Ir Soekarno Lahir pada 6 Juni, Wafat di Pangkuan Istri Ke-4 ketika Ucapkan Satu Kata Haru Ini

Ir Soekarno menjadi tokoh pahlawan yang begitu fenomenal dan menorehkan sejarah luar biasa pada bangsa.

Ir Soekarno Lahir pada 6 Juni, Wafat di Pangkuan Istri Ke-4 ketika Ucapkan Satu Kata Haru Ini
Tribun News
Usianya Hampir 80 Tahun, Kedelai Jadi Rahasia Awet Muda Istri Tercantik Presiden Soekarno Ini 

TRIBUNBATAM.id - Hari ulang tahun Ir Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia jatuh pada 6 Juni. 

Selama masa hidupnya Ir Soekarno selalu dikenal bahkan sampai ke luar negeri.

 

 

Ir Soekarno menjadi tokoh pahlawan yang begitu fenomenal dan menorehkan sejarah luar biasa pada bangsa. 

Kehidupannya pun hingga saat ini tak pernah henti menjadi sorotan. 

Terlebih lagi sosoknya yang memiliki sembilan istri. 

Kharismatik dirinya memang tak bisa dimungkuri. 

Membuat wanita manapun yang melihatnya akan terpincut. 

Susi Pudjiastuti Masih Mau Masuk Kabinet jika Ditawari Jokowi, Namun Dia Punya Satu Permintaan Ini

Mau Tahu Penampilan Selvi Ananda, Menantu Presiden Jokowi Mengenakan Mukena?

Setelah Ivan Kolev Hengkang, Ini Pelatih yang Berpotensi Tukangi Persija Jakarta

Soal Silaturahmi AHY dan Ibas dengan Keluarga Megawati, Ketua DPP Demokrat: Senyum Bu Megawati Mahal

Begini awal kehidupan Soekarno kecil.

Dilansir dari wikipedia, ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Kusno oleh orangtuanya.

Namun karena dia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.

Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna.

Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".

Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). 

Dia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah, selain itu tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun.

Sebutan akrab untuk Soekarno adalah Bung Karno. 

Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai arsitek alumni dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1926. 

Sakit dan Meninggal
Sebagai seorang proklamator, Soekarno rupanya justru tidak mendapatkan perlakuan istimewa di akhir hidupnya.

Pengasingan di Wisma Yaso justru harus diterima oleh Soekarno di masa akhir jabatannya.

Bahkan, saat mulai sakit-sakitan Soekarno juga masih harus mendapatkan pengawasan ketat.

Tidak hanya itu, menurut buku "Soekarno Poenja Tjerita" yang diterbitkan tahun 2016, pihak keluarga juga dipersulit saat akan menjenguk Soekarno.

Sejumlah alat penyadap pun dipasang di setiap sudut rumah.

"Rupanya singa tua yang sakit-sakitan dalam sangkar berlapis ini masih menakutkan bagi Jenderal Soeharto," tulis buku itu.

Puncaknya, saat Soekarno dilarikan dari Wisma Yaso pada 16 Juni 1970.

Saat itu Soekarno sudah berada dalam kondisi sekarat.

Soekarno ditempatkan dalam sepetak kamar yang berpenjagaan berlapis di lorong rumah sakit.

Kondisi Soekarno kala itu terus memburuk.

Bahkan, pada 20 Juni 1970, tepatnya pukul 20.30 WIB, kesadaran Soekarno menurun.

Selanjutnya, Soekarno pun mengalami koma.

Mahar Mardjono, dokter yang menangani Soekarno tampaknya sudah mahfum apa yang sedang terjadi.

Mahar kemudian menghubungi anak-anak Soekarno.

Mereka pun berkumpul di RSPAD Gatot Soebroto tempat Soekarno dirawat pada Minggu, 21 Juni 1970, pukul 06.30 WIB.

Mereka yang datang saat itu adalah Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh dan Rachmawati.

Pukul 07.00 WIB, dokter Mahar membuka pintu kamar.

Anak-anak Soekarno masuk ke kamar perawatan dan mengajukan sejumlah pertanyaan ke dokter Mahar.

Meski demikian, dokter Mahar tak menjawabnya.

Dia hanya menggelengkan kepala.

Beberapa saat kemudian, suster mencabut selang makanan, dan alat bantu pernapasan.

Anak-anak Soekarno kemudian mengucapkan takbir.

Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga Soekarno.

Soekarno yang masih bisa mendengar ucapan Megawati, berusaha mengikutinya.

Namun, kalimat yang diucapkan Soekarno tak selesai.

Soekarno hanya mampu mengucapkan "Allah".

"Allaaah...," ucap Soekarno lirih seiring napasnya yang terakhir.

Tangis keluarga pun pecah.

Soekarno meninggal pada pukul 07.07 WIB.

Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965.

Sebelumnya, dia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964.

Prof Dr K Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat, tetapi dia menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional. 

Dia bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik.

Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh Ratna Sari Dewi.

Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan.

Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof Dr Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati.

Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:

Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.

Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Soekarno berada dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.

Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Soekarno hingga saat meninggalnya.

Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno.

Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970.

Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.

Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara.

Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.

Dilansir dari Wartakota.live, satu kisah yang paling banyak diulas hingga saat ini adalah mengenai istri-istri Bung Karno yang tercatat mencapai 9 orang.

Mulai dari Fatmawati hingga Heldy Djafat, mereka memilih menjadi istri Soekarno lewat berbagai latar belakang kisah asmara.

Proklamator Kemerdekaan tersebut memang dikenal sebagai sosok yang berwibawa dan kharismatik, tak heran jika mulai dari Fatmawati hingga Ratna Sari Dewi memutuskan menjadi istri Soekarno.

Setiap kisah cintanya tentu memiliki keunikan tersendiri.

Masing-masing istri Soekarno tersebut memiliki pesona yang berbeda dari wanita lainnya.

Seperti apa potret cantik dan kisah cinta istri-istri presiden Soekarno?

1. Oetari Tjokroaminoto

Putri HOS Tjokroaminoto ini menjadi wanita pertama yang dinikahi Soekarno.

Soekarno dan Oetari menikah tahun 1921 di Surabaya.

Soekarno menikahi Oetari hanya untuk meringankan beban keluarga Tjokro.

Bisa dibilang, pernikahan ini terjadi tanpa cinta karena keduanya lebih akrab seperti sepasang kakak adik.

Dilansir dari Kompas.com, selama menikah, Soekarno tak pernah 'menyentuh' Oetari sama sekali.

Soekarno menceraikan Oetari tak lama setelah kuliah di Bandung.

2. Inggit Garnasih

Kisah cinta beda usia juga pernah dialami Soekarno.

Kala itu tahun 1921, Soekarno tinggal di kos-kosan milik Inggit Garnasih di Bandung.

Soekarno berusia 20 tahun dan Inggit berusia 33 tahun.

Soekarno merebut Inggit yang saat itu masih berstatus sebagai istri Haji Sanusi dan mereka menikah tahun 1923.

Pernikahan Soekarno dan Inggit tidak dikaruniai anak.

Tahun 1943, Soekarno menceraikan Inggit karena sang istri tak sudi dimadu.

3. Fatmawati

Kisah cinta Soekarno dan Fatmawati bermula saat masa pembuangan Soekarno di Bengkulu.

Hubungan inilah yang kemudian membuat pernikahan Soekarno dengan Inggit Garnasih berakhir lantaran Inggit tak mau dipoligami.

Di tahun yang sama saat perceraiannya dengan Inggit, Soekarno menikahi Fatmawati yang juga menjadi ibu negara pertama RI.

Soekarno berusia 42 tahun dan Fatma 20 tahun.

Dia juga yang menjahit bendera pusaka merah putih.

Dari Fatmawati, Soekarno mendapatkan lima orang anak, antara lain, Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

4. Hartini

Pernikahan Soekarno dan Hartini diawali pertemuan di Candi Prambanan, Jawa Tengah saat Soekarno sedang kunjungan kerja.

Soekarno meminang Hartini pada 1953 saat Hartini berumur 29 tahun dan berstatus janda lima anak.

Dari Soekarno, Hartini melahirkan dua anak, yakni Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra.

Hartini tetap mempertahankan status pernikahan meski Soekarno menikah lagi dengan beberapa wanita hingga ajal menjemput Soekarno.

Dilansir Grid.ID dari Tribunnews, di pangkuan Hartini lah, Soekarno mengembuskan napas terakhirnya di RS Gatot Subroto pada 21 Juni 1970.

5. Ratna Sari Dewi

Ratna Sari Dewi lahir dengan nama Naoko Nemoto di Tokyo, Jepang, 6 Februari 1940.

Ratna Sari Dewi dinikahi sang proklamator saat usia 19 tahun sebagai wanita ke lima yang dinikahi Soekarno.

Dari Soekarno, Dewi mempunyai satu anak yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno.

Gadis Jepang itu berkenalan dengan Soekarno lewat seseorang ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo.

Sebelum menjadi istri Soekarno, Dewi adalah seorang pelajar sekaligus entertainer.

Dalam 'A Life in the Day of Madame Dewi' diceritakan, setelah bercerai dengan Soekarno, Dewi kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk Swiss, Perancis, dan Amerika Serikat.

Pada 2008, dia menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang.

6. Haryati

Sebelum dinikahi Soekarno pada 1963, Haryati adalah mantan penari istana sekaligus Staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian.

Karena pekerjaannya itulah, Haryati dekat dengan sang proklamator.

Soekarno tak henti mengirim rayuan kepada wanita berusia 23 tahun itu hingga Haryati menerima pinangan sang kepala negara.

Soekarno dan Haryati akhirnya menikah pada 21 Mei 1963.

Namun selang tiga tahun, Haryati diceraikan dengan alasan Soekarno merasa sudah tidak cocok.

7. Kartini Manoppo

Kartini Manoppo dan Soekarno menikah pada 1959.

Keduanya dikarunia anak Totok Suryawan Sukarno pada 1967.

Awal mula Bung Karno jatuh hati pada wanita yang pernah jadi pramugari Garuda Indonesia itu saat melihat lukisan karya Basuki Abdullah.

Sejak saat itu, Kartini tak pernah absen tiap kali Bung Karno pergi ke luar negeri.

Dia terlahir dari keluarga terhormat, sehingga Kartini menutup rapat-rapat pernikahannya dengan Bung Karno.

8. Yurike Sanger

Pertama kali Presiden Soekarno bertemu dengan Yurike Sanger pada tahun 1963.

Kala itu Yurike masih yang masih berstatus pelajar menjadi salah satu anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika pada acara Kenegaraan.

Perhatian ekstra diberikan sang presiden kepada Yurike, mulai dari diajak bicara, duduk berdampingan sampai diantar pulang ke rumah.

Pada 6 Agustus 1964, keduanya menikah secara Islam di rumah Yurike.

Dilansir Grid.ID dari Bangka Pos, kondisi Bung Karno pada 1967 yang secara de facto dimakzulkan sebagai presiden, berdampak pada kehidupan pribadi.

Didasari rasa cinta yang luar biasa, Bung Karno yang menjadi tahanan rumah di Wisma Yoso menyarankan agar Yurike meminta cerai.

Akhirnya perceraian itu terjadi, meski keduanya masih saling cinta.

9. Heldy Djafar

Heldy Djafar merupakan istri ke-9 atau istri terakhir Soekarno.

Keduanya menikah pada 1966, Bung Karno berusia 65 tahun, sedangkan Heldy masih berusia 18 tahun.

Pernikahan keduanya hanya bertahan dua tahun.

Komunikasi tak berjalan lancar setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto.

Heldy sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Soekarno bertahan. Soekarno hanya ingin dipisahkan oleh maut.

Akhirnya, pada 19 Juni 1968 Heldy yang berusia 21 tahun menikah lagi dengan Gusti Suriansyah Noor.

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul TRIBUNWIKI: 6 Juni Kelahiran Soekarno, Begini Perjalanan Hidupnya dengan 9 Istri

Editor: Thom Limahekin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved