Pembatasan WhatsAPP dan Facebook Dicibir Warga Anambas. "Sinyal Saja Susah"

akses telekomunikasi dan internet di Anambas sudah lama susah diakses. Sehingga, jangan medsos, browsing inteernt pun susah

Pembatasan WhatsAPP dan Facebook Dicibir Warga Anambas.
Net
Ilustrasi jaringan Internet Alami Gangguan 

Laporan Tribunnews Batam, Septyan Mulia Rohman

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - ‎Pembatasan akses ke medsos seperti WhatsApp, instagram hingga facebook oleh Kemenkominfo RI ditanggapi cuek warga pulau pulau di Anambas, Kepulauan Riau.

Sabri, warga Jemaja, Anambas berpendapat, tidak ada perbedaan antara langkah yang dilakukan oleh Menkominfo dalam membatasi akses media sosial dengan tujuan untuk meminimalisir berita bohong tentang peristiwa di ibukota pada tanggal 22 Mei 2019. 

Pemain Persib Achmad Jufriyanto Masuk Daftar Timnas Indonesia, Ini Tindakan Robert Rene Albert

Tips Jual Hape untuk Modal Mudik, Ikuti 5 langkah Ini

Manajemen JNE Kunjungi Tribun Batam, Bahas Kerjasama Hingga Perkembangan Bisnis Logistik

Dicari Anggota Brimob Video Call dengan Anak Seusai Amankan Kericuhan 22 Mei, Gratis Liburan ke Bali

 

"Tidak ada yang berbeda bagi kami. Mau dibatasi atau tidak sama saja,"katanya, Jum'at (24/5/2019).

Sabri mengatakan, akses telekomunikasi dan internet di Anambas sudah lama susah diakses. Sehingga, jangan medsos, browsing internet pun susah.

Akses internet yang saat ini hanya dapat diperoleh pada titik-titik tertentu seperti sekolah dan fasilitas umum lainnya, dinilai kurang layak dalam memenuhi kebutuhan akses telekomunikasi dan internet masyarakat. Terlebih, dengan intensifnya wisatawan mancanegara maupun lokal yang datang ke Jemaja. "Jangankan internet, untuk telpon saja susah. Makanya tadi saya bilang, tidak ada bedanya," ungkapnya. 

Desakan agar layanan telekomunikasi dan akses internet untuk ditingkatkan di Pulau Jemaja pun, diakuinya sudah beberapa kali disampaikan. Mulai dari Pemerintah Daerah, sampai ke beberapa tamu dari Pemerintah Pusat yang datang ke Jemaja. Sejumlah tamu yang datang ke Jemaja, rata-rata mengeluhkan kondisi telekomunikasi dan internet yang ada itu. 

"Baik itu yang mau terus ke Tarempa, atau memang ada kegiatan di Jemaja. Mereka mengatakan sinyalnya anjlok," bebernya. 

Tidak hanya warga di Pulau Jemaja, pembatasan akses untuk media sosial juga dikeluhkan oleh warga Tarempa. Arianto salahseorang warga menyebut, hal yang terjadi di ibukota, justru malah merugikan masyarakat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan aksi tersebut. Layanan ‎akses telekomunikasi yang perlahan namun pasti mulai berstatus 4G pun, kini jadi sia-sia karena pemberlakuan kebijakan ini. 

"Kita yang tak tahu menahu di ibukota itu, jadi kena imbasnya. Baru lah jumpa 4G, tahu-tahu sudah susah diakses ini. Padahal, ini lah salahsatu hiburan. Jelas, langkah yang dilakukan Menteri itu merugikan kami sebagai rakyat," ungkapnya.(tribunbatam.id/septyanmuliarohman)

Penulis : septyanmuliarohman

Editor   : Aminuddin

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Aminnudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved