Minggu, 10 Mei 2026

Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Bung Sjahrir, Simak Sejarah Kata 'Bung' pada Panggilan Tokoh

"Sejak itu untuk pertama kalinya telah lahir sapaan baru untuk pemimpinnya. Soekarno membiarkan dirinya disapa dengan Bung Karno," tulis Her Suganda.

Tayang:
Wikimedia
Pada tahun 2001 lalu, Yayasan Pendidikan Soekarno juga memberikan penghargaan yang sama kepada Kim I 

TRIBUNBATAM.id -  Nama Soekarno merupakan nama yang besar, ia berjasa memproklamasikan Indonesia.

Tak hanya itu, banyak sejarah yang mewarnai Soekarno.

Termasuk, bagaimana Soekarno memulai perjuangannya di Bandung.

Ya, di kota yang berjuluk Parisj van Java inilah, Soekarno memulai pergerakan politiknya.

Di Bandung juga lah nama "Bung Karno" rupanya pertama kali disematkan pada Soekarno.

Sempat Viral, Begini Nasib Anggota TNI yang Pensiun Dini & Peringatkan Komandannya

Cerita Korban Pembakaran 87 Rumah di Buton : Rumahku Dibakar Di Depan Mata, Kami Mau Kemana Lagi?

Nyaris Tak Dikenali, Aktris Jang Hye Jin Rela Gendutkan Badan demi Film Parasite

Menurut buku karya Her Suganda berjudul "Jejak Soekarno di Bandung" terbitan Kompas, Soekarno memimpin Perserikatan Nasional Indonesia di kota kembang.

Perserikatan yang merupakan cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) itu dipimpin oleh Soekarno pertama kali pada 27 Juli 1927.

Soekarno
Soekarno (LIFE)

Di paviliun rumah tinggal Soekarno-Inggit lah pertemuan pengurus pertama PNI digelar.

Runah itu terletak di Regentweg nomor 22.

Seorang Ibu Hamil Nyaris Melahirkan di Lokasi Open House Keluarga Jusuf Kalla

Emak Emak di Pasar Botania Batam Enggak Cerewet Lagi, Harga Santan dan Sayuran Kini Turun Harga

"Pada hari lain, aku dibawa oleh suamiku ke rumah di Regentweg 22, tempat tinggal bersama beberapa teman seperjuangan. Kami berkumpul di pavilyunnya," ujar Inggit Garnasih, dikutip dari buku karya Ramadhan K.H berjudul "Kuantar ke Gerbang-Kisah Cinta Ibu Inggit Garnasih dengan Bung Karno" terbitan Sinar Harapan.

Singkat cerita, Perserikatan Nasional Indonesia semakin besar.

Masih menurut Her Suganda, pergerakan perserikatan itu makin jelas di bawah kepemimpinan Soekarno.

Perserikatan Nasional Indonesia pun berubah jadi Partai Nasional Indonesia atau PNI dalam kongresnya yang pertama di Indonesia pada 27-30 Mei 1928.

"Soekarno hampir tidak menyisihkan waktu lagi untuk kegiatan lain, kecuali melakukan kampanye. Apalagi, setelah terbentuknya PNI cabang Bandung dan cabang-cabang lainnya. Selain sebagai Ketua Pengurus Besar, Soekarno merangkap menjadi Ketua Cabang Bandung," tulis Her Suganda.

PNI cabang Bandung diresmikan di Bioskop Elita.

Bioskop itu terletak di sebelah timur alun-alun.

Presiden RI Soekarno saat bertemu Marilyn Monroe dalam sebuah pesta di Hollywood, Mei 1956.
Presiden RI Soekarno saat bertemu Marilyn Monroe dalam sebuah pesta di Hollywood, Mei 1956. (ISTIMEWA)

Sejak itulah pergerakan PNI sebagai partai di Bandung semakin gencar.

Bandung yang merupakan tempat tinggalnya akhirnya jadi basis utama PNI.

"Ia membagi wilayah PNI cabang Bandung dalam enak wilayah politik, yakni Bandung utara, selatan, timur barat, hingga Bandung tengah dan sekitarnya," tulis Her Suganda.

Soekarno terus berkeliling di wilayah Bandung.

Inggit bahkan melukiskan kegiatan suaminya, Soekarno sebagai "kincir".

"Kami tidak berhenti berkeliling. Dari Cigolenteng ke Sukapasir. Dari Bojonggede ke Ujungberung di timur, terus ke Cisondari di Ciwidey," kata Inggit Garnasih.

Soekarno, di tempat-tempat itu rupanya menyampaikan pendidikan politik untuk kader-kader PNI.

Dalam pendidikan politik itulah, Soekarno kerap menggunakan Bahasa Sunda.

Kemampuan Bahasa Sunda rupanya dipelajari dari istrinya, Inggit Garnasih dan Ny. Suwarsih, istri sahabatnya guru di Perguruan Taman Siswa Bandung, Sugondo Djojopuspito.

"Jika ada pertanyaan yang tidak dimengerti, ia (Soekarno) segera menoleh dan meminta bantuan pada istrinya yang menjadi penerjemah," tulis Her Suganda.

Apa yang dilakukan Soekarno ternyata tak sia-sia.

Tak sedikit masyarakat Sunda di Bandung mengagumi cara Soekarno menyampaikan gagasannya.

Presiden pertama RI, Soekarno, saat menangis di makam Jenderal Ahmad Yani
Presiden pertama RI, Soekarno, saat menangis di makam Jenderal Ahmad Yani (ist/dok.Sekretariat Negara RI via Tribunnews)

Para pendukungnya merasa akrab dan dekat lantaran Soekarno kerap menggunakan Bahasa Sunda.

Hingga akhirnya, para pendukungnya itu tak lagi memanggil Soekarno dengan sebutan Ir Soekarno.

"Sejak itu untuk pertama kalinya telah lahir sapaan baru untuk pemimpinnya. Soekarno membiarkan dirinya disapa dengan Bung Karno," tulis Her Suganda.

Sapaan "Bung" ternyata menunjukkan keakraban dan kedekatan hubungan psikologis.

Menurut KBBI, "Bung" memang berarti sapaan akrab kepada seorang lelaki, atau yang sederajat dengan "abang".

"Sapaan ini segera saja menjadi populer sehingga diikuti untuk tokoh-tokoh lainnya seperti Bung Hatta, Bung Tomo, dan lainnya," tulis Her Suganda.

Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Jarang Diketahui, Sapaan 'Bung Karno' Ternyata Didapat Soekarno Saat di Bandung, Begini Kisahnya, http://jabar.tribunnews.com/2019/06/06/jarang-diketahui-sapaan-bung-karno-ternyata-didapat-soekarno-saat-di-bandung-begini-kisahnya?page=all.
Penulis: Yongky Yulius
Editor: Widia Lestari

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved