BATAM TERKINI

Hoax Ricuh Hitung Suara GOR Bandara Batam Kota, Polisi Tetapkan 1 Tersangka Seorang Wanita

Polda Kepri melalui Subdit V Direktorat Kriminal Khusus Polda Kepri menetapkan seorang tersangka kasus hox video kericuhan rekapitulasi GOR Bandara

Hoax Ricuh Hitung Suara GOR Bandara Batam Kota, Polisi Tetapkan 1 Tersangka Seorang Wanita
TRIBUNBATAM
Wakapolda Kepri Brigjen Pol Yan Fitri Halamansyah menyampaikan keterangan pers penetapan tersangka kasus hoax kericuhan saat penghitungan suara di PPK Batam Kota 

TRIBUNBATAM.id - Polda Kepri melalui Subdit V Direktorat Kriminal Khusus Polda Kepri menetapkan seorang tersangka kasus hox video kericuhan rekapitulasi GOR Bandara Batam Kota.

Seorang wanita yang ditetapkan menjadi tersangka yakni Khalijah (37) warga Batam.

Wakapolda Kepri Brigjen Pol Yan Fitri Halamansyah menyampaikan kasus hoax bermula dari satu grup whatsapp pada Minggu (21/04/2019) sekitar pukul 20.30 Wib.

Tersangka  membuat dan menebarkan hoax dan menjadi korban pihak kepolisian

"Yang bersangkutan menyampaikan berita bohong dalam bentuk rekaman voice note yang menyebutkan intinya mengajak teman teman dari kelompok tertentu seolah olah kondisi disalah satu tempat PPK dalam keadaan tidak aman," katanya, Senin (22/04/2019)

Selanjutnya, dalam rekaman yang berbunyi ajakan kepada kelompok tersebut.

Real Count KPU Pilpres 2019 Terbaru Selasa Jam 07.45 Jokowi vs Prabowo Kian Seru di Kepri

Dikabarkan Fadli Zon Tak Lolos ke Senayan, Yunarto Wijaya Beberkan Beberapa Fakta Berikut

Bersangkutan mendengar sebanyak dua kali bunyi tembakan yang dilakukan oleh polisi

"Dalam hal ini perlu saya sampaikan kepada rekan rekan. Bahwa dalam pengamanan pemilu yang dilakukan sejak 2018 lalu. Anggota Polri maupun TNI yang dilibatkan dalam pengamanan tidak diperbolehkan membawa senjata api," tegasnya yang mengulang sebanyak dua kali

Perbuatan wanita ini pun yang sangat disayangkan. Sebab sudah membuat keresahan, serta menuduh Polri sudah melanggar SOP dalam pengamanan

"Padahal Kepri sendiri, hingga tahapan rekapitulasi ini masih dalam kondisi aman dan kondusif. Tapi apa yang dilakukan, seolah olah Batam tidak aman," ujarnya kecewa.

Disampaikannya, atas kasus ini juga menjadi pelajaran dan edukasi bagi masyarakat Kepri untuk lebih bijak dalam bermedia sosial.

"Jangan melakukan sesuatu perbuatan perbuatan yang dapat merugikan pihak pihak. Apalagi, informasi itu belum diyakini kebenarannya. Lakukan penggunaan media sosial dengan norma norma yang ada. Etika penggunaan media sosial perlu kita tingkatkan lagi, agar tidak terulang kembali peristiwa ini," ujarnya.

Atas kasus ini pun, tersangka akan dijerat undang undang ITE dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

"Ingat penyebar hoax juga bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Dalam UU tersebut, ada dua pasal yang bisa menjerat penyebar hoax yaitu pasal 14 dan pasal 15," sebutnya.

Dalam pasal 14 sendiri berbunyi, barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

"Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan la patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun," tambahnya.(Tribun Batam, Endra Kaputra

Penulis: Endra Kaputra
Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved