Begini Dampak Anak jika Orangtua Ajak Anak Nonton Kerusuhan dan Kecelakaan

"Jadi pada dasarnya kita menyukai hal-hal ganjil dan tidak menyenangkan. Tapi dengan menonton, kita bisa menikmati tanpa harus menderita," imbuh dia.

Begini Dampak Anak jika Orangtua Ajak Anak Nonton Kerusuhan dan Kecelakaan
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda
Situasi aksi unjuk rasa terkini pukul 18.30 WIB di depan Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019). 

TRIBUNBATAM.id - Sebelum akses internet dibatasi, banyak foto dan video yang menggambarkan situasi aksi 22 Mei di Jakarta.

Dari sekian banyak foto beredar, beberapa menunjukkan keberadaan anak-anak di lokasi kejadian.

Anak-anak ini sebagian besar berada di dekat orang tua dan tampak seperti sengaja menonton aksi 22 Mei.

Beberapa orang mengkhawatirkan keselamatan anak tersebut dan mempertanyakan mengapa orangtua membiarkan anak menonton situasi genting seperti ini.

Menanggapi fenomena tersebut, Rizqy Amelia Zein seorang dosen psikolog sosial di Universitas Airlangga melihat ada dua fenomena yang perlu disoroti.

Pertama tentang perilaku menonton hal menegangkan dan kedua terkait dampak jangka panjang pada anak-anak yang diajak menonton peristiwa rusuh seperti aksi 22 Mei.

Perempuan yang akrab disapa Amel itu menerangkan, ada seorang psikiater Swiss bernama Carl Jung yang memiliki teori menarik berkaitan dengan kepribadian manusia.

Video Call dengan Anaknya saat Aksi Massa, Anggota Brimob Ini Ditawari Libur ke Bali dengan Keluarga

Jadwal Lengkap Siaran Langsung MotoGp Seri Kelima, Kejutan Baru Dari Jorge Lorenzo

Seperti pernah dibahas dalam artikel sebelumnya, Jung mengungkap bahwa kepribadian manusia terdiri dari beberapa lapisan, di mana lapisan terluar bernama persona dan paling dalam bernama the self.

Di antara lapisan persona dan the self ada lapisan kepribadian bernama anima dan shadow.

Pada elemen shadow inilah yang menjelaskan kenapa manusia tertarik dengan hal-hal ganjil yang mengerikan dan tidak masuk akal, termasuk suka menonton film horor atau film triller, atau suka melihat hal menegangkan secara langsung.

"Misalnya rela pergi jauh untuk bisa selfie di lokasi bencana, jika ada kecelakaan bukannya menolong tapi berhenti untuk menonton, dan termasuk menonton kerusuhan seperti (aksi 22 Mei) kemarin," jelas Amel dihubungi Kompas.com, Kamis (23/5/2019).

Halaman
123
Editor: Zabur Anjasfianto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved