Mustofa Nahrawardaya Derita Asam Urat, Darah Tinggi, dan Diabetes, Istri Bawakan Obat ke Bareskrim

"Bapak (Mustofa) itu sakitnya ada 3, asam urat, darah tinggi, sama diabet, yang kebetulan kemarin lagi parah itu asam uratnya, makanya enggak bisa jal

Mustofa Nahrawardaya Derita Asam Urat, Darah Tinggi, dan Diabetes, Istri Bawakan Obat ke Bareskrim
KOMPAS.com/Devina Halim
Cathy Ahadianti, istri dari Koordinator Relawan IT Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Mustofa Nahrawardaya, di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Minggu (26/5/2019). 

TRIBUNBATAM.id - Cathy Ahadianti, istri dari Koordinator Relawan IT Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Mustofa Nahrawardaya, membawakan obat untuk sang suami ke Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Minggu (26/5/2019).

Mustofa sedang diperiksa oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, karena diduga melontarkan ujaran kebencian berdasarkan SARA dan/atau menyebarkan hoaks melalui Twitter.

"Ini saya mau bawa obatnya karena beliau masih dalam pengobatan dokter," ungkap Cathy.

Ia menuturkan, Mustofa menderita tiga penyakit, yaitu asam urat, darah tinggi, dan diabetes.

Menurutnya, Mustofa sedang sakit pada 20-24 Mei 2019. Cathy mengatakan, penyakit asam urat sang suami sedang dalam kondisi parah saat itu hingga Mustofa tidak dapat bangun dari tempat tidur.

Mustofa Nahra Tersangka, Sandiaga Uno: Penegakkan Hukum Tidak Hanya Menyasar Kubu Oposisi Saja

Ditangkap Polisi Gara Gara Posting Rusuh 22 Mei, Relawan BPN Mustofa Nahrawardaya Akan Lakukan Ini

Polisi Tangkap Mustofa Nahrawardaya Relawan IT BPN Prabowo Sandi, Kasus Cuitan 22 Mei 2019

Video Viral Andri Bibir, Kasus Berujung Penangkapan Mustofa Nahrawardaya, Relawan IT BPN Prabowo

"Bapak (Mustofa) itu sakitnya ada 3, asam urat, darah tinggi, sama diabet, yang kebetulan kemarin lagi parah itu asam uratnya, makanya enggak bisa jalan beliau, turun dari tempat tidur pun enggak bisa," ungkapnya.

Mustofa sebelumnya ditangkap tim penyidik pada Minggu (26/5/2019) dini hari, di kediamannya, di daerah Bintaro.

Penangkapan tersebut terkait twit Mustofa soal video viral sekelompok anggota Brimob mengeroyok warga di depan Masjid Al Huda Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019). Menurut keterangan polisi, twit Mustofa tidak sesuai fakta.

Dalam cuitannya, Mustofa mengatakan bahwa korban yang dipukuli bernama Harun (15). Ia menyebutkan bahwa Harun dipukuli hingga meninggal dunia.



Berikut cuitan Mustofa seperti dikutip dari akun Twitter-nya yang bernama @AkunTofa:

"Innalillahi-wainnailaihi-raajiuun. Sy dikabari, anak bernama Harun (15) warga Duri Kepa, Kebon Jeruk Jakarta Barat Syahid hari ini. Semoga Almarhum ditempatkan di tempat yg terbaik disisi Allah SWT, Amiiiin YRA".

Namun, informasi mengenai korban berbeda dengan keterangan polisi. Menurut polisi, pria yang dipukuli dalam video itu adalah Andri Bibir. Polisi menangkapnya karena diduga terlibat sebagai salah satu perusuh dan provokator dalam aksi di depan Bawaslu.

Dalam surat penangkapan bernomor SP.Kap/61/V/ 2019/Dittipidsiber, Mustofa dijerat Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Kemudian, dan/atau Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana

Sebelum Bertemu Menteri Perhubungan, Gubernur Mendadak Cek Bongkar Muat di Pelabuhan Pelantar

Tim Prabowo-Sandi Jadikan Berita Media Sebagai Bukti Kecurangan, Ini Tanggapan Sekjen PDIP 

Hasil Akhir Liga 1, Sempat Tertinggal 1-0, PSIS Semarang Taklukan Persija 2-1

Begal Kembali Teror Masyarakat Batam, Istri Pejabat Kepri Jadi Korban

Mustofa Nahra Tersangka, Sandiaga Uno: Penegakkan Hukum Tidak Hanya Menyasar Kubu Oposisi Saja

Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno angkat bicara terkait penetapan tersangka relawan IT Badan Pemenangan Nasional ( BPN) Prabowo-Sandi, Mustofa Nahrawardaya karena dugaan ujaran kebencian.

Menurut Sandiaga Uno dalam menegakkan hukum, aparat seharunya berlaku adil. Artinya penegakkan hukum tidak hanya menyasar kubu oposisi saja.

"Kami ingin hukum itu ditegakkan seadil adilnya dan tidak hanya menyerang kepada oposisi, tapi juga bisa tanpa pandang bulu,"kata Sandiaga di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu, (26/5/2019).

Menurutnya, selama ini masyarakat telah menilai bagaimana kinerja aparat kepolisian. Oleh karena itu dalam kasus Mustofa Nahra, masyarakat akan menilai bagaimana perbedaan perlakukan aparat.

"Masyarakat yang akan melihat, saya sudah mengalami itu dengan sendirinya. masyarakat bisa melihat," katanya.

Hati-Hati Kamera Tersembunyi di Kamar Hotel, Berikut 4 Cara untuk Mendeteksinya

Download Kumpulan Lagu Religi Terbaru di Ramadhan 2019,Ada Wali Band, Nissa Sabyan, hingga Ungu Band

Imbas Tiket Mahal, Penumpang Buru Tiket Kapal di Pelabuhan Sekupang Batam

Malam 21 Ramadhan 1440 H, Berikut Tanda-Tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar

Untuk kasus Mustofa sendiri menurut Sandiaga, kini ditangani tim hukum. Hanya saja ia berharap di bulan ramandan ini, hukum ditegakan seadil-adilnya tanpa ada unsur politis.

"Punggawa punggawa BPN yang bermasalah hukum kami ingin hukum ini tegak seadil adilnya karena buat saya apalagi di bulan suci ramadhan ini sebentar lagi masuk lebaran, mereka aktivis ingin menyuarakan satu perubahan," pungkasnya.

Halaman
1234
Editor: Zabur Anjasfianto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved