MUTIARA RAMADHAN

Mutiara Ramadhan: Puasa dan Daya Tahan Emosi

pada bulan Ramadan, ada dua orang mitra bisnis yang sedang bertikai sengit di sebuah perkantoran karena masalah bisnis mereka sedang down.

Mutiara Ramadhan: Puasa dan Daya Tahan Emosi
Tribunnews
KH Muhammad Cholil Nafis 

oleh Ketua Komisi Dakwah MUI KH

Cholil Nafis Lc MA PhD

ALKISAH, pada bulan Ramadan, ada dua orang mitra bisnis yang sedang bertikai sengit di sebuah perkantoran karena masalah bisnis mereka sedang down. Masing-masing menyampaikan argumen keras, sehingga tidak ada titik temu untuk mencari jalan keluar.

Lalu tiba-tiba seorang dari mereka menyalahkan dan mengeluarkan kata-kata dan tuduhan yang tidak pantas. Sementara kawannya mencoba menahan diri, meski rasa sakit hati memuncak.
Dalam batinnya bergejolak kuat karena merasa diperlakukan tidak adil oleh mitranya. Dia sudah mencoba bekerja secara profesional, namun rupanya mitranya menuduh secara sepihak.
Karena dia sadar sedang berpuasa, lalu ia berkata, "Maaf teman, tuduhan kamu itu tidak benar. Saya cukup mengatakan ini dan tidak mau melayani amarahmu karena saya sedang berpuasa." Sikap orang yang dituduh tersebut sungguh sangat mulia.

Ia sebenarnya sangat marah karena dituduh oleh mitranya tanpa bukti yang relevan dan kuat. Namun, sikap dan responnya menunjukkan sebagai pribadi yang matang. Ia tidak merespon emosi balik, tetapi ia menunjukkan akhlaknya sebagai seorang yang berpuasa.

Sikap tersebut sejalan dengan spirit sebuah Hadits Qudsi yang ditakhrij oleh Imam Bukhari, yaitu: Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Puasa itu benteng, maka janganlah berkata keji dan jangan berbuat bodoh. Jika seseorang menentang atau memakinya, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa." --dua kali.

Contoh kasus di atas juga memiliki makna yang sama dengan sebuah Hadits lain yang cukup populer: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, selalu mengerjakannya dan tidak meninggalkan kebodohan, maka Allah tidak akan memberikan pahala atas puasanya." (HR al-Bukhari).
Narasi kedua Hadits di atas sesungguhnya ingin menegaskan puasa itu hakikatnya adalah "al-imsak" atau mengendalikan diri. Puasanya seseorang tanpa pengendalian diri yang baik, puasanya akan sia-sia seperti yang pernah dikatakan Rasulullah saw: "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi ia tak mendapatkan apapun dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR Ahmad).

Banyak kita jumpai pada bulan Ramadan seperti sekarang ini begitu banyak orang yang sedang berpuasa, tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan suami-istri, bahkan mereka membaca Al-Quran dan rajin shalat sunnah, tetapi pikirannya, perasaannya, dan mulutnya tetap berburuk sangka, membicarakan aib orang lain (ghibah), menuduh kawannya sendiri tanpa alasan yang benar, berkata kotor, dan lain-lain.

Orang yang kuat

Puasa sesungguhnya mengajarkan kita untuk menjadi orang kuat. Menjadi orang yang tahan terhadap dorongan emosi, membuat kita semakin matang dalam menghadapi situasi buruk. Puasa juga membuat kita mampu untuk tidak mudah mengikuti kehendak nafsu, seperti berhubungan suami isteri di siang hari, atau bahkan mampu menundukkan pandangan syahwat kepada lawan jenis.
Namun saat puasa yang haus dan lapar sering menjadi pemicu emosi sehingga kurang bisa ditahan. Apalagi saat ada stimulus yang membuat kita tersinggung. Di sinilah kebesaran jiwa orang berpuasa sedang diuji.

Nabi menyebut orang kuat bukanlah orang paling hebat dalam pertarungan fisik, tetapi mereka yang mampu mengendalikan emosi saat marah melanda. Dari Abdullah bin Mas'ud berkata, Rasulullah saw bersabda: "Menurut kalian, siapa yang kalian anggap paling kuat?" para sahabat menjawab, "Orang yang tidak terkalahkan dalam adu gulat." Beliau bersabda: "Bukan itu, orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya saat marah." (HR Abu Daud).

Hadist tersebut jelas memberi pesan untuk menahan dan mengontrol emosi saat marah. Orang yang kuat adalah orang yang bisa mengalahkan dorongan jiwa kebinatangannya. Tidak sedikit seseorang mampu mengalahkan orang lain, namun terhadap dirinya sendiri tidak sanggup melawan hawa nafsunya.

Apalagi ia dalam keadaan berpuasa, yang sudah seharusnya mampu mengendalikan emosinya dalam rangka mendapatkan pahala dari Allah. Allah telah berjanji akan memberikan surga bagi siapa saja yang mampu menahan hawa nafsunya, sebagaimana: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)." (QS: 79: 40-41

Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved