Mantan Badan Intelijen Strategis Nilai 2 Cara Atasi Makar: Pisahkan Kivlan atau Balikpapan, Artinya?

Dalam pemaparannya itu, Soleman menegaskan bahwa kasus makar yang sedang ramai sekarang ini tidak bisa dilihat sebagai kasus yang berdiri sendiri.

Mantan Badan Intelijen Strategis Nilai 2 Cara Atasi Makar: Pisahkan Kivlan atau Balikpapan, Artinya?
Capture Youtube Talkshow tvOne
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, Laksda (Purn) Soleman B Pontoh memaparkan pandangannya terkait sejumlah purnawirawan yang terjerat kasus makar. 

TRIBUNBATAM.id - Keterlibatan sejumlah purnawirawan yang terjerat kasus makar mengundang mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Laksda (Purn) Soleman B Pontoh ikut berkomentar.

Komentar Laksda (Purn) Soleman B Pontoh itu disampaikannya  saat menjadi narasumber di program Apa Kabar Indonesia Malam di tvOne, Kamis (30/5/2019) sebagaimana dilansir TribunWow.com.

Dalam pemaparannya itu, Soleman menegaskan bahwa kasus makar yang sedang ramai sekarang ini tidak bisa dilihat sebagai kasus yang berdiri sendiri.

"Tapi ada mulai dari 17 April ya di mana setelah ke sini ada imbauan-imbauan untuk supaya tidak taat aturan kemudian sudah terkumpul orang banyak. Di sini apa yang dilihat? Akan ada orang banyak," kata Soleman.

"Orang banyak ini di situ akan ada di antaranya Pak Kivlan. Sebagai seorang mantan tentara, mantan militer, beliau punya kapabilitas untuk bisa menggerakkan orang-orang ini menjadi militan. Itu otomatis."

"Tentunya yang tidak kita inginkan adalah manusia-manusia yang terkumpul banyak ini menjadi anarkis dan sulit terkendali. Kan itu yang tidak diinginkan."

Soleman lantas menyebutkan, untuk menghindari hal tersebut maka satu-satunya jalan adalah dengan memisahkan Kivlan dari orang-orang tersebut.

Soleman menilai, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk memisahkannya.

"Satu, pisahkan secara hukum," ungkap Soleman Pontoh.

"Kalau dipisahkan secara hukum, maka yang dicari adalah pasal dari undang-undang, pasal dari undang-undang yang bisa membuat orang diambil lalu disimpan itu ya namanya pasal makar."

"Jadi dibilang lah bapak ini melanggar perbuatan pasal makar, supaya dia bisa diambil kemudian ditahan. Di sana baru beliau punya kesempatan untuk membela diri. Apakah benar melaksanakan makar atau tidak," papar Soleman.

Halaman
123
Editor: Thom Limahekin
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved