RESMI, Harga Tiket Pesawat Wajib Turun Paling Lambat 18 Mei 2019 Jam 00.01 WIB

Kapan harga tiket pesawat mulai turun? Maskapai penerbangan nasional wajib menurunkan harga tiket pesawat rute domestiknya paling lambat pada Sabtu

RESMI, Harga Tiket Pesawat Wajib Turun Paling Lambat 18 Mei 2019 Jam 00.01 WIB
Istimewa
ilustrai tiket pesawat 

TRIBUNBATAM.id - Kapan harga tiket pesawat mulai turun? Maskapai penerbangan nasional wajib menurunkan harga tiket pesawat rute domestiknya paling lambat pada Sabtu (18/5/2019) pukul 00.01 WIB.

Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

"Aturan ini ditandatangani, Rabu malam (15 Mei 2019). Badan Usaha Angkutan Niaga Berjadwal harus segera melakukan penyesuaian paling lambat 2 (dua) hari sejak tetapkan keputusan menteri ini," ujar Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Menurut Polana, keputusan ini diambil setelah melakukan rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinasi Perekonomian yang memutuskan untuk melakukan perubahan pada tarif batas atas tiket pesawat.

Penurunan tarif batas atas ini sebanyak 12 sampai 16 persen.

"Revisi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap aspirasi dari masyarakat dengan tetap memperhatikan keberlangsungan industri penerbangan, terutama menjelang pelaksanaan Angkutan Lebaran tahun 2019," kata Polana.

Harga Tiket Garuda Batam-Medan Rp 4 Jutaan, Begini Kondisi Terkini Bandara Hang Nadim Batam

Polana menambahkan, penurunan tarif batas atas ini tentu saja tetap mengedepankan faktor-faktor substansial seperti keselamatan, keamanan dan juga On Time Performance.

"Keputusan baru ini akan dilakukan evaluasi secara berkala setiap tiga bulan dan atau jika terjadi perubahan signifikan yang mempengaruhi keberlangsungan kegiatan badan usaha angkutan udara," ucap dia.

Aturan soal tiket pesawat ini berlaku untuk maskapai dengan pelayanan full service, medium service, dan no frill atau low cost carrier.

Bandara Kena Imbas harta tiket pesawat masih mahal

Beberapa hari sebelumnya gejolak harga tiket pesawat masih mahal menggelayuti masyarakat Indonesia, satu di antaranya berdampak juga pada bandar udara yang ada di berbagai daerah. 

Persoalan harga tiket pesawat masih mahal ini memberi ekses yang berpengaruh bagi eksistensi bandar udara.  

Akibat harga tiket pesawat masih mahal, sejak akhir 2018 lalu, pengelola Bandar Udara Internasional atau Bandara Minangkabau (BIM), PT Angkasa Pura II Cabang BIM mengalami penurunan pendapatan hingga 25 persen hingga akhir April 2019 ini.

Bahkan hingga dua pekan awal Ramadhan ini pergerakan penumpang di BIM semakin menurun karena masa low season.

Penumpang di BIM rata-rata per hari hanya 4 ribu orang.

"Sejak Januari-April 2019 terjadi penurunan pendapatan hingga 25 persen dari target yang dicanangkan," ujar Executive General Manager PT Angkasa Pura II (Persero) Cabang BIM Dwi Ananda Wicaksana kepada Kompas.com, Rabu (15/5/2019).

Dwi mengatakan tahun lalu sebelum harga tiket pesawat naik drastis, rata-rata jumlah penumpang di BIM adalah 11 ribu orang per hari, dengan total pesawat terbang sebanyak 84 unit per hari.

Sementara, catatan PT Angkasa Pura II, sampai dengan April lalu, pergerakan penumpang hanya 7 ribu sampai 8 ribu per hari.

''Penurunan angka jumlah penumpang itu sangat besar pengaruhnya terhadap pendapatan BIM secara umum,'' kata Dwi.

Untungnya pihaknya sedikit terbantu dengan penerbangan rute internasional. Di BIM ada tiga penerbangan regular load factor dan beberapa penerbangan untuk umroh.

Kendati demikian, Dwi memperkirakan akan terjadi peningkatan jumlah penumpang saat mudik dan arus balik Lebaran.

Peningkatan itu, dipastikan juga akan meningkatkan pendapatan BIM.

''Biasanya saat mudik dan arus balik jumlah penumpang meningkat seperti tahun lalu. Inilah yang kita harapkan," katanya. 

Hal senada juga dialami bandara di Sumatera Utara. 

Fenomena harga tiket pesawat masih mahal rupanya membawa dampak meluas. 

Satu di antaranya, pengaruh dari harga tiket pesawat masih mahal ke lini bandara udara yang ada di Indonesia.

Seperti halnya, Bandar Udara Internasional atau Bandara Kualanamu di Kabupaten Deli Serdang, Medan, Sumatera Utara.

Kabarnya bandara terbesar ketiga di Indonesia kena ekses harga tiket pesawat masih mahal. 

Hal ini disampaikan, Manager of Branch Communication & Legal Bandara Kualanamu, Wisnu Budi Setianto mengatakan.

Pihaknya mengalami kerugian hingga Rp 2 miliar per bulan atas dampak harga tiket pesawat masih mahal. 

Ilustrasi pesawat terbang
Ilustrasi pesawat terbang ()

Sejak libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, terjadi penurunan jumlah penumpang dan jumlah penerbangan rata-rata mencapai 25 persen.

"Pembatalan penerbangan yang ada lebih disebabkan adanya pengurangan jumlah frekuensi penerbangan oleh Airlines, dan bukan disebabkan adanya pembatalan rute, dan pembatalan didominasi penerbangan ke Jakarta," katanya kepada Kompas.com pada Senin (13/5/2019).

Wisnu mengatakan, sebelum ada fenomena harga tiket pesawat masih mahal, jumlah penumpang di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara mencapai 27.000 per hari.

Namun, saat gejolah harga tiket pesawat masih mahal, rata-rata penumpang menjadi 18.000 per hari.

Dengan jumlah penerbangan sebelum adanya harga tiket pesawat masih mahal, normalnya berkisar antara 230 hingga 235 penerbangan per hari.

Namun, saat ini jumlah penerbangan turun menjadi hanya 160 sampai dengan 175 penerbangan per hari.

Wisnu mengatakan, selain harga tiket yang naik, bagasi berbayar juga menjadi salah satu faktor penurunan jumlah penumpang.

Wisnu menilai, dalam hal tingginya harga tiket, PT Angkasa Pura II tidak dapat berbuat banyak.

Hal tersebut merupakan domain Kementerian Perhubungan.

Namun, untuk menyikapi hal dimaksud, pihaknya berusaha melaksanakan berbagai kegiatan seperti forum group diskusi.

Pesawat terbang dengan latar belakang bulan purnama (supermoon) yang sedang mengalami proses gerhana, Minggu (27/9/2015), di Jenewa, Swiss.
Pesawat terbang dengan latar belakang bulan purnama (supermoon) yang sedang mengalami proses gerhana, Minggu (27/9/2015), di Jenewa, Swiss. (AP PHOTO / JEFF KNOX)

"Mempromosikan rute-rute potensial kepada airlines, dan menggelar berbagai event seperti travel fair, kulinairi fair, otomotive fair dan lainnya," katanya.

Beberapa waktu lalu, Ketua Asosiasi Travel Agen Indonesia atau Astindo, Sumatera Utara, Willy TM Sihombing menanggapi atas fenomena harta tiket pesawat masih mahal.

Dia mengatakan, harga tiket pesawat masih mahal dan tarif bagasi sangat berpengaruh pada penjualan tiket pesawat oleh travel agent.

Kenaikan tarif bagasi seperti yang sekarang ini mengejutkan banyak penumpang sehingga 75 persen penumpang mengurungkan niat untuk membeli tiket pesawat.

"Sekarang ini semua tour and travel agent sangat merasakan dampak tingginya harga tiket. Tidak hanya mengeluhkan, tapi menjerit bahkan demo. Tapi hasilnya ya belum seperti yang diharapkan," katanya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tiket Pesawat Mahal, Bandara Kualanamu Rugi Rp 2 Miliar per Bulan", Dan artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tiket Pesawat Mahal, Pendapatan Bandara Internasional Minangkabau Turun 25  Dan di Kompas.com dengan judul "Maskapai Wajib Turunkan Harga Tiket Pesawat Paling Lambat 18 Mei 2019."

Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved