Senin, 1 Juni 2026

Pelaku Bom Sri Langka Anak Orang Kaya, pernah Sekolah di Inggris dan Australia

Dari 9 pelaku bom Sri Langka ada kakak-beradik melakukan aksi bom bunuh diri di dua hotel. Mereka anak keluarga kaya dan berpendidikan

Tayang:
NY Times
Keluarga korban bom Sri Langka yang berduka 

TRIBUNBATAM.ID, COLOMBO - Setidaknya 359 orang tewas dan lebih dari 200 orang lainnya terluka akibat ledakan bom di tiga gereja dan tiga hotel di Sri Lanka saat umat Kristen merayakan Paskah, Minggu (21/4/2019)/

Di antara pelaku ada kakak-beradik, yang menjadi pengebom bunuh diri di dua hotel Sri Lanka.

Keduanya ternyata anak keluarga kaya di Kolombo.

Ayah kedua pelaku adalah pedagang rempah-rempah yang amat kaya di ibu kota Sri Lanka itu.

Ternyata India 3 Kali Beri Peringatan Sebelum Bom Sri Langka. PM Ranil: Kalau Saja Saya Diberi Tahu

Berbadan Dua, Nikita Mirzani Antusias Ikuti Sidang Kriss Hatta: Awas kasih jalan, Nyai mau lihat

AHY Tak Kuat Menahan Tangis Saat Ditanya Kondisi Sang Ibunda Ani Yudhoyono di Singapore

Keduanya meledakkan diri saat mengantre sarapan pagi di hotel Shangri-La dan Grand Cinnamon.

Demikian sejumlah sumber mengatakan, seperti dilansir Kompas.com. 

Kedua kakak beradik, yang namanya belum diungkap polisi, berusia di akhir 20-an dan mengoperasikan "sel keluarga" mereka sendiri.

Namun, sejauh ini belum diketahui hubungan keduanya dengan pengebom lain yang terlibat dalam serangan di Minggu Paskah tersebut.

Satu hal yang diketahui adalah keduanya merupakan anggota inti National Thowheeth Jamaath (NTJ) yang dituding pemerintah mendalangi serangan itu.

Sementara, sumber-sumber resmi kepada AFP mengatakan, hotel keempat juga menjadi target serangan.

Seorang pengebom masuk ke hotel itu sebagai tamu sehari sebelumnya dan memberikan alamatnya kepada petugas hotel.

Dia sudah berada di hotel itu pada Minggu tetapi dia tidak meledakkan detonatornya.

Belum diketahui apakah bom yang dibawanya gagal bekerja atau pelaku berubah pikiran dan tak jadi menjalankan misinya.

Setelah ledakan terjadi di Shangri-La, staf di hotel keempat ini menaruh curiga dan melacak pria tersebut.

Dia kemudian ditemukan di sebuah penginapan sedikit di luar kota.

Di sanalah dia meledakkan diri saat dikepung polisi dan menewaskan dua orang lainnya.

Pernah Sekolah di Inggris

Pelaku bom Sri langka terekam sebelum beraksi. Berasal dari keluarga kaya dan berpendidikan

Pemerintah Sri Lanka juga mengungkapkan bahwa salah satu pelaku ledakan bom di delapan titik itu merupakan orang yang berpendidikan.

Otoritas setempat menyatakan korban tewas mencapai 359 orang, dan 500 lainnya terluka.

Sebanyak 60 orang ditangkap setelah ledakan bom yang mengerikan tersebut.

Diberitakan BBC Rabu (24/4/2019), polisi menjelaskan terdapat sembilan orang yang ditengarai sebagai pelaku, delapan di antaranya telah teridentifikasi.

Dalam konferensi pers, Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene memberikan detil lebih banyak.

"Kami meyakini salah satu pelaku bom bunuh diri pernah belajar di Inggris dan menyelesaikan pendidikan pasca-sarjana di Australia sebelum kembali ke Sri Lanka," terang Wijewardene.

Dia mengatakan, kebanyakan dari pelaku merupakan orang berpendidikan dan datang dari keluarga kelas menengah ke atas.

"Mereka mendanai operasi dan keluarga mereka stabil secara finansial," papar dia.

Pihak keamanan saat ini sedang mencari hubungan antara kelompok yang melakukan serangan dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) selaku kelompok yang mengklaim.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan NJT tentu tidak bisa dilakukan secara internal.

"Mereka mendapat pelatihan dan koordinasi yang belum pernah kami lihat," terang dia.

Suasana di dalam gereja paska ledakan bom Minggu (21/4/2019)
Suasana di dalam gereja paska ledakan bom Minggu (21/4/2019) (twitter/globaltimes)

Wijewardene sebelumnya menuturkan ledakan bom itu merupakan serangan balasan atas penembakan yang terjadi di dua masjid Christchurch, Selandia Baru.

Ekstremis kulit putih berkewarganegaraan Australia melakukan serangan di Masjid Al Noor dan Linwood ketika para jemaah tengah melaksanakan Shalat Jumat, dan menewaskan 50 orang.

Namun, yang miris, iontelijen India sempat mengirimkan tiga kali peringatan kepada Sri Langka tiga hari sebelum ledakan hingga 1 jam sebelum serangan.

Namun, karena adanya perpecahan di tingkat pimpinan tinggi lembaga, antara PM dan Presiden, laporan itu tidak disampaikan oleh pihak-pihak keamanan kepada Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved