Terlalu Hebat, Dokter Indonesia Ini Dihukum Mati Pada Jaman Belanda

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan sebuah buku yang ditulis oleh sekelompok dokter Belanda dan sejarawan medis, salah satunya saya sendiri

Terlalu Hebat, Dokter Indonesia Ini Dihukum Mati Pada Jaman Belanda
KITLV, Wik
GedungSchool tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA tampak depan (1920). 

TRIBUNBATAM.id - Dari 1852 hingga 1942, Selama 90 tahun, Jurnal Kedokteran Hindia Belanda (Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indië), merupakan jurnal kedokteran terpenting di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Jurnal tersebut menerbitkan artikel-artikel tentang penelitian dan perawatan medis.

Ramalan Zodiak Jumat 24 Mei 2019 - Gemini Waspada Soal Keuangan, Libra Akan Ada Hari Berat Menanti

Harga HP Smartphone Terbaru 2019 Oppo K3, Punya Kamera Mirip Oppo F11 Pro

Ramalan Zodiak Jumat 24 Mei 2019 - Gemini Waspada Soal Keuangan, Libra Akan Ada Hari Berat Menanti

Ini Hal yang Terjadi Saat Syahrini dan Luna Maya Muncul di Acara yang Sama, Bikin Greget

 

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan sebuah buku yang ditulis oleh sekelompok dokter Belanda dan sejarawan medis, salah satunya saya sendiri, yang memberikan ikhtisar isi jurnal tersebut.

Dokter-dokter Indonesia ini, yang beberapa di antaranya pernah belajar di Belanda untuk pelatihan ilmu kedokteran lanjutan, lalu menjadi para pemimpin dan pembina pendidikan, perawatan, dan penelitian medis di Indonesia. Berikut ini lima dokter pada era kolonial yang paling terkemuka.

Jurnal ini awalnya hanya menerbitkan artikel-artikel dari dokter asal Eropa. Namun pada abad ke-20, sejumlah dokter lulusan dari STOVIA (School ter Opleideing van Inladsche Artsen), sekolah kedokteran bagi penduduk asli Indonesia yang lalu berubah nama menjadi Batavia Medical School, juga menerbitkan artikel di jurnal tersebut.

1. Sardjito

KITLV, Wik
GedungSchool tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA tampak depan (1920).
Sardjito.

Sardjito, rektor pertama dan salah seorang pendiri Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menerbitkan 29 artikel pada Jurnal Kedokteran Hindia Belanda. Ia menulis artikel tentang bakteriologi, kesehatan masyarakat, malaria, leptospirosis, dan kusta, menjelaskan kondisi penyakit yang sering diderita orang Indonesia.

Sardjito lulus dari STOVIA pada 1915 dan menyelesaikan skripsi tentang disentri basiler di Universitas Leiden. Pada 1924, ia meraih gelar Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas John Hopkins Amerika Serikat.

Pada 1930-an, ia menjadi kepala sebuah laboratorium kedokteran di Semarang. Pada masa perang kemerdekaan antara pejuang kemerdekaan Indonesia dan tentara Belanda (1945-1949), ia memindahkan sebagian besar peralatan medis Pasteur Institute di Bandung Jawa Barat ke Klaten Jawa Tengah.

Pasteur Institute pada masa itu adalah pabrik vaksin utama Hindia Belanda. Para pekerjanya meneliti bakteriologi. Ketika pasukan bersenjata Inggris dan Belanda mengambil alih Batavia (sekarang Jakarta), Presiden Sukarno dan wakilnya, Mohammad Hatta, dan hampir semua menteri dan pejabat pemerintahan Indonesia pindah ke Yogyakarta.

Halaman
1234
Editor: Aminnudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved