Adian Napitupulu Ribut dengan Dokter Bahas Banyak Petugas Pemilu Meninggal: Kok Hakimi Kerja Orang

Politisi Adian Napitupulu ribut dengan dokter spesialis syaraf saat membahas kematian ratusan petugas Pemilu, anggota KPPS dan PPK di sejumlah daerah.

Adian Napitupulu Ribut dengan Dokter Bahas Banyak Petugas Pemilu Meninggal: Kok Hakimi Kerja Orang
screengrab
Adian Napitupulu dan Dokter Syaraf Ani Hasibuan 

TRIBUNBATAM.id - Politisi Adian Napitupulu ribut dengan dokter spesialis syaraf saat membahas kematian ratusan petugas Pemilu, anggota KPPS dan PPK di sejumlah daerah.

Awalnya, dokter Ani Hasibuan tidak sepakat apabila kematian 554 petugas Kelompok Petugas Pemungutan Suara (KPPS) disebut karena kelelahan.

Ia justru mengkritisi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang terkesan lalai dalam mencari orang yang bertugas, dengan tidak memastikan mereka dalam kondisi sehat.

Hilda Vitria Akhirnya Blak-blakan Penyebab Putus dengan Billy Syahputra: Benarkah Ada Orang Ketiga?

17 Dosa Wanita Yang Paling Dibenci Allah, Ternyata Sering Dilakukan, Mulai Perilaku hingga Pakaian

Resep Minuman Segar untuk Buka Puasa di Bulan Ramadan 2019, Mulai Es Kopyor Hingga Es Dalimun

Pernyataan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber di acara Catatan Demokrasi Kita TV One, Selasa (7/5/2019).

Di awal penjelasan dr. Ani merasa beban kerja yang diemban petugas KPPS tidak memiliki kelebihan yang berarti.

Bahkan dia sempat membandingkan dengan tugas seorang dokter spesialis yang beban kerjanya lebih berat.

“Kalau kita bicara fisiologi, kelelahan itu kan kaitannya dengan fisik. Orang beraktifitas dia pakai gula, metabolisme. Kalau dia capek, hipoglikemia, dia lapar. Kalau enggak, dia hipoksia, dia ngantuk. Orang capek itu, dia ngantuk dan lapar. Kalau dipaksa, dia pingsan, yah mati dong.

“Dan saya lihat beban kerja, itu beban kerjanya saya nggak melihat ada fisik yang sangat capek. Justru yang lebih capek itu dokter yang lain ambil spesialis mas. Kerja 3 hari 3 malam, itu nggak ada yang mati. Adanya makin gendut. KPPS ada 7 orang, bisa bergantian,” ucapnya.

Wanita itu juga menambahkan bahwa selama 22 tahun berprofesi sebagai dokter, dirinya tidak pernah dirinya menemukan kasus kematian yang disebabkan karena kelelahan.

“Kalau ada gangguan jantung di awal, kemudian dia bekerja, fisik diforsir, kemudian sakit jantungnya dipicu. Berarti itu karena sakit jantungnya dong, bukan karena kelelahan.”

Halaman
1234
Editor: Alfian Zainal
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved