Sosok Ini Sebut Demokrat Panik Karena Usulkan Pembubaran Partai Koalisi Jokowi dan Prabowo

Partai Demokrat serukan pembubaran koalisi baik di kubu Jokowi maupun Prabowo dinilai sebuah bentuk kepanikan.

Sosok Ini Sebut Demokrat Panik Karena Usulkan Pembubaran Partai Koalisi Jokowi dan Prabowo
Tribunstyle.com/ Source: Facebook Capres Cawapres 2019
Pilpres Jokowi vs Prabowo 

TRIBUNBATAM.id - Partai Demokrat serukan pembubaran koalisi baik di kubu Jokowi maupun Prabowo dinilai sebuah bentuk kepanikan. 

Ketua Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma'ruf Amin Jawa Barat, Dedi Mulyadi menilai Partai Demokrat mulai bingung dengan dirinya sendiri.

"Wacana pembubaran koalisi itu merupakan kebingungan dari sebuah partai politik dalam membangun identitas dirinya, siapa dia dan berada di mana," kata Dedi kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (10/6/2019).

Dedi mengatakan, permanen atau tidaknya koalisi itu tergantung kepentingan para pihak.

Alasan Demokrat yang Sempat Sarankan Prabowo Tak Pilih Sandiaga Uno Sebagai Pendamping Pilpres 2019

Ketua DPP Demokrat Jujur: Karena Dukung Prabowo-Sandiaga, Dia Dibenci Orang Sekampung. Ini Ceritanya

Dulu, kata dia, pada zaman pemerintahan SBY, koalisi bersifat permanen, yaitu ada partai oposisi yang berada di luar pemerintah dan ada partai pendukung pemerintah.

Kemudian ada partai yang diajak masuk koalisi.

"Misalnya ketika Pak SBY memimpin, Golkar sebelumnya di luar pemerintah, tapi ada kepentingan dari pemerintah untuk memperkuat jajaran pemerintahan, Golkar masuk ke pemerintahan," kata ketua DPD Golkar Jawa Barat ini.

Lanjut Dedi, proses masuknya Golkar ke pemerintahan cukup panjang, yaitu melalui perebutan kepemimpinan Partai Golkar dari Akbar Tanjung ke Jusuf Kalla yang waktu itu menjadi wakil presiden.

Kemudian pada fase kedua pemerintahan SBY, Golkar kembali masuk ke lingkungan kekuasaan melalui perubahan kepemimpinan di tubuh partai, yakni dari Jusuf Kalla digeser ke Aburizal Bakrie yang notabane mitra dari SBY dalam pemerintah.

"Jadi, proses masuknya Golkar itu dikehendaki oleh kekuasaan melalui perubahan kepemimpinan kepartaian," jelas Dedi.

Halaman
12
Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved