara berurutan dengan bilangan ganjil 3,5, 7 dan seterusnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Sumsel
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved